
" Hiks, hiks hiks". Tika menangis histeris meratapi nasibnya, Leo mengacak rambutnya meluapkan amarahnya.
" Sial, apa yang telah kulakukan dan apa yang harus ku katakan pada Nia" kata Leo dengan lirihnya.
" Kak lupakan saja semuanya anggap saja ini semua kesalahan, apalagi kakak hanya menolongku dari kedinginan" kata Tika, tersenyum pahit.
" Ini bukan salahmu Tika, tapi aku yang salah" kata Leo. " Kak sebaiknya kita pergi dari sini, mereka pasti mencari kita kak ini juga salahku" kata Tika.
Mereka bersiap untuk keluar dari hutan dan mencari bantuan
Hotel
Tok, tok, tok.
Nia tersenyum melihat papi sudah ada di depan pintu kamarnya.
" Sayang ayo kita pergi sekarang" ajak papi Primus, Nia tersenyum dan mengikuti langkah pspi Primus ke lokasi.
" Papi Nia hubungi Lila, bertanya posisinya" kata Nia, papi Primus menanggukan kepalanya. Kemudia Nia mendapatkan kabar darinya segera beritahu pada supir.
Di tempat Tedi dan Lia bersiap untuk melanjutkan pencarian Leo dan Tika, mereka merencana mencari mereka ke hutan.
" Maaf pak bisa tunggu sebentar soalnya nona saya yaitu istri tuan Leo sedang dalam perjalanan kesini" kata Lia.
" Baik nona kita akan menungguny as sebentar" pak kepala desa, mengatur rencana.
__ADS_1
Tin, tin, tin
Terdengar suara mobil masuk mereka ergi keluar untuk melihat siapa ysng datang pagi hari.
" Nona, tuan besar" kata Lia, memberi hormat pada keduanya. " Nona, tuan besar ini kepala desa di sini yang ikut mencari nona Tuka dan tuan Leo, nona, tuan besae" kata Lia, memperkenalkan mereka.
" Lia apa sudah ada pertunjuk tentang mereka" kata tuan Primus. " Belum ada tuan tadi malam cuaca buruk jadi pencarian kami hentikan, rencabanya kami akan menelusuri hutan" kata pak kepala desa.
" Papi, hiks hiks hiks. Mas Leo pi" kata Nia, menangis dalam pelukan papi Primus. Papi Primus menenangkan putrinya.
Tedi belun memberi kabar pada Sarah Alexanders mami dari Leo, saat ini dia berada di jerman dan Tedi takut memberitahunya.
Mereka menuju ke hutan untuk mencari keberadaan Leo dan Tika, Papi Primus juga menghubungi tim sar untuk membantu pencarian.
" Tolong, tolong" teriak Leo, dengan nafas yang yang ngosngosan. " Kak bisa kita istirahat sebentar kakiku tak sangggup untuk berjalan lebih jauh lagi" kata Tika, meminjat lutut kakinya.
Leo melihat sekitar terlihat pohon yang besar yang dapat di jadikan tempat istirahat.
" Tika sebaiknya kita istirahat di sana, kamu bisa jalan sendiri " kata Leo, menunjuk sebuah pohon tak jauh dari mereka.
" Tika bisa sendiri kak, ayo" kata Tika, Leo menanggukan kepalanya tanpa melihat Tika ketika mereka bicara.
Mereka bersandar pada pohon untuk melepas rasa lelah yang mereka rasakan.
" Tuan Leo"
__ADS_1
" Nona Tika"
Tedi dan Lia berteriak memanggil bos mereka diikuti dengan lainnya.
" Pak Leo"
" Leo"
" Nona Tika"
" Mas Leo"
"Tika".
Mereka terus memasuki hutan memanggil Leo dan Tika.
" Pi dimana mereka tadi kita berteriak tapi belum juga bertemu" kata Nia, sedih. " Tenanglah nak kita pasti bertemu dengan mereka" kata papi Primus.
" Sebenarnya apa yang terjadi bukankah kalian mengurus masalah proyek disini, sekarang kenapa bisa terjadi seperti ini" kata papi Primus, menatap Tedi dan Lia secara tajam.
" Kami tak tahu yang terjadi tuan, kami terpisah ketika tuan Leo dan nona Tika akan istirahat makan siang. Setelah itu mereka tak ada labar lagi" kata Tedi.
" Jangan mereka menemukan sesuatu atau sudah mengetahui apa yang menjadi penyebab masalah ini terjadi" kata papi Primus.
Pernyataan dari papi Primus membuat terkejut kenapa mereka tak menyadari akan hal ini.
__ADS_1