
Seminggu kemudin Nia sudah diizinkan pulang keadaannya sudah sehat dan depresi yang dialaminya juga hilang, kehamilannya juga sehat.
Saat ini mereka sudah sampai di kediaman keluarga Davidson.
" Bibi tolong panggil semua pekerja " kata mommy Indira, pada kepala pelayan.
" Mom Tama bawa Nia ke kamar dulu" kata Tama, tak ingin Nia kelelahan.
" Tama, bawa istrimu ke kamar bawah mommy sudah memninta bibi membersihkannya tadi" kata mommy Indira, Tama menanggukan kepalanya, Green sudah berangkat ke sekolah Roger yang mengantarnya.
" Mas kenapa mommy minta semua orang berkumpul? " Nia, mereka sudah sampai di kamar. Tama tersenyum membantu istrinya duduk.
" Sayang jangan fikirkan dilakukan mommy, mommy hanya ingin terbaik untukmu" kata Tama, Nia tersenyum mengelus pipi Tama.
Di luar semua pelayan sudah berkumpul termasuk penjaga, supir dan lainnya.
" Kalian pasti bertanya kenapa aku mengumpulkan kalian semua disini? " Mommy Indira, diangguk oleh lainnya.
" Menantu saya sedang mengandung jadi untuk masak memasaklah makanan yang sehat dan membersihkan harus hati-hati jangan sampai ada debu sedikit pun yang menempel" kata mommy Indira.
__ADS_1
" Akan kami lakukan nyonya" seru mereka. Mereka senang mendengar nona muda telah hamil. Daddy Thomas mengajak mommy Istirahat setelah lainnya kembali bekerja.
Setelah makan siang Roger menjemput Riri di kampus ingin membicarakan keinginan Nia yakni pernikahan mereka.
Roger mengajak Riri di taman agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
" Mas ingin bicara soal kak Nia ingin kita menikah secepatnya, kak Nia bikin orang kesal saja aku hanya ingin fokus dulu karena di kampus banyak kegiatan" kata Riri, memajukan bibirnya karena kesal mengingat ancaman Nia.
" Sayang minta dicium, lihat bibirnya dimajukan membuatku tak tahan" bisik Roger, Riri menjadi malu dan wajahnya bersemu merah.
" Aku takkan memaksa sayang dan sepertinya pekerjaanku semakin banyak nanti karena tuan muda itu pasti lebih memperhatikan istrinya daripada pekerjaan " kata Roger, baru saja mendapat kabar Nia hamil Tama sudah tak masuk kantor baru saja sehari ia tak masuk sudah banyak berkas apalagi dua atau tiga hari bisa setinggi gunung berkas memupuk.
" Nanti ada waktu senggang aku akan membantu" kata Roger, mengelus rambut Riri.
Mereka meninggalkan taman Roger harus menjemput Green dan mengantar Riri kembali ke kampus.
Nia bahagia melihat suaminya sangat bahagia karena kehamilannya, Tama tak henti mencium perutnya yang membuatnya geli.
Tok tok tok
__ADS_1
" Tuan muda, nyonya minta saya membawa makanan untuk nona katanya biar nona muda bisa istirahat" kata bibi.
" Menanggu kesenangan orang saja sayang mas membuka pintu dulu" kata Tama, Nia menanggukan kepalanya.
Tama membuka pintu terlihat bibi membawa makanan dimintanya diletakan di atas meja.
" Ayo makan dulu sayang sejak pulang dari rumah sakit kamu tak makan" kata Tama, Nia menggelengkan kepalanya.
" Sayang kenapa ini bukannya kesukaanmu?" Tama, bingung melihat istrinya menolak makanan.
" Tapi Nia tak mau mas rasanya, Hwuek" Nia lari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya.
" Sayang, kamu tidak apa? "Tama, melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan kondisi lemas.
"Mas Nia tak mau duduk sebelum itu disingkirkan " kata Nia, menunjuk makanan di atas meja.
" Baiklah mas akan menggantinya dengan lainnya sekarang istri mas ini mau makan apa? " Tama, sambil membantu Nia duduk di sofa panjang.
Nia tersenyum membayangkan makanan yang diinginkannya.
__ADS_1
" Sop buntut tapi Mas yang masak"