
Tika dan Leo terjatuh di sungai bersama hingga mereka sampai di tepi sungai yang jauh dari pemukiman.
Leo sadar dan melihatnya sudah sampai di tepi sungai tangannya memegang berbatuan, dia teringat dia jatuh tak sendirian mencari keberadaan Tika.
" Tika" ucap Leo, mencoba mendekati Tika yang pingsan di tepi sungai tak jauh darinya. " Tika bangun kita harus pergi dari sini" kata Leo menepuk pipi Tika.
Tika merasakan sentuhan di pipinya dia mencoba untuk bangun. " Tika syukurlah" kata Leo membantunya untuk duduk. Tika batuk dan Leo menepuk punggungnya.
" Kak kita dimana sekarang sepertinya hari sudah mulai gelap" kata Tika melihat sekitarnya dan langit mulai gelap.
" Aku tidak tahu kita ada dimana sebaiknya kita pergi dari sini, kita harus mencari tempat tang aman untuk berteduh sepertinya hari akan turun hujan" seru Leo membantu Tika berdiri.
Mereka mencari tempat untuk berteduh karena hujan sudah mulai hujan.
Tedi dan Lia terus mencari keberadaan bos mereka. " Tuan, nona sebaiknya pencarian ini kita lanjutkan esok hari, hari sudah hujan" kata kepala desa.
Awalnya mereka menolak untuk pencarian ini dihentikan karena terus dibujuk oleh kepala desa akhirnya mereka istirahat di pos yang tak jauh dari sana, Lia teringat Nia dia belum memberi kabar pada bosnya menengai kejadian ini.
Nia berada di kamar lamanya di rumah orangtuanya dia menatap putrinya yang tidur dengan pulas, Nia menghela nafasnya secara kasar dan menatap langit sambil memikirkan suaminya tak menghubunginya seharian.
__ADS_1
Drt, drt, drt
Nia menjadi gelisah melihat panggilan dari Lia, karyawannya yang pergi bersama Tika.
" Ha" suaranya terputus karena Lia langsung memotongnya.
" Halo nona disini terjadi sesuatu" kata Lia dengan suara yang serak.
" Apa maksudnya Lia, mas Leo baik saja kan? " Nia, gemetaran takut mendengar kabar buruk.
" Nona tuan Leo dan nona Tika hilang, kami susah mencarinya tapi belum juga ketemu" kata Lia.
Green terbangun mendengar teriakan maminya dia juga menangis melihat maminya menangis, Green keluar memanggil nenek dan kakeknya.
Tok, tok tok.
" Nenek, hiks hiks" Green mengetuk pintunya. " Papi itu suara cucu kita ada apa ya pi" seru mami Yulia terbangun.
" Sebaiknya kita melihatnya" seru papi Primus, membukakan pintu dan terkejut cucunya menangis dan memeluk kakinya.
__ADS_1
" Sayang katakan pada kakek apa yang terjadi dan dimana mamimu" kata papi Primus. " Hiks, hiks Green tidak tahu kek tiba saja mami berteriak dan menangis" kata Green.
" Papi sebaiknya kita ke kamar Nia, mami khawatir" kata Mami Yulia. Papi Primus menggendong cucunya menuju ke kamar putrinya di lantai dua.
Kret pintu terbuka mereka terkejut melihat putrinya menangis tangannya menutupi wajahnya.
" Astagfirrah Nia, apa yang terjadi nak" kata Mami Yulia berlarian dan memeluk putrinya. Papi Primus meletakan Green di atas kasur dan dia menenangkan putrinya.
" Papi ayo kita pergi sekarang" kata Nia, mencoba untuk berdiri tapi papi Primus memeluknya.
" Tenanglah nak sekarang katakan pada papi apa yang membuatmu khawatir seperti ini" kata Papi Primus.
Nia menceritakan semuanya yang di katakan oleh Lia.
" Astagfirullah " ucap mami Yulia. " Papi ayo kita ke sana Nia harus mencari mas Leo, hiks, hik hiks" kata Nia, dalam pelukan papinya.
" Baiklah papi hubungi orang kepercayaan papi untuk mengurusnya" kata Papi, Nia senyum dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Papi ini hari sudah malam" kata mami Yulia. " Mam tahu sebdiri bagaimana putrimu itu, tenanglah aku ikut bersama dan sekarang jagalah cucu kita" kata papi Primus.
__ADS_1
Setelah mendapat kabar dari orang kepercayaannya papi Primus dan Nia langsung ke bandara menuju ke lokasi Leo dan Tika.