
Mereka sudah berada di taman di sana banyak pasien jalan ditemani keluarga dan orang terkasih, ada juga pasien melakukan terapi berjalan di temani suster.
" Mami duduk di sini " ajak Green pada Nia duduk di kursi Green tersenyum sambil bercerita tentang sekolah pada Nia.
Suster datang memanggil mami Yulia dan papi Primus karena Dokter Indira ingin bertemu.
" Maaf tuan nyonya Dokter Indira memanggil kalian ke ruangannya" kata suster.
" Pi jika kita pergi siapa yang akan menemani mereka" kata mami Yulia melihat Nia dab Green.
" Maaf nyonya kika diperbolehkan biar saya yang menemani mereka disini" kata suster, papi Primus menatap istrinya dan menanggukan kepalanya.
Mami Yulia dan papi Primus pergi menemui Dokter Indira di ruangannya, suster menemani Green dan Nia di taman. saat menemani Green dan Nia suster yang menemani mereka di panggil oleh rekannya untuk mengambil rekam pasien.
Kini hanya ada Green dan Nia di taman sedang memperhatikan sekitar taman, Green merasa haus ketika akan memeriksa sekitarnya ternyata tak botol minuman.
" Mami jangan kemana ya Green hanya sebentar mau ambil minuman, mami tunggu Green sampai datang" kata Green melihat sekitarnya karena tak ada suster yang bisa menemani maminya.
__ADS_1
Akhirnya Green pergi sendiri untuk mengambil minuman, dia juga khawatir jika maminya haus.
Di lobi rumah sakit terlihat sebuah mobil memasuki lobi rumah sakit satpam memberi hormat setelah mengetahui siapa yang turun.
" Selamat siang tuan muda" seru satpam, Tama dan Roger menanggukan kepalanya mereka menelusuri rumah sakit para dokter dan suster memberi salam pada putra tunggal pemilik rumah sakit.
Di taman
Nia ditinggal sendiri berdiri melangkahkan kakinya menjauh dari taman dia terus berjalan dengan tatapan kosong, Nia terus berjalan tanpa tujuan dan ketika dia akan membelok tak sengaja menabrak sesuatu.
Brug
Tama melihatnya dengan amarah karena telah menabraknya ketika dia akan marah tanpa sengaja dia menatap mata Nia yang penuh dengan kesedihan, kemarahan dan keputusaan.
Tama terus menatap mata yang menatap kekosongan tanpa ada kehidupan disana.
" Tuan muda, anda tidak apa-apa? " Roger melihat Tama diam tapi dia merasa aneh dengan sahabatnya yang biasanya akan marah besar ketika seorang wanita menyentuhnya tapi sekarang.
__ADS_1
Tama sadar dari melamunnya membantu Nia berdiri tegak.
" Nona baik-baik saja" kata Roger, takutnya wanita yang dia tahu pasien dari pakaiannya akan terluka, Tama terus menatapnya tapi Nia tak merespon mereka.
" Kenapa pasien di biarkan berjalan sendirian " kata Roger mencari suster. Ketika mereka mencari suster terdengar suara anak kecil.
"Mami, hiks hiks hiks mami" kata Green memeluk Nia. " Hiks hiks Green minta maaf mami telah meninggalkan mami sendirian " sambungannya sambil bersenggukan.
Setelah beberapa menit Nia meninggalkan taman Green kembali dengan membawa botol minuman di tangannya, tapi dia tak menemukan Nia di sana terus mencari maminya sekitar rumah sakit.
" Adik apa dia mamimu? " Roger, Green menghapus air matanya dan menanggukan kepalanya. " Terima kasih om telah menemukan mami Green dengan senyum.
Roger membalasnya dengan senyuman sedangkan Tama tersenyum tipis. Tak lama terdengar suara beberapa langkah mendekat.
" Nia, Green kalian baik-baik saja kan? " mami Yulia memeluk putri dan cucunya, papi Primus mengelus kepalanya putrinya.
" Nenek kakek Green minta maaf karena telah membiarkan mami sendirian ditaman" kata Green menunduk kepalanya merasa bersalah.
__ADS_1
" Sayang ini bukan salahmu yang penting mami tidak ada terluka" kata papi Primus, Green menanggukan kepalanya.
" Nenek, kakek om ini yang menemukan mami"