( Berbagi Cinta) Suamiku Mencintai Sahabatku

( Berbagi Cinta) Suamiku Mencintai Sahabatku
Episode 92


__ADS_3

Keesokan harinya Tama mengajak istrinya jalan menjelajahi negeri Swiss.


" Sayang ayo kita ke restoran untuk sarapan pagi baru kita jalan" kata Tama, Nia menanggukan kepalanya.


Mereka lebih memilih sarapan pagi di restoran dalam hotel.Tama sudah memesan Aplermagronen untuk sarapan pagi kali ini.


Aplermagronen salah satu menu khas dari Swiss merupakan panganan tradisional yang juga telah dikenal sebagai menu makan dari penggembala di Alpen. Makanan lezat ini ternyata memiliki banyak komponen unik serta menarik seperti makaroni yang berperan sebagai komponen utama, lalu kentang, bawang, apel, keju, susu serta krim lezat.


Untuk menemani sarapan pagi Tama telah memesan kopi dan teh herbal. Mereka menikmati sarapan pagi dengan tenang.


Setelah sarapan Tama mengajak Nia ke Senda Dil Dragun.Nama wisatanya Way of the Dragun Treetop Walk atau disebut juga Senda dil Dragun.


Senda Dil Dragun baru di buka pada tanggal 11 juli 2021 dan menjadi jalan setapak di atas pohon terpanjang di dunia panjangnya mencapai 1,5 Km.


sebelum menaiki jalan setapak ini Tama mengajak Nia berjalan-jalan di wilayah Flims Laax yang merupakan rumah bagi taman salju terbedar di Eropa.


Tama membayar US$17, 50 untuk mereka menaiki Senda Dil Dragun, Tama senantiasa memegang tangan Nia melihat keindahan alam yang dirasakan oleh keduanya.


" Mas jalan ini panjang sekali" kata Nia.


" Ya sayang jalan ini menghubungkan antara dua desa, yakni Laax Murschetg dan Laax Dorf yang terletak di tenggara, jika kamu merasa lelah bilang padaku" kata Tama, Nia menanggukan kepalanya.


" Mas ayo kita duduk dulu di sana" kata Nia, melihat ada tempat duduk, Tama tersenyum mengajak istrinya duduk.


" Mas ayo kita foto dan mengirimkannya pada Green" kata Nia, dengan senyuman, Tama mengelus rambut istrinya.


Mereka tidak lupa untuk mengabadikan kebahagiaan mereka melalui jiprakan kamera, Tama tersenyum melihat kebahagiaan dari wajah istrinya.


Melihat istrinya yang mulai kelelahan Tama mengajaknya ke salah satu Desa di sana, Tama memutuskan beristirahat semalam di Laax Dorf dengan menyewa satu kamar di hotel.


Tama langsung memeluk Nia dari belakang saat mereka telah tiba di kamar.


" Mas" kata Nia, dengan lirihnya. Tama membalikan tubuh Nia ia pegang dagunya mata mereka saling memandang.


" Mas menginginkanmu" kata Tama, Nia menundukan kepalanya dan menanggukan kepalanya.

__ADS_1


Tama tersenyum dan menggendong Nia. " Mas" pekik Nia karena terkejut. Tama membawa Nia ke atas kasur dengan hati-hati Tama merebahkannya.


Entah siapa yang memulai duluan mereka menikmati keindahan malam hari dengan memadu kasih, Tama tak sekali melakukannya membuat Nia kelelahan tapi dia bahagia karena memberikan kebahagiaan untuk suaminya.


" Terima kasih sayang" kata Tama, mencium kening Nia, Nia tersenyum dan memeluk suaminya.


" Aku akan membuatmu bahagia sayang kamu adalah keindahan yang hadir dalam hidupku dan selalu melindungimu selamanya" guman Tama, mereka istirahat di hotel.


Keesokan harinya mereka bersiap menuju Hotel Villa Honegg, sebelum kembali mereka menikmati udara pagi hari di Laax Dorf, Nia menyapa penduduk disana berbeda dengan Tama dengan wajah dinginnya.


Dalam perjalanan Tama memberikan roti untuk mengisi perut mereka dia tahu perjalanan menuju hotel Villa Honegg membutuhkan waktu yang lama.


