
"Kamu wakil direktur di sini kan?" tanya Yelena memecah kecanggungan.
"Pfftt~"
"Maaf..maaf..aku tidak bisa menahannya," ucap Aiden yang membuat Yelena memanyunkan bibirnya.
"Bukan ya?" Yelena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan kikuk.
Berencana memecah kecanggungan, tapi keadaan malah semakin membuatnya canggung.
"Ya..aku tidak bisa mengalahkan mu,"
"Aku manager keuangan di perusahaan pusat," jelasnya.
"Aku kira perusahaan ini~" Yelena mengehentikan ucapannya kemudian mereka-reka.
"Mau ke atap?"
Yelena masih terbengong. Tanpa menunggu jawaban dari Yelena, Aiden menarik tangannya keluar. Dalam perjalanannya menuju lift, Yelena mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru lantai itu.
"Sean gak ada di perusahaan, dia ada rapat," ujar Aiden peka dengan hal yang dilakukan Yelena.
Yelena mengangguk-angguk. Dia baru ingat jika Sean tadi juga sempat pamit seperti itu sebelum pergi. Yelena tersenyum kecut saat mengingat apa yang telah terjadi di ruang istirahat.
"Li Group adalah perusahaan utama. Perusaan itu sudah turun temurun dalam keluarga Li. Dan DC Entertainment ini di dirikan sendiri oleh ayah kami diluar naungan Li Group. Perusahaan ini di bangun untuk ibu kami. Karena dulu beliau adalah seorang penyanyi..."
Dia menghela napas sejenak dan tersenyum, kemudian duduk berselonjor di lantai lift.
__ADS_1
"Saat dipuncak ketenarannya, ibu menikah dengan ayah dan mengandung Sean. Saat itu kandungan ibu sangat lemah, jadi ayah memintanya hiatus dari pekerjaannya.."
"Wah...ini akan jadi cerita yang sangat panjang.." seru Aiden.
"Tidak apa, aku menyukainya..." ucap Yelena sembari mengikuti Aiden duduk berselonjor di sampingnya.
"Jadi setelah Sean lahir, apa ibu kalian kembali menjadi penyanyi?" tanya Yelena kemudian.
"Tidak, ibu hengkang dari pekerjaannya. Hingga Sean berusia 5 tahun, perusahaan ini baru berkembang. Dan saat itu ibu mengurus perusahaan ini. Dalam posisi yang sedang mengandung ku ibu bolak-balik ke luar negeri untuk melakukan kerjasama dengan pihak luar. Dan jadilah ini, perusahaan Entertainment terbesar yang menghadirkan penyanyi dan aktor berbakat dan terlatih,"
"Wah...hebat sekali," seru Yelena.
"Lalu mengapa saat ini Sean yang mengurus perusahaan ini?" lanjutnya.
"Karena saat ini ibu kami yang mengurus perusahaan utama,"
"Bagaimana dengan ayah kalian?"
Ting~
Tanpa waktu terasa lift telah terbuka.
Cerita yang cukup panjang itu membuat Yelena lega. Dia merasa lebih di hargai. Karena dia yang selama ini selalu mendapatkan jawaban yang tidak dia inginkan.
Namun untuk pertanyaan terakhir yang dia tanyakan belum mendapat jawaban. Yelena mengekor di belakang Aiden menyusuri lantai puncak gedung itu. Mengikuti langkah kakinya yang lebar.
"Terima kasih," ucap Yelena tiba-tiba.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Dongeng barusan,"
"Wah, kamu jahat sekali mengatakan hal itu sebagai dongeng.."
Buk~
Yelena menabrak punggung Aiden. Punggung yang keras penuh dengan otot itu membuat hidung Yelena terasa cenut cenut.
Yelena memukul pundak Aiden.
"Apa kamu sengaja?" protes Yelena sembari mengusap hidungnya.
"Kita sudah sampai,"
Aiden menyingkir kesamping. Sebuah pintu terpampang di hadapan Yelena saat ini. Aiden memberi isyarat mata agar Yelena membukanya.
Dengan ragu Yelena mengulurkan tangannya membuka pintu itu. Hembusan angin kencang menyambut kedatangannya. Membuat Yelena memalingkan wajah dan menghalangi angin itu menerpa wajahnya dengan telapak tangannya.
Rambut dengan perban yang sudah seperti hiasan kepala itu menari-nari. Perlahan dia menampakkan kakinya keluar. Keramaian kota dapat dia lihat dari atas gedung itu.
"Ayah kami meninggal tiga tahun yang lalu.."
Deg~
Yelena tidak berani menoleh. Menoleh pun dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
__ADS_1
Rasa penasarannya saat di ruang kerja tadi, seketika hilang. Satu kalimat ini sudah cukup menjawabnya. Dia tidak ingin mengorek hal yang sensitif bagi Aiden.
BERSAMBUNG...