Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Hayden Xu


__ADS_3

"Hei, adik kecilku! dimana kau? aku sudah sampai di airport. Jemput aku!"


'Kenapa anda tidak bilang kalau datang kemari? apa anda tidak membawa pengawal?' jawab Yohan dari sambungan telepon itu.


'Bawa..'


"Aihh~ lalu mengapa anda menyuruh ku untuk menjemput? anda adalah orang besar, pastinya ada seseorang yang akan menjemput anda kan?"


'Kau membuat ku sedih, Yohan..' ucap sedih Hayden yang dibuat-buat.


"Ok, ok. Baik, aku akan segera ke sana.." jawab telepon Yohan.


...****************...


Celana jeans dengan kaos oblong putih. Tidak ada koper, hanya tas selempang kecil yang tergantung di pundaknya. Meskipun mengenakan kaca mata hitam, Yohan masih dapat mengenali pria itu.


"Hei! kaca mata hitam!" teriaknya.


Hayden mendongak setelah mendengar suara yang familiar itu. Dia tersenyum lebar, kemudian berjalan ke arah Yohan.


"Dasar anak yang tak punya urat malu.." seru Hayden sembari merangkul pundak Yohan.


"Tidak mungkin anda jauh-jauh datang kemari hanya membawa tas selempang kecil itu kan?" sindir Yohan.


"Koper ku telah dibawah oleh bawahan ku.." jawab santai Hayden.


"Aishh~ anda benar-benar membuat ku gila!" gerutu Yohan.


"Di hotel mana anda menginap?" tanya Yohan saat di dalam mobil.


"Tidak tau, aku lupa.."


Yohan menatap Hayden dengan tatapan malas dan tak percaya.


"Ayolah, ini malam tahun baru, setidaknya ajak aku berkeliling.." ujar Hayden.


"Ini masih siang, belum malam.."


"Ok, ok..siang tahun baru," Hayden meralat ucapannya untuk menggoda Yohan.


"Terserah anda!"


drrtt drrtt~

__ADS_1


Yohan menatap layar ponselnya. Dengan segera dia mengangkatnya setelah nama Yelena tertera di sana.


'Halo?'


'Yohan, aku sudah memutuskannya. Malam ini aku akan pergi.'


Yohan terdiam sejenak.


'Apa kamu benar-benar yakin?'


'Sangat yakin!'


'Baik, malam ini aku akan menjemputmu. Hubungi aku saat kamu sudah siap.'


Panggilan terputus. Yohan menghela napas panjang seraya mengusap rambutnya dengan frustasi.


"Kenapa? siapa itu?" tanya Hayden.


"Teman masa kecilku sejak di panti.."


Hayden mengangguk paham. Dia tidak lagi bertanya, karena dia yakin Yohan akan segera memberitahu nya.


"Kak?" seru Yohan.


"Aku mengambil kartu AS ku, apa kakak mau membantu ku?" tanya Yohan membuat Hayden melepas kaca matanya.


"Seterpuruk apapun kau tidak pernah meminta bantuan ku. Dan sekarang kau mengambilnya? apa temanmu seberharga itu?"


"Sangat berharga!" tegasnya.


"Namanya Yelena Xu.."


Sontak Hayden menoleh dan membelalakkan matanya.


"Kenapa? Marga nya sama dengan kakak? Aku dulu juga sempat mengira dia bagian dari keluarga kakak. Namun semakin aku dekat dengan kakak, kakak tidak pernah menyinggung masalah adik perempuan. Dan setelah itu anggapanku berubah.." jelas Yohan.


"Yelena Xu.." gumam Hayden.


"Tunggu. Kau ingat pernah menyinggung masalah kalung yang kau bilang itu terlihat sama seperti milikku?"


"Apa itu milik gadis yang sedang kau bicarakan?" lanjutnya dengan nada serius.


Yohan menepikan mobilnya.

__ADS_1


"Benar.." ujarnya.


"Yelena Xu adalah nama yang diukir di balik kalung itu?" lanjut tanya Hayden.


Yohan tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya dan tertawa ringan. Dia sangat bahagia. Ternyata Yelena masih memiliki keluarga. Dan juga keluarganya adalah orang baik-baik.


"Jadi itu benar?" gumam Hayden.


Hayden tertawa tak percaya. Dia tak menyangka ternyata adik yang belum pernah dia lihat sama sekali, adik yang dia kira telah meninggal sejak di dalam kandungan Ibunya itu, ternyata masih hidup, dan telah tumbuh dewasa.


"Yelena Xu adalah nama Ibuku.." ujar Hayden.


"Aku juga tidak menyangka ternyata adikku berhasil lahir ke dunia ini.." Hayden memijat pangkal hidungnya.


"Sampai saat ini aku tidak tau apa yang telah terjadi di tahun itu, karena saat itu aku dan Helio tinggal di asrama sekolah."


"Aku mendengar ini dari kakek. Ayah dan Ibu diincar oleh geng musuh Ayahku, lalu mereka di bunuh. Hanya itu, aku tidak tau jika adikku lolos dari maut itu..bukan hanya aku, mungkin kakek juga tidak tau."


"Geng?" gumam Yohan.


"Ya, Ayahku seorang mafia. Kau kira dari mana aku menemukan orang-orang menyeramkan yang ada di sisi ku itu? Itu adalah orang-orang geng Ayahku yang masih mengabdi hingga saat ini.." ujar Hayden dengan tawa kecilnya.


"Tunggu, kenapa bisa Yelena lahir di sini? bukankah anda orang luar?"


"Sebenarnya aku bukan orang luar negeri asli. Aku hanya merubah kewarganegaraan ku. Setelah orang tuaku meninggal, kakek mengusung ku dan Helio keluar negeri."


"Kakek anda orang asli sana?"


"Astaga..kau terlalu banyak bertanya~ apa kau sedang menggali asal usul keluarga kami?"


"Ya, kakek adalah orang yang sangat berpengaruh di sana. Makanya kakek membawaku bersamanya."


"Tunggu. Apa jangan-jangan kau ingin menjadi adik ipar ku?"


Yohan tertawa, kemudian membuka kaca mobilnya untuk menghirup udara segar. Jujur jika dia ada kesempatan jawabannya adalah IYA. Sayangnya dia tidak memiliki kesempatan. Hati Yelena untuk orang lain.


Sebagai orang yang mencintainya, dia rasa dengan membantunya keluar dari rasa sakit adalah pilihan yang terbaik. Karena cinta tidak harus memiliki.


"Jadi, bantuannya adalah menjemput dia?" tanya Hayden.


"Ya.."


Yohan mulai menceritakan kepada Hayden apa yang telah terjadi kepada Yelena. Hayden sangat marah, dia tidak terima adiknya di permainan seperti itu. Terlebih yang mempermainkan tidak lain adalah musuhnya.

__ADS_1


"Aku akan membuatnya hancur setelah aku mendapatkan adikku kembali!" ujar Hayden.


__ADS_2