
Siang harinya mami Yulia sudah bersiap untuk pulang tapi bukan kembali ke kediaman keluarga Ramadhan tapi menuju kamar yang telah di persiapkan oleh papi Primus, Papi Primus membawa barang mami Yulia sedangkan cucunya di gendongan pelayannya yang ikut bersama Green.
" Kalian disini dulu papi akan bertanya pada dokter apakah kita sudah diperbolehkan menjenguk Nia" kata papi Primus meletakan barang di dekat meja.
Mami Yulia menanggukan kepalanya dia mencium kening istrinya dan cucunya.
" Green harus jaga oma, opa akan menemui dokter sebentar untuk menanyakan apakah cucu opa ini boleh menjenguk maminya" kata papi Primus.
" Ya opa Green akan menjaga oma" kata Green dengan memberi hormat pada opanya, mereka tertawa melihatnya.
" Bi nanti beli makanan di kantin rumah sakit saja" kata papi Primus. " Baik tuan" kata bibi. Kemudian papi Primus keluar menuju ruang dokter.
Ruang dokter
Tok, tok, tok.
__ADS_1
" Masuk" sahut dokter masuklah suster yang biasanya menjadi partnernya dalam memeriksa pasien.
" Maaf dokter tuan Primus ingin menemui anda" kata Suster, Dokter melihat arlojinya ternyata jam prakteknya sudah habis dan pasiennya sudah tak ada.
" Suruh masuk suster" kata dokter, kemudian suster memanggil papi Primus karena dokter memintanya masuk.
" Selamat sore dokter maaf jika saya menanggu kesibukan anda" kata papi Primus, dokter tersenyum.
" Tidak tuan anda tidak menanggu saya kebetulan jam praktek saya sudah habis, jadi kita bisa bicara sepertinya anda ada keperluan yang sangat penting untuk dibicarakan pada saya" kata dokter.
Dokter menghela nafasnya membuat papi Primus khawatir.
" Begini tuan kalian boleh menjenguk pasien tapi untuk cucu anda sebaiknya kita tanyakan pada dokter psikolog yang akan merawat putri anda, saya takut jika nanti pasien kembali histeris dan itu tidak baik untuk cucu anda" terang dokter.
Papi menanggukan kepalanya dia juga tak berani jika melihat cucunya ketakutan, papi Primus pamit karena harus kembali.
__ADS_1
" Green disini dulu ya bersama bibi atau Green ingin ke kantin membeli sesuatu" kata papi Primus, mami Yulia menatap suaminya bukankah mereka akan menjenguk Nia.
" Tapi opa Green kangen dengan mami" kata Green dengan sedih. " Green tahukan mami sedang tidur jadi opa sudah meminta izin pada dokter belum boleh sayang, nanti jika mami Green sudah bangun baru boleh" kata papi Primus.
Green menanggukan kepalanya dia kembali ingat maminya hanya diam dan tidur di rumah.
" Bibi ayo kita ke kantin Green ingin beli susu cokelat" kata Green, kemudian bibi pamit menemani nona kecil. Mami Yulia menatap suaminya.
" Ayo kita ke tempat Nia papi akan menjelaskannya sama mami nanti" kata papi Primus, mereka menuju ruang rawat Nia yang di lantai 3.
Mereka telah tiba di ruangan Nia mami Yulia menatap putrinya dengan kesedihan karena dalam ruangan tersebut tak ada apapun selain Nia dan brankar.
" Dad mami tak sanggup melihat putri kita seperti ini dia tak melakukan apapun kenapa dia yang menanggung semuanya" kata mami Yulia dengan sedih.
" Mami harus kuat menghadapi semuanya papi yakin setelah putri kita bebas dari semuanya ini dia akan menjadi pribadi yang kuat" kata papi Primus, memeluk istrinya.
__ADS_1
Mami Yulia menanggukan kepalanya mereka hanya melihat Nia dari jendela itulah yang dikatakan oleh suster penjaga.