
Sudah sejak beberapa menit yang lalu dia duduk di sana. Duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah terlelap pulas Yelena.
Secara refleks dia mengulurkan tangannya, menyibak rambut Yelena yang berantakan.
'Jika dilihat lebih dekat dan lebih jelas lagi, dia lebih cantik dari Allesa,' batinnya.
Tangannya beralih ke sudut bibir Yelena.
'Senyum itu juga indah,'
'Mata itu...'
Dia menatap mata terpejam Yelena. Kemudian membelainya lembut.
'Semakin aku menatap mata itu, semakin aku tenggelam. Seperti sebuah sihir yang membuat diriku kehilangan kendali saat menatapnya.'
"Aku takut menghancurkan tembok pembatas ku sendiri," lirihnya.
Dia menarik kembali tangannya dan mulai beranjak dari duduknya.
"Sean?"
Sean menghentikan langkahnya saat gadis yang memanggil namanya itu menarik ujung lengan jas nya.
"Jangan pergi!"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan memakai gaun itu lagi.."
Dia menoleh. Menatap tangan yang menghentikannya. Kemudian berbalik menatap gadis yang ternyata masih terlelap itu. Yelena mengigau. Wajahnya yang basah dengan air mata membuat Sean tertegun. Hal itu melukai nuraninya.
Dia memejamkan mata dengan wajahnya yang gusar. Dia sangat frustasi dengan dirinya sendiri. Kemudian dengan tega dia menghempas tangan Yelena yang masih memegang erat ujung bajunya dan berlalu begitu saja.
Dia keluar dari ruang kamar itu, dan kini sedang menghempaskan tubuhnya pada kursi kerjanya.
Brak~
"Argghh!"
Dia menggebrak meja sambil berteriak meluapkan emosinya. Dia benar-benar kacau.
Awalnya dia hanya ingin menahan Yelena karena parasnya yang mirip dengan Allesa. Itu belum berjalan lama. Dia bahkan telah menyakitinya kemarin. Namun Yelena yang penuh dengan kejutan itu menggoyahkan Sean. Membuatnya merasa sangat bersalah dengan sendirinya karena sifat lembut Yelena.
Pintu kantornya terbuka dengan keras. Siapa lagi yang berani membuka pintu itu dengan begitu keras jika bukan Aiden.
Sean menatap Aiden yang menghampirinya dengan tatapan kacau.
"Brengsek!"
Aiden meraih kerah baju kakaknya itu dan mencengkeram nya dengan kuat.
"Aku sedang tidak ingin diganggu, keluar!" ucap Sean.
__ADS_1
"Apa kakak sadar apa yang telah kakak lakukan!?" Aiden berteriak didepan kakaknya.
Sean membuang muka. Dia tidak melawan ataupun mendorong Aiden untuk melepas cengkeramannya. Dia tetap diam di tempat dan menerima luapan amarah dari adiknya.
Dia tidak mengelak pernyataan itu. Juga tidak menjawab ucapan adiknya.
"Sial!"
Aiden melepas cengkeramannya dengan kasar. Sambil memijat pangkal hidungnya dia melangkah mundur. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa depan meja kerja Sean.
"Dia meragukan dirinya. Dia juga menyalahkan dirinya atas apa yang telah kakak ucapkan!"
"Dia orang yang tenang dan sabar. Setelah apa yang terjadi dia masih bisa tertawa. Entah terbuat dari apa hatinya itu. Orang yang baru saja bangun dan tidak tau apa-apa itu tiba-tiba diperlakukan seperti itu. Apa kakak sadar perbuatan kakak!?"
"Aku menjaganya semalaman. Aku takut kekhawatiran ku benar, tapi memang itu benar. Dia menangis dalam tidurnya. Dia memanggil nama kakak dan terus meminta maaf. Aku juga punya hati kak! Kakak yang paling tau apa kelemahan ku. Bagaimana bisa aku melihatnya seperti itu!?"
"Aku tau apa yang harus aku lakukan."
Hanya itu jawaban Sean.
Bugh~
Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Sean. Namun dia hanya menyeringai. Dan menatap Aiden dengan tatapan iba.
"Aku merasa sangat kasihan padamu..sudah beberapa tahun berlalu tapi hal itu masih menghantui mu.."
__ADS_1
BERSAMBUNG...