
" Astagfirrah" Orang tua Nia terkejut mendengar bahwa putrinya terkena gangguan mental, mami Yulia menangis dalam pelukan suaminya.
" Papi kenapa harus putriku yang alaminya sedangkan mereka bahagia atas semuanya, tidak aku tak terima semua ini mereka harus menerima akibatnya yang dilakukannya pada putriku. Papi lihat sendiri dia hanya memanggil putrinya padahal putrinya ada di hadapannya" kata mami Yulia memukul dada suaminya sambil menangis.
Dokter Indira mendekati mami Yulia dia mengelus punggungnya.
" Nyonya saya memang tidak tahu bagaimana perasaanmu karena aku tak memiliki seorang putri, tapi sebagai seorang ibu aku bisa merasakan penderitaanmu yang kita lakukan adalah sama-sama berjuang dalam pengobatan ini" dokter Indira tersenyum, mami Yulia mengucapkan terima kasih dan memeluk dokter Indira.
Papi Primus dan dokter Ricky tersenyum melihat dua ibu saling mengerti.
" Terima kasih dok, terus apa yang harus kita lakukan dok? " papi Primus. " Kita bisa melakukan beberapa kerangka pengobatan untuk pasien" kata dokter Indira.
Saat membicarakan pengobatan yang akan di terima oleh Nia, tiba saja suster masuk dengan ketakutan.
" Dokter" suster dengan pucat, mereka terkejut dan menghampirinya. " Suster apa yang telah terjadi? " Dokter Ricky.
" Itu dokter pasien di ruang rawat yang dijaga secara intens berhasil kabur karena suster yang ditugaskan memberikan makan lupa menutupnya, sekarang dia histeris" kata dokter.
__ADS_1
mami Yulia dan papi Primus mendengar putrinya histeris segera menemuinya.
" Suster katakan pada petugas jangan ada yang mendekatinya dan minta lainnya menjaga pasien lainnya" kata dokter Ricky.
" Baik dok kalau begitu saya pamit dulu" kata suster, dokter Indira mengikuti langkah dokter Ricky.
" Mami jaga Green jangan biarkan dia melihat maminya seperti ini" kata papi Primus menghentikan langkahnya di depan kamar dimana cucunya berada.
" Papi harus hati-hati jangan biarkan putri kita terluka" kata mami Yulia tiba mengingat cucunya, papi Primus menanggukan kepalanya mami Yulia menemui cucunya.
" Kalian kembalikan putriku kau pria brengsrek beraninya melukai hatiku dengan bersama dia" teriak Nia menunjuk perawat pria dan suster di. hadapannya
" Dan kau bilang apa semua ini salahku hahaha semua salahku bukan, kau duluan yang mengkhianatiku" kata Nia menangis.
Papi Primus mencoba mendekati Nia tapi di hentikan oleh dokter Indira.
" Dokter biarkan saya ke putriku, saya akan membujuknya" kata papi Primus dengan lirihnya. " Tapi tuan bisa saja dia akan melukai anda" kata dokter Roger.
__ADS_1
" Tidak dok saya percaya pada putriku dia takkan melukaiku" kata Papi Primus, melepas tangan dokter Ricky dari pundaknya. Dokter Ricky menatap dokter Indiria yang menanggukan kepalanya.
" Suster bawakan obat penenang" kata dokter Indira, suster menanggukan kepalanya dan mengambil obat penenangan.
" Sayang putri papi yang cantik sini lihat ada papi nak" kata Papi Primus dengan senyuman. Nia membalikan badannya terlihat papi Primus.
" Papi katakan pada mereka kembalikan putriku padaku" kata Nia menunjuk ke arah dua orang di sana.
Papi Primus semakin mendekat langsung memeluk Nia dia mengelus rambut putrinya dengan kasih sayang.
" Papi aku ingin putriku kembali" kata Nia sudah tenang menangis dalam pelukan papinya, Papi Primus mencium keningnya.
" Ya sayang sebentar lagi kamu akan bertemu dengan anakmu, tapi kamu harus tenang dulu" kata papi Primus, Nia menanggukan kepalanya.
Papi Primus melihat dokter Ricky menanggukan kepalanya, dokter Ricky memberitahu pada suster untuk memberi pasien obat penenang.
" Kasih sayang keluarga tak bisa di dustakan" kata dokter Indira menata dokter Ricky dengan senyuman.
__ADS_1