
Brak
Tama melempar berkas di hadapan Leo dan Tika. Mereka, memandang berkas di hadapan mereka dan menatap Tama dengan penasaran.
" Tuan berkas apa ini? " Tika, memandang berkas dengan perasaan cemas Leo hanya diam melihatnya.
Tama tersenyum sinis. " Lihatlah sendiri kalian akan tahu berkas apa itu" kata Tama, tangannya melipat di dadanya, Roger menatap mereka dengan tajam.
Dengan tangan gemetaran Leo membaca berkas yang ada di hadapannya ia membesarkan matanya setelah mengetahui isi dari berkas tersebut,Tika melihat keterjutan dari Leo membuatnya bertanya hingga dia merampas berkas dari tangan Leo dan membacanya.
" Apa" teriak Tika. " Tuan, anda tak berhak meminta hal ini pada kami" kata Tika, menatap Tama berusaha menghilangkan raea takutnya.
" Nona harap jaga bicaramu" tegas Roger, tak terima Tika meneriaki Tama.
Leo memegang tangan Tika dan memintanya untuk diam.
" Tuan, masalah ini tak ada satu pautnya dengan isi berkas ini " kata Leo, mencoba untuk mengalihkan perhatian Tama dari isi berkas ini.
Tama tersenyum sinis. " Kalian kira aku tak tahu mengenai perusahaan Ramadhan Group yang kalian rebut dari keluarga istriku" Brak Tama memukul meja sampai Leo dan Tika ketakutan.
__ADS_1
" Sepertinya kalian tak ingin menandatangani berkas ini, Roger hubungi polisi beritahu kalau mereka telah mengganti bahan pembangunan dengan bahan yang rendah sampai ada korban" kata Tama.
" Baik tuan" kata Roger, sebelum menghubungi polisi ia dihentikan oleh Tika karena dia tak ingin masuk penjara.
" Mas sepertinya kita tak ada pilihan lain sebaiknya mas tanda tangani nanti kita pikirkan cara untuk merampasnya lagi" bisik Tika, Leo memandang Tika dengan selidik. Tika menanggukan kepalanya dan berusaha meyakinkannya.
" Jika kalian berani melakukan sesuatu pada istri dan putriku aku takkan membiarkan kalian bebas begitu saja" ancam Tama.
Dengan tangan gemetaran Leo menanda tangani berkas walau ia berat untuk melakukannya tapi tak ada pilihan lain asal tidak masuk penjara.
" Roger bawa berkasnya" kata Tama, Roger menanggukan kepalanya dan mengambil berkas yang telah di tandangani oleh Leo.
" Sial ternyata wanita itu menceritakannya pada tuan Tama dan mengambil kesempatan dalam masalah ini untuk merebutnya, lihat Nia aku takkan membiarkanmu" kata Tika, penuh benci pada Nia.
" Tika, apa yang kamu lakukan" kata Leo. " Mas kita harus memikirkan cara untuk merebutnya kembali karena perusahaan itu adalah milik kita" kata Tika.
Leo menanggukan kepalanya membenarkan perkataan Tika yang telah di penuhi dengan rasa benci.
Dalam mobil Tama memandang berkas di tangannya ia tersenyum.
__ADS_1
" Akhirnya aku bisa merebutnya dari mereka Nia pasti senang karena seharusnya menjadi miliknya kembali" guman Tama.
" Tuan kita harus melakukan apa pada berkas itu? " Roger.
" Sebaiknya berkas ini disimpan di kantor aku tak ingin Nia mengetahui hal ini dulu, aku takut mereka berbuat hal yang kita tak duga" kata Tama.
" Baik tuan" Roger mengendarai mobil menuju perusahaan Davidson.
Para karyawan memberi hormat melihat Tama dan Roger masuk, setelah tiba di ruangannya Tama menyimpan berkas di ruangan rahasianya.
Tama kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Kediaman keluarga Ramadhan.
Riri baru saja pulang dari kampus mami Yulia menyambutnya dengan senyuman.
" Kamu ganti pakaian dulu nanti kita makan siang bersama" kata mami Yulia, Riri tersenyum dan menanggukan kepalanya naik tangga menuju kamar.
Setelah membersihkan diri Riri menuju ruang makan, Riri dan mami Yulia makan siang bersama sedangkan papi Primus ada keperluan lain.
__ADS_1