
Yelena sedang duduk di ayunan, menahan tubuhnya dengan berpegang pada besi ayunan dia mendongak menatap langit cerah di atas sana.
Angin sepoi-sepoi menerpanya. Membuat tubuhnya seakan melayang di udara. Sebuah daun jatuh di atas wajahnya, membuatnya memejamkan matanya.
Dia menegakkan tubuhnya, daun itu pun jatuh ke pangkuannya. Disentuhnya daun itu. Kemudian meremasnya. Daun itu berbentuk retakan-retakan kecil saat dia membuka genggamannya. Namun bentuknya tetap sama, hanya beberapa bagian kering saja yang hilang.
Sama seperti tubuhnya. Hanya beberapa bagian saja yang hilang, namun tubuhnya tetaplah tubuhnya.
Sangat disayangkan bahwa dia tidak dapat mengingat siapa dirinya.
Dia berdiri dari duduknya. Rasa bosan yang saat ini dia rasakan. Tidak tahu harus melakukan apa. Aiden pun sudah berangkat bekerja. Akhirnya jalan-jalan mengelilingi halaman rumah adalah pilihannya.
"Bibi mau kemana?" tanya Yelena saat berpapasan dengan Bibi yang hendak keluar.
"Ini Non, berkas tuan muda ada yang ketinggalan," jawab Bibi.
Yelena berpikir sejenak. Kemudian mengambil alih berkas itu dari tangan Bi April.
"Biar Yelena saja Bi yang ngantar," ucapnya.
Bibi tampak ragu untuk menjawab permintaan Yelena.
"Ba- baiklah Non. Pak Daus sudah nunggu di depan. Hati-hati ya Non.." tutur Bi April.
Dengan gembira Yelena melangkah keluar gerbang rumah. Di sana sudah ada Pak Daus dengan mobilnya yang siap berangkat.
"Loh, kok Non Yelena?" gumam Pak Daus heran.
__ADS_1
"Iya Pak," jawab Yelena sambil menyunggingkan senyumnya.
Mobil pun melaju menuju kantor Sean.
Di bukanya kaca mobil itu. Hembusan angin menerpa wajahnya, membuat rambut dengan gulungan perban di kepalanya itu menari-nari.
Yelena mengeluarkan sebelah tangannya keluar jendela. Sembari memejamkan matanya dia menikmati terpaan angin sejuk pagi itu.
"Non, bahaya.." tutur Pak Daus.
Yelena terkekeh pelan. Seperti seorang anak kecil yang hanya peduli pada dunianya.
"Baik Pak," ucapnya sambil memasukkan kembali tangannya.
Dia tidak sabar lagi untuk sampai di kantor Sean.
Yelena mendongakkan kepalanya mengikuti tingginya gedung yang ada di hadapannya. Dia melebarkan telapak tangannya dia atas dahi, menghadang sinar matahari yang membuatnya menyipitkan mata.
DC Entertainment. Yelena membaca tulisan besar itu. Sebuah setruman tiba-tiba menyerang kepalanya.
"Aw~" rintih nya sambil memegang kepalanya.
Dia mencoba menenangkan pikirannya. Yelena merasa tidak memikirkan apapun, namun mengapa rasa sakit menyerangnya. Dia tidak tahu hal itu.
Perlahan dia melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung itu saat rasa sakitnya mulai mereda. Dia melihat sekelilingnya. Dia tidak mengenal siapapun.
"Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis.
__ADS_1
"Saya mau menemui Sean," jawabnya.
Kedua wanita di meja resepsionis itu saling menatap. Ekspresi wajah heran mulai terlihat pada wajah mereka.
"Apa anda sudah membuat janji temu dengan beliau?" tanya resepsionis itu.
Yelena terdiam. Kemudian menggeleng pelan.
"Belum. Saya hanya ingin mengantarkan berkasnya yang ketinggalan," jelas Yelena.
Salah satu dari kedua wanita itu menyeringai. Menatap Yelena dari atas kebawah dan kembali lagi.
"Kamu kira kita percaya!? tidak sedikit orang yang berpura-pura sepertimu!" ucap resepsionis itu tanpa rasa hormat.
"Maaf, tapi sa~"
"Silahkan pergi!" ucapnya sebelum Yelena menyelesaikan ucapannya.
Yelena menatap map di tangannya. Jika dia tidak diperbolehkan untuk masuk, maka setidaknya dia harus meninggalkan berkas itu di sana. Itulah yang saat ini dia pikirkan.
"Kalau begitu tolong berikan berkas ini kepadanya," Yelena menyodorkan map itu.
Wanita itu menerimanya, kemudian melemparkannya ke lantai.
"Ku rasa ini tidak penting, dan tidak dibutuhkan disini!" maki nya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1