Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Percakapan Kecil antara Ipar


__ADS_3

"Yelena!! kamu tidur atau tenggelam di dalam sana!?" teriak Aiden sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Tidak menjawab Yelena hanya terkekeh di dalam sana.


"Jika kamu tidak menjawab, dalam hitungan ketiga aku akan mendongkrak pintunya!"


"Satu.."


"Dua.."


"Ti~"


Klak~


Pintu terbuka.


"Bwahahaha..." Yelena tertawa.


Yang dia tertawakan adalah posisi tubuh Aiden yang bersiap untuk mendongkrak pintu. Dengan malu dia berbalik dan merapikan bajunya. Kemudian berdehem pelan.


"Cepat makan nasi gorengnya!" ucapnya.


"Wangi banget.. kamu yang buat?" tanya Yelena sembari menghampiri sepiring nasi goreng itu di meja.


"Bukan. Bibi yang buat."


"Kamu bangunin Bibi!?" tanyanya antusias.


"Nggak..." jawab Aiden juga antusias.


"Aku turun Bibi udah di dapur masak," lanjutnya.


"Awas aja kalo bohong!"


Yelena menatap Aiden tajam sambil menunjuknya dengan garpu di tangannya.


Aiden berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.


"Kamu udah makan? kamu mau?"


Tanya Yelena sembari mengangkat sesuap nasi di sendok nya.


Aiden membalik arahkan sendok itu ke mulut Yelena.


"Sekarang kamu sudah bisa berbicara santai denganku?" seringainya.

__ADS_1


Yelena membelalakkan matanya dan menoleh. Dia menghentikan aktivitas mengunyahnya. Dia baru menyadari hal itu.


"Ma- maaf," ucapnya terbata.


"Tidak apa. Aku senang jika kamu merasa nyaman denganku," tutur Aiden yang membuat Yelena tersenyum tipis.


"Terima kasih."


"Maka kedepannya aku akan sangat merepotkan mu," lanjutnya.


"Apa kamu sedang merayu adik iparmu?" ledek Aiden.


Uhukk~


Yelena tersedak. Segera Aiden memberikan segelas air padanya.


"Aku hanya bercanda," ucap Aiden.


Yelena mengangguk di tengah kegiatannya yang sedang meneguk air mineralnya.


Dia kembali melahap nasi gorengnya.


"Cepat habiskan, lalu aku akan mengganti perban mu!"


"Memang kamu bisa?"


Yelena terkekeh pelan. Kemudian kembali melahap nasinya hingga sendok terakhir. Aiden menyodorkan obat yang harus di minum Yelena padanya.


Yelena menatap ngeri obat-obatan yang ada di hadapannya. Kemudian menatap Aiden.


"Apa memang harus sebanyak ini?"


"Mengapa ada obat raksasa di sana?"


Aiden menepuk dahinya.


"Jangan cerewet cepat minum!"


Ucap Aiden sembari beranjak dari duduknya. Dia mengambil kotak P3K yang tergantung di sebelah sana.


Dia kembali duduk di samping Yelena. Sarung tangan lateks mulai dipakainya setelah menyemprotkan alkohol pada tangannya.


Dengan hati-hati dia membuka perban basah Yelena.


"Ck!" decak Aiden.

__ADS_1


"Apa terasa sakit?" lanjutnya.


"Tidak," jawab Yelena.


"Ini belum kering...kasa dalamnya tidak aku ganti karena tidak terlalu basah. Aku takut mempengaruhi jahitannya jika aku melepasnya paksa, karena ini menempel kuat dengan benangnya," jelas Aiden serius.


Yelena terkekeh.


"Kenapa?"


"Kamu seperti dokter sungguhan," puji Yelena.


"Cita-cita sejak dulu adalah menjadi dokter," ucap Aiden.


"Apa diriku sebelum kehilangan ingatan juga mengetahui hal itu?"


Deg!


'Sial! aku melupakan sandiwara nya..' pekik Aiden dalam hati.


Dia bingung harus menjawab 'iya' atau 'tidak'. Jika itu Allesa yang sesungguhnya, dia tidak tahu. Karena Aiden tidak pernah berbincang dengannya, juga tidak menyukainya. Karena sifatnya yang sombong dan bermuka dua saat dihadapan Sean.


"Iya, kamu tau,"


Akhirnya dia memilih jawaban itu.


"Berarti aku dulu juga sangat dekat dengan mu hingga kamu menceritakan hal seperti ini kepadaku?" tanya Yelena dengan bangga.


Aiden terdiam dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Tahap terakhir dia memutar perban, membalut kepala Yelena. Yelena yang merasa tidak nyaman itu mulai mengernyitkan dahinya.


"Mengapa harus dibalut seperti ini? aku tidak suka, itu sangat menggangu!" protesnya.


"Wah!! setelah merasa lebih dekat kamu sudah berani protes padaku ya?" protes balik Aiden.


"Aku akan menganggap mu seperti adikku sendiri. Jadi anggap aku seperti kakakmu sendiri juga. Aku tidak ingat seperti apa sikapku sebelum kehilangan ingatan ku. Jadi sebelum terlambat, aku ingin kita rukun."


Ucapan yang sangat menyentuh. Aiden pun juga tertegun mendengar hal itu. Membuatnya teringat akan masa kecilnya. Dia pernah meminta kakak perempuan pada ayah dan ibunya saat Sean menjahilinya hingga menangis.


Aiden tersenyum tipis.


"Ya.. karena saat ini aku yang lebih kuat darimu, maka aku akan melindungi mu. Kamu bisa datang padaku jika si Sean itu melakukan hal seperti tadi lagi. Aku akan memukul kepalanya dengan keras hingga dia merasakan berada di posisimu!"


"Maksud mu hilang ingatan?" tanya Yelena sambil terkekeh.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2