
'Wah, ternyata ada kamar didalam ruang kerjanya?' batin Yelena.
Sean membaringkan tubuh Yelena pada ranjang dengan hati-hati. Dan di belainya dengan lembut kepala Yelena yang terbalut kasa putih itu.
"Apa kepalamu terasa sakit?" tanyanya.
Deg deg~
Yelena tidak menjawab pertanyaan itu, karena dia tidak dapat mendengar dengan jelas kalimat apa yang sedang diucapkan oleh Sean. Yang didengarnya saat ini hanyalah debaran jantungnya.
Sean berdiri sangat dekat. Jika di perhatikan lagi, posisi Sean seperti akan mencium kening Yelena.
Gadis polos yang sedang salah paham itu mulai memejamkan matanya. Menanti hal mendebarkan yang akan datang.
"Mengapa kamu memejamkan matamu? apakah sesakit itu?"
Sean menyentuh kedua pipi Yelena.
'Eh?' batin Yelena.
Perlahan dia membuka sebelah matanya mengintip. Kemudian mulai membuka sebelah matanya lagi. Dia mendongak menatap Sean.
"Apa perlu ku antar ke Rumah Sakit?" tanya Sean mulai khawatir.
Sungguh memalukan, pikirnya. Dia menyengir seperti orang kikuk. Dia merasa malu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Yelena! apa kamu baik-baik saja!?"
Sean yang memperhatikan tingkah laku aneh Yelena itu pun semakin menaikkan nada bicaranya untuk menyadarkannya. Dia menggoyangkan tubuh Yelena pelan.
"Apa kamu mengingat ku?"
Yelena membelalakkan matanya. Dia tadi hanya sedang asyik dengan dunianya sendiri. Tidak menyangka jika Sean menanggapinya seserius itu.
Yelena membelai pipi Sean dengan sebelah tangannya. Senyum manis mulai terurai di wajahnya. Tatapan mata hangat bak tatapan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya itu pun dia perlihatkan.
"Bagaimana bisa aku tidak mengingat mu?"
Deg!
Bukan Yelena. Kini Sean yang mulai merasakan debaran itu. Dia yang tadinya tidak menatap mata Yelena, kini menatapnya dengan tatapan 'aku merindukanmu'.
'Tenangkan dirimu Sean!' tekannya dalam hati.
Dia memalingkan wajah dan mulai memundurkan langkahnya. Yelena yang melihat hal itupun mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa Sean?" tanyanya.
Sean berbalik membelakangi Yelena. Tidak ingin wajah kacaunya itu terlihat olehnya.
"Tidak. Jika kamu baik-baik saja, maka aku akan pergi. Aku ada rapat," ucapnya sambil berjalan keluar.
__ADS_1
Yelena menatap punggung Sean yang semakin menjauh. Sesuatu yang aneh dia rasakan dalam dadanya. Sesak.
Bagaimana bisa dia berubah secepat itu? pikirnya.
"Tidak."
Sean menghentikan langkahnya.
"Aku tidak baik-baik saja jika kamu tiba-tiba pergi begitu saja. Apa yang terjadi? apa menatap wajahku se memuakkan itu?"
Yelena mengucapkan kalimat itu dengan berani. Namun dia tidak berani mendongak, dia menunduk. Dia takut jika mendongak akan membuat pria di hadapannya itu menghilang dari balik pintu.
"Aku tau kamu tidak menatapku karena trauma akan kecelakaan ku, kamu takut jika akan kehilangan ku."
'Apa? apa yang sedang dia bicarakan? bagaimana bisa dia membuat kesimpulan seperti itu?' batin Sean.
Pikirnya semakin kacau. Tidak tahu kalimat apa yang harus dia ucapkan. Saat ini dia tidak bisa mengikuti permainannya sendiri.
"Tapi bukankah langsung berbalik seperti itu sedikit keterlaluan? apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ku?" lanjut Yelena.
"Tunggu aku sepulang kerja!"
Hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Sean. Tanpa membalikkan badannya. Dia berlalu.
Bulir bening kembali menetes untuk yang kesekian kalinya sejak dia terbangun. Terbangun tanpa mengingat apapun, dan menangis tanpa mengetahui apapun. Bukankah Tuhan sedikit tidak adil padanya?
__ADS_1
BERSAMBUNG...