
" Adik".
Adik medengar kata itu membuat jantung Tama berdetak dengan cepat dia menatap putrinya yang bahagia dan semua orang tersenyum cerah.
Dengan tergesa Tama masuk ke ruangan Nia dan melihat istrinya yang mengelus perut yang masih rata disertai dengan senyuman.
" Sayang" terdengar suara Tama yang gemetaran, Nia tersenyum mengulurkan tangannya ke sini dia minta Tama mendekat.
" Apa yang dikatakan oleh mommy itu benar Green akan memiliki seorang adik? " Tama, Nia tersenyum meletakan tangan Tama di perutnya.
Tama dapat merasakan hatinya menghangat. " Sayang terima kasih kau telah memberiku hadiah yang indah" kata Tama, memeluk Nia disertai tangisan Nia senyum mengelus punggung suaminya yang bergemetaran.
" Mami Green juga ingin dipeluk" Kata Green, yang cemberut melihat Tama yang dipeluk padahal dia juga ingin.
" Hahaha, kemarilah sayang putri mami ini pasti senang karena akan memiliki seorang adik" kata Nia, merentangkan tangannya Green masuk ke pelukan Nia.
" Mom gimana keadaannya? " Tama. Mommy Indira tersenyum.
" Nanti kita periksa ke dokter kandungan" kata mommy Indira, dia memang sudah menghubungi dokter kandungan untuk memeriksa menantunya.
__ADS_1
Semua keluarga memberi selamat pada Nia atas kehamilan keduanya dan pertama bagi Tama. Kedua Orangtuanya tak henti mencium sang putri telah memberi mereka cucu lagi.
" Riri" panggil Nia, menatap Riri dan Roger secara bergantian.
" Ya kak" kata Riri, perasaannya menjadi tak enak.
" Kapan kalian akan menikah sebelum kakak lahiran pokoknya kalian harus menikah" ancam Nia, menatap tajam ke arah Riri ia tahu adik sepupunya ingin bicara. Roger bahagia karena ia juga ingin secepatnya memikah dengan tunangannya.
" Baiklah biar mami yang mengurusnya" kata mami Yulia, mereka menahan tawanya melihat wajah kesal Riri.
Suster memberitahu mommy Indira kalau dokter kandungan sudah menunggu.
" Selamat siang dok" kata mommy Indira, saat membuka pintu. Terlihat dokter pria yang masih muda menyambut kedatangan mereka.
Tama yang melihat dokternya masih muda membuatnya kesal ia tak ingin istrinya diperiksa olehnya.
" Mom nggk ada dokter wanita? " Tama, ketiga lainnya menatap aneh ke arah Tama.
" Mas" kata Nia, dengan lirihnya mencoba menahan rasa mualnya saat mencium parfum Tama. Mommy mengeringit dahinya dia curiga pada putranya.
__ADS_1
" Jangan bilang kamu cemburu pada dokter Agung" kata mommy Indira, dengan dinginnya Tama hanya menanggukan kepalanya, Nia hanya menghela napasnya sedangkan dokter Agung hanya tersenyum.
" Kamu kira mencari dokter lagi mudah sudah sana biar mommy yang menemani menantu mommy" kata mommy, menjauhkan Tama dari Nia.
Dokter Agung meminta Nia berbaring membuka sedikit perut Nia dan mengoles gel, Tama hanya menahan cemburunya saat ada mommy Indira.
" Dok, nona, tuan. Kalian bisa lihat ini ada titik hitam selamat anda sedang hamil muda nona" kata dokter.
" Jadi saya benar hamil dok, mom, mas" Nia menangis haru. Mommy Indira tersenyum sambil menghapus air matanya.
Tama tak bisa berkata apa ia sangat bahagia istrinya benar hamil.
" Dok bagaimana keadaan cucu saya? " mommy Indira, saat mereka kembali duduk.
" Saat ini masih trimester awal sangat retan dengan keguguran jadi nona harus memperbanyak istirahat, saya akan memberi vitamin memperkuat kandungan" kata Dokter Agung.
" Dok, apa masih diperbolehkan untuk berhubungan intim?" Tama, Nia sangat malu dengan pertanyaan suaminya sedangkan mommy Indira menggelengkan kepalanya.
Dokter tersenyum dan mengatakan untuk trimester awal jangan dulu melakukannya takutnya akibat buruk pada si janin. Semua keluarga bahagia mendengar kabar bahagia ini.
__ADS_1