Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 101


__ADS_3

Elvan dan Vada juga bergegas ke rumah sakit. Sementara Asisten rio lanhsung ke rumah duka guna menyiapkan oemakaman sesuai perintah elvan. Sesampinya dinrumah sakiy, Elvan langsung berlari menuju ruanh rawat mbok Darmi. Vada yang masih shock karena tiba-tiba di bangunkan oleh sang suami dan di beritahu jika mbok Darmi meninggal, tak bisa menyamai langkah kaki panjang Elvan.


Brugh!


"Aw! Maaf, saya buru-buru, tidak sengaja!" ucap Vada yang kini sudah terduduk di lantai seraya meringis. Karena buru-buru dan berusaha mengejar Elvan Vada menabrak brankar pasien yang di dorong oleh dua orang perawat, sepertinya nasien korban kecelakaan yang baru saja tiba. Mereka bahkan tak menyahut permintamaafan Vada karena sepertinya mereka juga buru-buru karena kondisi darurat.


Elvan yang mendengar pekikan sang istri langsung berhenti lalu menoleh, di lihatnya Vada masih terduduk di lantai dan sedang berusaha bangun.


Elvan merutuki dirinya sendiri karena melupakan istrinya yang pasti sejak tadi kesusahan mengejarnya. Ia langsung berlari, mendekati Vada dan membantunya berdiri, Maaf, abang sampai mengabaikan keberadaanmu, sayang. Apa ada yang sakit?" tanya Elvan.


Vada tersenyum dan berkata," Tidak apa-apa, Bang. Ayo!" Vada menggandeng lengan suaminya dan kali ini Elvan berjalan tak secepat tadi meski sebenarnya hatinya begitu tak sabar ingin segera sampai ke lantai enam tempat dimana mbok Darmi berada.


🌼🌼🌼


Langkah kaki Elvan berhenti tepat di ruangan dimana mbok Darmi di rawat. Rasanya begitu berat kakinya melangkah melihat mbok Darmi yang sudah di tutup dengan kain putih. Kang Parman dan Parmin yang sejak tadi melantunkan ayat suci al-quran di dekat jasad mbok Darmi yang memang tak di pindahkan ke ruang jenazah, menoleh kearah Elvan. Mereka lalu berdiri dalam diam.


Vada memeluk lengan Elvan, "Ayo bang, masuk. Mbok Darmi sudah menunggu," ucap Vada lirih berusah menahan air matanya.


Dengan langkah pelan, Elvan masuk ke dalam. Dengan tangan gemetar, dibukanya kain yang menutupi seluruh tubuh mbok Darmi, "Maafin Elvan, mbok," gumamnya lirih seraya terus menahan rasa sesaknya. Ia merasa gagal menyelamatkan mbok Darmi karena ternyata Tuhan tetap mengambilnya.


Elvan menatap kang Parman, "Bagaimana bisa terjadi? Tadi sebelum saya pulang, simbok baik-baik saja, bahkan dia merespon saat aku pamit ..." ucapnya lirih.


"Setelah tuan pulang, simbok kondisinya ngedrop. Dokter sudah berusaha melakukan yang terbaik, dan kondisinya sempat membaik, tapi jam sebelas lebih kondisi simbok kembaki drop dan semakin memburuk dari sebelumnya. Dan sekitar jam dua belas tadi simbok mengembuskan napas terkahirnya


... Mungkin benar simbok bertahan karena menunggu tuan, dan kondisinya yang sempat sadar membaik karena dia ingin medhot tresno dengan kita yang masih hidup," tutur kang Parman dengan wajah sedih. Pria itu tampak lebih tegar dan legowo dari pada Elvan yang terlihat jelas rasa kehilangannya.


Elvan kembali membuka kain penutup wajah mbok Darmi, wanita itu terlihat memejamkan matanya dengan tenang, bahkan lebih terlihat seperti orang tidur.


Bayangan dimana mbok darmi selalu sabar menghadapi kenakalannya dulu, membuat Elvan mengepalkan tangannya kuat, "Maaf, dulu Elvan selalu buat mbok pusing dengan kelakuan Elvan, maaf Elvan belum bisa membalas kebaikan simbok," ucap Elvan dalam hati.


Vada mendekati, "Maafin segala salah Vada Elvan ya, mbok," gumam Vada. Ia tak tahu lagi harus bicara apa, sedih dan merasa kehilngan sudah pastiia rasakn meskibtak sebesar yang di rasakan oleh suaminya, namun yang bisa ia dan Elvan lakukan sekarang adalah ikhlas melepaskan, agar mbok Darmi tenang di alam sana.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera membawa jenazah simbok pulang, biar bisa di urus secepatnya prose pemakamannya," ucap Elvan kemudian.


🌼 🌼 🌼


Proses pemakaman mbok Darmi sudah selasai beberapa jam yang lalu. Sebenarnya Elvan berniat langsung kembali ke Jakarta setelah ia mengantarkan jenazah mbok Darmi ke peristirahatannya yang terakhir. Namun, Vada merengek meminta untuk tinggal beberapa hari lagi karena ia merasa betah dan suka dengan suasana di sana yang begitu tenang dan damai. Tentu saja Elvan tak bisa menolaknya.


"Baiklah, kita akan di sini beberapa hari lahi, tapi dengan syarat kita menginap di hotel, abang tidak bisa menginap di sini," putus Elvan kemudian.


"Baiklah, anggap. Saja kita sekalian honeymoon, Bang," sahut Vada senang.


