
Green dan lainnya masuk ke ruang rawat Nia, Xanders pamit kembali ke markas setelah mengantar mereka ke rumah sakit sedangkan Roger lebih memilih menunggu di luar, Green sedih melihat keadaan Nia.
" Green ingin menemui mami, mami pasti senang melihatmu sayang" kata Tama, Green menanggukan kepalanya dengan memegang tangan Tama ia mendekati Nia yang sedang duduk dengan tatapan kosongnya.
" Sayang lihat siapa yang datang aku telah janji akan membawa putri kita secepatnya " kata Tama, dengan lembut mengelus pipi Nia.
Green memegang tangan Nia, Nia merasakan ada sentuhan yang biasanya bersamanya ia menoleh dan melihat Green tepat di hadapannya.
Air mata Nia jatuh mencoba menyentuh wajah putrinya ia berharap ini bukan mimpi.
" Ini putri mami" kata Nia dengan lirihnya ia menatap suaminya yang tersenyum.
" Sayang akhirnya kamu pulang mami sangat mencemaskanmu mereka tak melukaimu kan? " Nia, tidak mengetahui yang menculik Green adalah Leo.
" Sayang jangan bicara itu lagi yang penting adalah putri kita sudah kembali" kata Tama, Nia tersenyum dan mencium putrinya.
Semua keluarga yang menyaksikannya bahagia melihat Nia kembali kesadarannya.
" Sayang mas sangat rindu" kata Tama, ingin memeluk istrinya, tapi saat ingin memeluk Nia tiba saja di dorong.
" Sayang" kata Tama, terkejut begitu pula yang lainnya tak biasanya Nia menolak pelukan Tama.
__ADS_1
" Mami kok papi di dorong emangnya papi bau ya" kata Green, sedih melihat Tama di dorong oleh Nia.
" Mas, Green. Mami bukannya mami tak ingin dicium papi, tapi"
" Tapi kenapa sayang? " mami Yulia, tak biasanya putrinya sepertinya seperti ini.
" Nia tak suka dengan bau parfum mas Tama" Nia menundukan kepalanya.
" Apa " teriak mereka yang mendengarnya mommy Indira dan daddy Thomas menahan senyumannya.
" Mom" panggil Tama, ia takut istrinya ada sakit lainya.
" Sebaiknya kalian keluar dulu aku akan memeriksanya walau Nia sudah sadar tapi aku perlu memeriksanya" kata mommy Indira, sebagai seorang dokter tentu ia harus memastikan keadaan pasiennya.
" Sayang mommy memeriksamu dulu ingat mommy sekarang dokter" kata mommy Indira, Nia senyum.
Mommy Indira bahagia depresi menantunya sudah hilang dia sudah menduganya obat Nia adalah Green putrinya.
" Sayang mommy ingin tanya apa kamu memang merasakan mual saat mencium parfum anak itu? " Mommy Indira, terlihat jelas tadi Nia mencoba menahan rasa mualnya saat Tama mendekat.
" Mom? " Nia, menyadari sesuatu. " Kita periksa dulu ya" kata mommy Indira mengambil alat test kehamilan yang sebelumnya ia minta pada suster.
__ADS_1
Mommy Indira membantu menantunya ke kamar mandi dan menyerahkan alat test kehamilan pada Nia. lima menit kemudian Nia keluar dan menyerahkan pada mommy Indira ia tak berani untuk melihatnya.
Dengan menarik nafas mommy Indira melihat dan, mommy Indira menangis melihat hasilnya.
" Mom? " Nia, khawatir jika hasilnya negatif. " Alhamdulillah terima kasih sayang mommy akan memiliki cucu lagi" kata mommy Indira memeluk menantunya dengan senangnya.
" Hiks hiks Nia hamil mas Tama pasti senang karena dia sudah menunggu lama untuk kabar bahagia ini" kata Nia, bersenggukan.
" Kamu istirahatlah biar mommy yang memberi kabar lainnya" kata mommy Indira, Nia menanggukan kepalanya.
Melihat mommy Indira keluar Tama tak sabar bertanya mengenai istrinya, mommy Indira yang terlalu bahagia tak menghiraukan pertanyaan putranya ia langsung memeluknya.
" Mom" kata Tama, khawatir, mendengar tangisan mommy Indira.
" Nak kamu akan menjadi seorang ayah" kata mommy Indira.
" Mom bukannya aku sudah menjadi seorang ayah sejak menikah" kata Tama, bingung.
Plak
Daddy Thomas memukul kepala putranya ia sangat kesal dengan putranya yang tak mengerti omongan istrinya, mommy Indira menghela napasnya sedangkan lainnya menahan tawanya.
__ADS_1
" Asyik Green akan mempunyai adik"
Deg