
Wajahnya yang penuh amarah seketika berubah pucat. Ingatan masa lalu kembali menghampiri kepalanya setelah sepuluh tahun berlalu. Setelah sekian lama dia melupakan peristiwa maut itu. Hari ini pertama kali dalam sepuluh tahun dia mengingat kembali peristiwa itu.
Sebuah tangisan dengan lumuran darah, suara teriakan dan jeritan. Suara benturan keras dan suara rem yang dipaksa untuk memberhentikan mobil yang terus berputar. Suara ambulans dan kerumunan orang-orang.
Isi kepalanya mulai penuh dengan hal-hal mengerikan itu. Matanya memerah. Aiden mengepalkan tangannya di atas meja Sean. Sedangkan seseorang yang duduk di hadapannya itu menatapnya dengan tatapan penuh dengan rasa kasihan. Tidak, lebih tepatnya tatapan merendahkan.
Sean sudah berubah. Perubahannya sangat keterlaluan. Aiden menatap Sean dengan napas tersengal-sengal karena ingatan mengerikan itu.
Dia sangat menghormati Sean. Apalagi kepedihan yang dia rasakan lebih berlipat ganda. Tiga bulan setelah Allesa meninggalkannya, Yudhistira Li ayah mereka meninggal dunia karena kanker otak. Selain Ibu mereka Gloria Li dan Aiden, Sean lah yang paling terpukul. Dia merasa dunia tidak adil padanya. Setelah kehilangan calon tunangannya, dia juga kehilangan sosok ayah yang sangat dia banggakan.
Dengan keadaan dirinya yang kacau dia mengurus perusahaan yang hampir diujung tanduk karena kabar kematian pimpinan perusahaan Li itu sendiri. Kurang dari satu tahun dia berhasil membawa kembali perusahaan ke puncak. Aiden yang saat itu masih sibuk dengan kuliahnya tidak dapat membantu apa-apa.
Meskipun menjadi pelampiasan uring-uringan, Aiden tetap menyayangi kakaknya itu dan menghormati nya. Sekalipun dia tidak pernah mengungkit hal-hal yang akan membuatnya sakit. Tapi sekarang dia yang melakukan hal itu padanya.
Sungguh tidak adil.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kakak jadi seperti ini..." lirih Aiden sambil menundukkan kepalanya.
"Kakak yang selalu aku hormati. Kakak yang dulu selalu melindungi ku, tersenyum padaku. Mendengar ucapan ku...kemana hilangnya kakak ku yang dulu!?"
Aiden berusaha kuat untuk menahan air matanya agar tidak menetes di hadapan Sean.
Sean menatap adiknya yang sedang menundukkan kepalanya itu. Rambut hitam lurus nya, dia dulu sering mengusap rambut itu. Dibawah sana dia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Sean, kakakmu.. dia tidak hilang, dia juga tidak pergi. Hanya hatinya yang mati. Hatinya telah mati sepuluh tahun yang lalu.."
Sean mengusap rambut Aiden.
Mungkin terlihat memalukan untuk setiap pria. Namun, itu tidak berlaku untuk saat ini. Dia yang tidak pernah menitikkan air mata meskipun saat ayahnya meninggal, saat ini pipinya basah akan air mata.
Dia sangat merindukan sosok kakaknya.
__ADS_1
Sean tercengang melihat pemandangan langka dihadapannya. Dia ingin mengusap pipi yang basah karena air mata itu. Tapi tidak bisa. Jika itu dulu, rasa sayangnya pada Aiden dapat mengalahkan sifat dinginnya. Namun sekarang hatinya telah membeku. Bahkan mengucapkan kalimat lembut dari mulutnya pun sangat sulit.
'Aku sangat memalukan..' batinnya.
Aiden menatapnya dengan penuh harapan besar. Namun seketika harapannya rusak saat Sean berdiri dari duduknya.
"Pria yang menangis sungguh sangat memalukan!"
"Kamu sudah 25 tahun, jangan kekanakan!"
Aiden berbalik menatap Sean yang membelakanginya. Dia menangis bukan untuk dikasihani, bukan juga untuk dihibur. Dia hanya merasa terharu.
"Jangan selalu mengaitkan kejadian itu dengan kehidupan mu. Kelemahan apanya? kamu hanya tidak bisa terlepas dari masa lalu mu. Masalah dia, itu bukan urusanmu. Aku bisa mengurusnya sendiri dengan caraku. Jangan pernah ikut campur! apa yang telah kamu katakan padanya sehingga dia mulai membicarakan omong kosong.."
Ucap Sean tanpa menatap Aiden. Kemudian berlalu setelah ucapannya selesai.
__ADS_1
"Tolong jangan membuatku untuk membencimu, kak.." lirih Aiden saat Sean hendak membuka pintu.
BERSAMBUNG...