Beberapa waktu kemudia mereka sudah sampai Hotel Villa Honegg, mereka lebih memilih untuk istirahat pagi ini dan nanti siang akan melanjutkan jalan-jalannya.


The Matterhorn


Menjadi pilihan mereka untuk jalan selanjutnya Tama ingin mengajak istrinya mendaki gunung.


Sebuah gunung terpencil karena posisinya di daerah aliran sungai ( DAS) Alpine utama dan tinggi yang hebat, matterhorn menghadapi perubahan cuaca yang cepat.


Gunung Matterhorn dapat dijangkau wisatawan yang bahkan belum pernah mendaki sebelumnya, gunung tersebut memiliki transportasi publik berupa kereta gantung atau cable car yang dapat dimanfaafkan.


" Mas ini tinggi sekali dan Nia nggk berani mendakinya" kata Nia, melihat gunung Matterhorn di hadapannya.


Tama tersenyum. " Sayang kita tak perlu mendaki untuk melihat permandangan, kita akan menaiki kereta gantung" kata Tama, Nia menanggukan kepalanya.


Mereka menaiki kereta gantung mengelilingi pegunungan Matterhorn dan mereka juga melihat sunga diantara gunung.


Mereka tidak menyiakan untuk mengabadikan keindahan gunung Matterhorn.


" Mas ini sangat indah lain kali kita ajak Green, dia pasti sangat bahagia" kata Nia, Tama merangkul istrinya dan menatap mesra, dia melihat bibir Nia yang mungil dan menciumnya.


Mereka berciuman dengan manis disaksikan pegunungan Matterhorn.


Kemudian Tama mengajak Nia untuk makan malam di restoran.

__ADS_1


" Sayang" ucap Tama, membersihkan noda makanan di bibir Nia. Nia tersenyum dan membersihkan bibirnya dengan tisu.


" Sayang ayo kita berdansa" kata Tama, mendengar musik yang sangat indah, Nia menanggukan kepalanya.


Mereka berdansa dengan diiringi dengan musik yang merdu Nia memeluk suaminya sambil menikmati musik, Tama tersenyum.


Selesai makan mereka memutuskan berjalan kaki sambil menikmati permandangan malam hari, melihat Nia kedinginan Tama memasang jaketnya ke pundak Nia.


Nia tersenyum dan merangkul mesra lengan suaminya mereka tertawa mengingat hal yang lucu. Saat bicara mengenai Green tiba saja ada beberapa orang pria berbadan besar menghadang mereka membuat mereka ketakutan.


Tama menarik Nia ke belakangnya dan menatap mereka dengan tajam.


" katakan apa yang kalian mau? " Tama, dengan dinginnya, Nia memegang baju Tama dengan kuat dan Tama dapat merasakannya.


" Hahaha, kami tak ingin apapun kami hanya ingin wanita di belakangmu untuk menemani kami malam ini" kata bos prema, tertawa diikuti oleh anak buahnya.


" Sayang tenang di sini ingat jangan kemana" kata Tama.


" Mas hati-hati" kata Nia, mengkhawatirkan suaminya, Tama tersenyum dan menanggukan kepalanya.


Tama menyisip lengan bajunya ke atas dan menatap mereka tajam.


" Hei lihat ternyata dia berani juga, hahaha" kata si bos, anak buahnya tertawa.


" Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini sebelum aku memberi kalian pelajaran" kata Tama dengan dinginnya.


" Beraninya kau disini adalah daerah kekuasaan kami dan kau takkan selamat malam ini" kata sibos, Tama tersenyum sinis dan menghajar mereka ia tak ingin istrinya menunggu lama.


Brug


Tama menghajar mereka satu persatu Nia berdoa agar suaminya baik saja.


" Kalian pergi dari sini" teriak Tama, para preman sudah terlulai di tanah terkena pukulan Tama. Mereka langsung berlari karena kesakitan.


" Mas" kata Nia, memeriksa wajah suaminya.

__ADS_1


" Sayang mas tidak apa" kata Tama, melihat istrinya khawatir Tama memeluknya agar Nia merasa tenang.Kemudian mereka kembali ke hotel untuk istirahat hari sudah larut.


__ADS_2