Elvan mengernyit, "Honeymoon? Di sini?" tanyanya tak percaya. Bukannya meminta honeymoon di luar negeri, ia bisa mengabulkan kemanapun Vada mau, tapi wanita itu justru memilih desa mbok Darmi.


Ya memang tempat tinggal mbok Darmi merupakan desa wisata yang sering di kunjungi oleh wisatawan asing, tapi Elvan merasa aneh saja mendengar Vada mengajak honeymoon disana.


Dan tak di sangka, ternyata tak jauh dari rumah mbok Darmi, ada hotel bintang lima dengan fasilitas mewah yang membuat Elvan cukup terkejut. Ia pikir Rio akan menyewakan kamar di hotel kecil atau salah satu penginapan yang sering ia jumpai sepanjang jalan menuju rumah mbok Darmi tersebut.


"Bagus juga Pemandangannya!" seru Vada saat membuka jendela kamarnya. Elvan segera datang mendekat lalu melingkarkan tangannya di perut Vada.


"Kau suka?" tanya Elvan seraya menyingkirkan rambut Vada yang menutupi lehernya, lalu mengendusnya. Aroma tubuh sang istri mampu membuatnya merasa sedikit lebih tenang dan rileks.


"Sebenarnya aku lebih suka jika menginap di tempat mbok Darmi atau menginap di penginapan yang berada di rumah warga, apa namanya....." Vada mendadak ngeblank karena tangan Elvan sudah bermain di dadanya.


"Home stay, sayang," ucap Elvan mengingatkan.


"Oh iya, home stay. Enak kayaknya menginap di home stay, bisa berbaur dengan warga sekitar," ucap Vada yang sedikit kecewa dengan pilihan asisten suminya tersebut.


"Emang ya, si Rio itu tidak pernah mengerti apa yang aku mau, atau dia sengaja?" gerutu Vada kemudian.


Elvan terkekeh mendengarnya, "Justru di sangat pengertian, sayang. Karena kalau di rumah warga, kau tidak akan bebas mende sahnya, katanya mau honeymoon?" bisik Elvan. Padahal itu hanya akalan Vada saja yang masih ingin tinggal di sana. Kalau soal honeymoon, bukannya mereka sering melakukannya. Tapi, tak ada salahnya juga sih honeymoon di hotel, biasanya kan hanya di mansion atau apartemen, pikir Vada senyum senyum sendiri.


"Kenapa?" tanya Elvan bingung menatap istrinya.

__ADS_1


"Tangan abang nakal!" Vada pura-pura menepis tangan suaminya yang masih setia melintir sesuatu di dadanya.


Elvan tersenyum tipis lalu melepas tangannya dan Vada justru sedikit kecewa karena tafi ianhanya bercanda.


Elvan mengembuskan napasnya kasar seraya menjatuhkan dagunya di pundak Vada.


"Abang serasa masih tak percaya, simbok udah pergi..." ucapnya lirih.


"Mbok Darmi sudah tenang di sana. Udah nggak merasakan sakit lagi. Sekarang kita hanya perlu ikhlas dan mendoakannya.," Vada memutar badannya hingga menghadap Elvan.


Entahlah, rasanya masih mengganjal di hati Elvan. Pasalnya mbok Darmi satu-satunya yang selalu berada di sisinya selama ini sebelum Vada hadir dalam hidupnya. Dan sekarang, ia benar-benar merasa kehilangan.


"abang tidak sendiri, masih ada aku, ada orang tua abang juga, meski mereka tak di sini, tapi aku yakin mereka selalu mendoakan abang dari sana," ucap Vada lembut. Sejujurnya ia sangat ingin bertemu kedua mertuanya.


"Mereka egois, ayahku penghianat, tukang selingkuh, dan ibuku... Dia memilih meningalkanku demi pria yang sudah menyelingkuhinya. Mbok Darmi satu-satunya yang aku punya..."


"Itu hanya kisah masa lalu , dan mungkin ayah mertuaku sudah berubah sekarang. Setiap orang memiliki masa lalu baik maupun buruk dan juga memiliki kesempatan untuk berubah. Dan bukanya tugas ibu memang harusnya mengurus suaminya?


"Dengan mengabaikan putranya sendiri? Apa ibu yang baik? Apa di benarkan sikapnya itu?"


"Mereka yang tidak peduli, atau abang yang tidak mau di pedulikan oleh mereka?"


Elvan terdiam, memang benar ia yang selalu menolak perhatian yang ayahnya berikan setelah ia tahu perselingkuhan ayahnya waktu itu, terlebih jika ia ingat pria itu memiliki anak dengan wanita lain . Bahkan ia ikut menyalahkan ibunya yang memilih bertahan di sisi sang ayah yang menurutnya seorang penghianat tersebut.


Memikirkannya, membuat Elvan semakin pusing.


"Memaafkan itu jauh lebih indah, abang. Di sini akan lebih tenang," Vada mengusap dada bidang Elvan.


"Mumpung kedua orang tua abang masih ada, jika sudah pergi seperti mbok Darmi, Kita hanya bisa mendoakannya tanpa bisa bertemu. Sepertiku yang sejak kecil tinggal di panti asuhan, tak tahu siapa kedua orang tuaku. Betapa beruntungnya abang yang masih orang tua lengkap," lanjut Vada. Ia menjatuhkan kepalanya di dada Elvan.


Elvan langsung mengecup puncak kepala sang istri berkali-kali. Ia paham bagaimana sedihnya Vada yang sejak kecil sebatang kara.

__ADS_1


__ADS_2