
Setelah pertemuan antara kedua keluarga di restoran mereka bersiap menyiapkan pernikahan takkan lama lagi.
Kediaman keluarga Davidson.
Mommy Indira mengundang pembuat undangan untuk pernikahan putranya, pembuat undangan tidak menyisiakan kesempatan ini karena keluarga Davidson mempercayai mereka untuk pembuat undangan pernikahan tuan muda Davidson.
Diatas meja sudah banyak contoh undangan yang berserakan di atas meja mommy Indira sibuk memilih yang cocok.
" Nyonya jika anda kurang menyukai contoh yang ini saya masih bawa yang banyak" kata pembuat undangan.
" Tunggu dulu pak saya sedang memilih yang cocok untuk pernikahan putraku" kata mommy Indira, memilih satu persatu cintoh undangan.
Tangan mommy Indira terhenti ketika dia melihat putranya berpakaian rapi dan Roger disampingnya memberikan berkas di tangannya, mommy Indira meletakan kembali undangan ditangannya ke atas meja dia menghalangi putranya keluar.
" Mommy" kata Tama, terkejut melihat mommy Indira sudah di hadapannya dengan tatapan tajam.
" Kau mau kemana? " mommy Indira.
" Ke perusahaan mom hari ini ada metting penting yang harus ku hadiri" kata Tama.
Mommy Indira menghela nafasnya secara kasar menatap kesal ke arah putranya.
" Tama seminggu lagi kamu akan menikah dan malah sibuk dengan pekerjaaan yang tak habis, pokoknya mommy tidak mau tahu kamu tidak boleh bekerja sampai hari pernikahan " kata mommy Indira.
" Tapi mom hari ini Tama ada rapat penting" kata Tama, mommy memalingkan wajahnya dari putranya Tama meminjit keningnya.
" Roger, aku akan memantau rapat dari rumah dengan menggunakan Via online" kata Tama.
" Baik tuan muda saya akan mengurusnya kalau begitu saya pamit dulu" kata Roger, memberi hormat dan menuju ke perusahaan.
Mommy Indira tersenyum melihat putranya kembali masuk dan menuju ruang kerja, mommy Indira kembali memilih undangan untuk pernikahan putranya.
Mommy Indira tersenyum melihat undangan yang dia pilih terlihat mewah walau sederhana.
Kediaman keluarga Ramadhan.
Mereka juga disibukan dengan persiapan pernikahan Nia.
__ADS_1
Mami Yulia dan Nia sedang memilih desain gaun pernikahan untuknya, papi Primus hanya menggelengkan kepalanya melihat kesibukan mereka mempersiapkan pernikahan putrinya.
" Sayang, kamu sudah mencatat nama undangan yang nanti kita undang? " mami Yulia.
" Sudah mi, karyawan di perusahaan dan beberapa klien yang bekerja sama dengan kita" kata Nia.
" Sayang kamu jangan lupa memberitahu Riri tentang pernikahanmu" kata papi Primus.
" Riri bukannya di kota A" kata Nia. " Nggk sayang kemarin bibi menghubungi papi katanya Riri ada di Jerman untuk sekolah, dia tak ingin sekolah di kotanya katanya dia ingin bersamamu" kata papi Primus.
Riri adalah adik sepupu Nia yang lahir dari adik papi Primus yang sudah meninggal dan Riri baru kelas 3 SMA sejak orangtuanya meninggal dia tinggal bersama pelayan rumah, setelah mengetahui Nia dan keluarga Ramadhan pindah ke Jerman dia ingin ikut tapi karena menghadapi ujian papi Primus memintanya fokus pada ujiannya dulu.
" Sekarang dia ada dimana pi kenapa dia tidak tinggal disini" kata Nia, papi Primus mengelus rambut Nia.
" Sayang waktu itu tak memungkinkan dia tinggal bersama kita disini kami fokus pada perawatanmu dan Riri mengerti akan keadaannya saat ini dia tinggal di Asrama sekolahnya, setelah kamu menikah kami akan mengajaknya tinggal bersama kita" kata mami Yulia, Nia menanggukan kepalanya.
