
Mami Yulia dan papi Primus masih membicarakan hal yang diinginkan oleh Leo bersama Edward pengacara keluarganya. Saat mereka sedang berbicara bibi menemui Nia membawa air yang diminta oleh Nia.
Tok, tok, tok.
" Nona ini saya bawakan airnya" kata bibi, tapi pintunya dikunci, bibi mencoba kembali untuk mengetuk pintunya mungkin nona mudanya ke kamar mandi.
" Nona buka pintunya, tok, tok, tok" kata bibi agak keras agar Nia mendengar tapi tetap Nia tak mendengarkannya.
Suara bibi yang agak keras terdengar oleh lainnya di ruang tengah, hingga mereka berlarian.
" Pi apa yang terjadi hingga bibi memanggil Nia sampai terdengar kesini" kata Mami Yulia, menangis ketakutan terjadi hal yang buruk.
" Mi ayo kita lihat " kata Papi Primus, mereka langsung berlarian menuju lantai dua.
Setelah tiba di lantai dua mereka melihat bibi mengetuk dan memanggil Nia, tapi tak dibukakan oleh Nia.
" Bi" panggil mami Yulia, bibi membalikan tubuhnya dan memberi hormat. " Bi apa yang terjadi bukankah tadi saya minta bibi menemani Nia di luar? " mami Yulia.
__ADS_1
" Maaf nyonya tadi nona meminta minuman, ketika saya kembali setelah membawa minuman nona Nia tak mau membukakan pintunya, nyonya" kata bibi dengan khawatir.
Mami yulia mencoba memanggil putrinya. " Nia ini mami bukalah pintunya, nak" kata ibu, mengetuk pintu, tapi Nia tak mau membuka pintunya.
Dalam kamar Nia duduk di lantai dengan wajahnya di tenggelamkan di kedua tangannya, dia terus menangis seakan tuli setiap orang memanggilnya.
" Mi minggil papi akan mendobraknya Ed bantu aku" kata papi Primus. Mereka terus membuka pintu kamar dengan mendobraknya seakan lupa mencari kunci duplikat.
Ketika pintu telah terbuka mereka terkejut melihat Nia menangis dan duduk di lantai kamarnya sambil terus mengucap maaf.
Orangtua siapa yang tidak merasa takut melihat keadaan putrinya sekarang. Papi Primus berlari dan memeluk putrinya hatinya sakit mendengar Nia mengucapkan maaf, Bibi membantu mami Yulia untuk mendekat karena tak sanggup untuk berjalan.
" Pi putri kita, hiks hiks hiks" mami Yulia menatap sendu pada putrinya. " Primus bawa Nia ke kasur aku sudah memanggil dokter" kata Edward. Mereka mengangkat Nia ke kasurnya.
Papi Primus merasa frustasi melihat putrinya seperti ini, mami Yulia sudah ada disamping putrinya.
" Primus ayo kita keluar biarkan istrimu yang menemani putrimu disini" kata Edward, papi menanggukan kepalanya.
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tengah Edward merasa sedih melihat keadaan keluarga sahabatnya bahkan dia kehilangan harta peninggalan orangtuanya.
" Leo, kamu seorang bajingan telah menghancurkan sebuah keluarga yang harmonis hanya karena kekayaan dan wanita" guman Edward, melihat papi Primus memejamkan matanya.
Di tempat Leo.
Leo dan Tika sudah mempersiapkan surat-suratnya hitam putih dan bermatrai juga sah di mata hukum. Sekarang mereka menuju hotel untuk pertemuannya dengan Nia.
" Mas hubungi Nia sekarang suratnya sudah siap dan Green sering memanggil maminya jadi mereka bisa bersama lagi" kata Tika.
Leo menghubungi Nia untuk membahas urusan mereka, Mami Yulia melihat panggilan dari Leo segera memberikannya pada papi Primua.
Bertepatan dengan dokter yang di panggil Edward datang, papi Primus meminta mami mengantar dokter sedangkan dia berurusan dengan Leo.
" Nia segera ke hotel xxx kita akan bertemu disana dan kamu bisa membawa Green" Leo langsung menutup teleponnya, sedangkan papi Primus hanya diam mendengarnya.
" Primus apa yang dikatakannya? " Edward. " Dia minta bertemu di hotel xxx" sahut papi Primus. Edward menanggukan kepalanya kembali memeriksa surat yang akan mereka bawa.
__ADS_1
Dokter sedang memeriksa Nia dengan teliti mami Yulia senantiasa menemani putrinya.