
Tama Davidson seorang pria berumur 28 tahun putra dari sepasang suami istri Indira Davidson dan Tama Davidson , memiliki sifat dingin, cuek terhadap wanita dia menanggap wanita itu menyusahkan selain mommynya yaitu Dokter Indira Davidson.
Saat ini Tommy Davidson baru saja menyelesaikan pendidikan S2 Bisnis dan Manajemen dan setahun menjalani cabang perusahaan Davidson Group di London.
"Kamu sudah memesan tiket untuk kembali ke Jerman, Roger" kata Tama.
" Kenapa kamu tidak menaiki jet pribadu malah lebih menaiki kelas ekonomi" ? Roger.
Roger Prakasa adalah sahabat Tama Davudson mereka dipertemukan sewaktu kuliah di Universitas London, Tama melihat Roger di bully oleh senior mereka dan saat itu Tama menolongnya sehingga saat itu mereka menjadi sahabat.
" Aku hanya ingin mencoba hal baru" kata Tama, Roger hanya menggelengkan kepalanya. Setelah barang disiapkan oleh pelayan mereka menuju Bandara Internasional London menuju Jerman.
Bandra Internasional London.
Semua mata tertuju pada mereka berdua dengan penampilan santai tidak mengurangi ketampanan mereka, para pengunjung terutama menanggumi ketampanan mereka meski dengan wajah yang dingin.
Tama dan Roger hanya mengacuhkan mereka tidak memperdulikan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara panggilan bahwa pesawat menuju Jerman akan segera berangkat dan penumpang harap memasuki pesawat, Tama dan Roger memasuki pesawat.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam mereka tiba di Bandara Internasional Jerman, Tama turun dari pesawat dengan penampilan memakai topi dan jaket sedangkan Roger memakai penutup kepala.
" Kamu mau kemana Tama langsung kediamanmu atau ikut bersamaku ke apartemen " kata Roger, menghubungi supir untuk menjemput mereka.
Tama melirik arlojinya ternyata baru menunjukkan jam 10 pagi.
"Ayo ke rumah sakit aku ingin menemui mommy dan urusan barang biar supir mengantar ke kediaman keluargaku terlebih dahulu" kata Tama, Roger menanggukan kepalanya.
Setelah supir datang mereka langsung ke ID Hospital tempat Dokter Indira praktik.
Green sedang menemani Nia di ruang rawat mereka hanya berdua di dalam mami Yulia dan papi Primus duduk di depan ruang rawat Nia.
Mami Yulia menghubungi papi Primus memberitahunya kalau cucu mereka tidak mau sekolah dan berada di rumah sakit, papi Primus segera ke rumah sakit setelah metting dengan klien.
" Mami ceritakanlah apa yang terjadi pada Green hingga tak mau bersekolah? " papi Primus, mami Yulia menghela nafasnya dan memberikan HP pada papi suaminya.
__ADS_1
Papi Primus melihat HP di tangannya dan memandang ke arah istrinya.
" Papi lihat berita internasional hari ini papi akan tahu sendiri penyebab cucu kita marah dan tidak mau sekolah" kata mami Yulia.
Papi Primus segera membuka HP dan membukanya dia menatap istrinya sambil memperlihatkan berita yang terkini, Mami Yulia menanggukan kepalanya papi Primus menyandarkan dirinya di kursi.
Papi Primus mengusap wajahnya secara kadar mami Yulia mengusap punggung suaminya. " Apa yang dilakukan cucu kita itu mam?" papi Primus.
" Ternyata dia masih menyimpan barangnya bersama pria itu dan foto kebersamaan mereka, sebelum kesini Green sangat marah dan membuang itu semua " kata mami Yulia merintikan air matanya.
Ruang rawat Nia.
Green mendekati maminya yang sedang duduk di sofa sambil memandang arah jendela dicium pipi Nia, Green tersenyum dan memeluk Nia.
" Mami ingin jalan-jalan ke taman Green akan bilang ke nenek" kata Green, Green keluar menghampiri nenek dan kakeknya.
" Kenapa sayang keluar? " mami Yulia melihat Green keluar. " Nenek Green ingin mengajak mami jalan-jalan ke taman" kata Green.
__ADS_1
" Baiklah ayo kita ke taman " kata mami Yulia, mereka mengajak Nia ke taman.