
Setelah kepergian Tama dan Roger perasaan Nia semakin tak karuan dia tambah khawatir apalagi perasaannya merasa tak enak, begitu pula dengan papi Primus dia juga gelisah memikirkan istrinya yang belum kembali.
Walaupun acara ulang tahun semakin meriah dengan penampilan penyanyi yang menyanyikan lagu, El melihat Nia dan lainnya gelisah dia mencoba untuk mencari tahu apalagi dia juga melihat Tama dan Roger keluar dari acara dengan terburu-buru.
" Nona, ada apa? " El.
" El bisa acaranya di percepat entah kenapa perasaanku tak enak" kata Nia.
" Jika nona ingin pergi duluan silahkan saja kebetulan acara hampir selesai dan para tamu sudah ada yang pulang, nanti sisanya saya yang urus" kata El.
" Mom, dad, pi, Riri ayo temui mas Tama perasaanku semakin tak karuan" kata Nia, dengan lirihnya mereka menanggukan kepalanya mommy Indira memeluk menantunya agar merasa tenang.
" Brak"
Tama memukul dinding sudah mencari keberadaan putrinya tapi tak bertemu.
" Mas" teriak Nia, lari mendekati Tama dan memegang tangannya.
Melihat istrinya Tama tak bisa menahan emosinya dan memeluk Nia dan meminta maaf.
"Maaf, maaf, maaf" kata itu terus keluar dari mulut Tama, Nia mengeringit dahinya kenapa suaminya meminta maaf padanya.
__ADS_1
Mami dan Green kemana?" Nia, dalam hati melirik matanya tak ada mereka bukannya suaminya menemui Klien tapi kenapa berada di sini.
"Tama dimana Green dan mami?" Papi Primus, entah kenapa menyebut nama mereka, Tama memperkuat pelukannya.
Deg
" Mas katakan dimana mereka bukannya mas tadi ketemu klien tapi kenapa berada di sini" kata Nia, melepas pelukannya dan menatap Tama.
" Mas apa terjadi sesuatu? " Riri, sejak tadi diam, Roger tak mampu untuk mengatakannya.
" Mas katakan ada apa ini" Nia, menggoyang lengan Tama dengan air mata yang mengalir.
Tama menggelengkan kepalanya menghapus air matanya.
" Green di culik dan mami Yulia masuk rumah sakit karena tak sadarkan diri" kata Tama.
Nia terpaku mendenganya masa lalunya kembali membayanginya saat putrinya diculik dan kehilangan kekayaan keluarganya.
" Primus, kuatkan dirimu kita harus kuat demi Nia, kita harus yakin cucu kita baik saja dan Yulia baik saja" kata daddy Thomas, memegang pundak papi Primus hampir jatuh. Riri memeluk mommy Indira menangis.
Melihat istrinya hanya diam tak berkata apapun ataupun berteriak membuat Tama takut.
__ADS_1
" Sayang jangan diam kamu jangan mbustku takut" kata Tama, menggoyang tubuh Nia masih sama.
" Mom" kata Tama.
" Nia" kata Mommy Indira segera memeriksa Nia.
" Kita harus ke rumah sakit sekarang" kata mommy Indira.
" Kakak" Riri, menangis melihat Nia, papi Primus khawatir dengan keadaan putrinya ia takut sakit putrinya kembali lagi.
Tama menggendong Nia sebelum pergi dia meminta Xanders dan anak buahnya mencari Leo dan Tika ia yakin ini pasti ulang keduanya.
Rumah sakit
" Dokter cepat tolong istriku" teriak Tama, mereka sudah sampai di rumah sakit. Kepala rumah sakit melihat Tama dan lainnya datang segera meminta suster membawa brankar dan bawa Nia ke UGD.
Mereka menuju ruang UGD Tama sangat marah besar melihat keadaan istri kecintanya yang kembali sakit.
" Lihat saja jika mereka melukai putriku sedikit saja aku takkan mengampuninya" kata Tama, menggengam tangannya.
" Kenapa mereka terus mengusik kehidupan putri dan cucuku padahal kami tak pernah menanggu mereka lagi" kata papi Primus.
__ADS_1
Tama menatap Roger sepertinya sudah tahu tujuan dari penculikan ini, para dokter sudah masuk ke ruang UGD.