Ruang kerja Tama.
Tama sedang melakukan Via offline bersama petinggi penting perusahaannya dia diam mendengarkan penjelasan yang disampaikan salah satu direktur.
Beberapa jam kemudian rapat telah selesai petinggi perusahaan merasa lega karena Tama tidak marah saat rapat sedang berlangsung, Roger juga merasa lega karena dia tak harus membereskan kekacauan jika terjadi.
Nia sedang berdiri di dekat jendela dia tak menyangka dalam beberapa hari lagi dia akan menikah dan memulai hidup baru bersama orang baru, Nia memenjamkan matanya bayangan masa lalu itu kembali teringat dalam fikirannya tak terasa air matanya turun.
Drt drt drt
Terdengar suara HP berbunyi Nia menghela nafasnya dan menghapus air matanya, Nia mengambil HP di atas meja duduk di sofa panjang dia menghela nafasnya secara berat ketika melihat siapa yang menghubunginya.
Sebelum mengangkat panggilan dari Tama, Nia menarik nafasnya secara kasar.
" Assalamualaikum, mas"
" Waalaikumsalam sayang, apa kamu baru saja menangis"
Nia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
" Nggk mas aku hanya tak menyangka kalau kita akan menikah sebentar lagi "
" Sayang aku tahu kamu sedang mengingatnya tapi kamu harus tahu aku akan selalu berada disisimu dan sekarang hapus air matamu kemudian istirahat. Aku harus kembali memeriksa laporan karena besok Roger harus membawanya menemui klien "
__ADS_1
Nia tersenyum dan menanggukan kepalanya mereka saling menutup panggilannya, Nia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan sholat isya.
Nia membaringkan tubuhnya di samping putrinya dan memeluknya.
Keesokan harinya terdengar suara adzan berkumandang Nia bangun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian dia membangunkan putrinya untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di kamarnya.
Nia membantu putrinya untuk bersiap ke sekolah meletakan pakaian sekolah di atas kasur dan memasukan buku ke dalam tas.
Nia turun menuju dapur dia melihat mami Yulia sedang memasak, Nia membantu mami Yulia menyiapkan makanan.
" Mami dimana sepatu Green " kata Green, datang dengan wajah yang cemberut, mami Yulia dan Nia saling tersenyum.
" Kamu ambilkan saja sepatunya papimu pasti sebentar lagi siap untuk mengantarnya" kata mami Yulia, Nia menanggukan kepalanya.
Nia mengambil sepatu putrinya di rak sepatu dan memintanya duduk di kursi, papi Primus sudah siap untuk mengantar Green ke sekolah.
Mereka menikmati makanan yang tersedia di atas meja.
" Green hari ini diantar kakek ya ke sekolahnya" kata mami Yulia.
" Memangnya kenapa nek, Mami sakit ya makanya tak bisa mengantar Green ke sekolah" kata Green.
" Bukan begitu sayang mami dan om tampankan sebentar lagi akan menikah makanya mami tak boleh keluar" kata mami Yulia, memberikan penjelasan pada Green, Green menanggukan kepalanya.
Papi Primus dan Green pamit pada Nia juga Nia. " Mami Green ke sekolah dulu" kata Green, menyalami tangan Nia.Papi Primus memanggil supir untuk mengantar mereka ke sekolah.
Setelah memastikan papi dan putrinya berangkat Nia lebih memilih duduk di halaman samping membaca email yang di kirim oleh sekretarisnya.
" Nona ini ada kiriman bunga untuk anda" kata bibi menyerahkan bunga pada Nia.
" Dari siapa bi? "Nia. " Kata kurirnya dari tuan muda Tama, nona kalau begitu saya pamit dulu" kata bibi, Nia menanggukan kepalanya.
Nia tersenyum dan mencium bunga dia melihat ada kartu di dalamnya, Nia membacanya dengan senyuman.
" Good morning calon istriku". Nia menggelengkan kepalanya meletakan bunga disampingnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Kamar Tama.
Tama menghubungi Roger untuk membelikan bunga untuk Nia agar calon istrinya tidak merasa sedih.
__ADS_1