Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Apa Kamu Ingin Mencobanya Lagi?


__ADS_3

Aiden mengulurkan tangannya, mengusap pipi Yelena dengan lembut. Membuat pemilik pipi bersemu merah itu bergidik geli.


"Apa kamu ingin mencobanya lagi?" godanya yang membuat Yelena membeku.


"Dengan ku?" lanjutnya.


Yelena masih tak bergeming, tatapannya terpaku pada bola mata Aiden. Dengan ekspresi wajah itu siapa yang tidak ingin menggodanya.


Tangan Aiden kini berpindah ke tengkuk Yelena. Perlahan dia menariknya mendekat. Jarak diantara keduanya hanya sejengkal jari. Kini Aiden yang mendekatkan dirinya. Dia memiringkan kepalanya mendekat pada Yelena.


Yelena memejamkan matanya.


Puk~


Telapak tangannya berhasil membungkam bibir Aiden saat hidung mereka bersentuhan.


"Apa kamu ingin mati!? dasar bocah nakal!" pekik Yelena.


"Bwahaha~" Aiden menjauhkan dirinya dan tertawa puas.


Yelena yang kesal itu pun memukuli tubuh Aiden. Tapi bukannya merintih kesakitan, Aiden malah tertawa. Membuat Yelena semakin jengkel dan menambah kekuatan memukulnya.


Grep~


Aiden berhasil menangkap kedua tangan Yelena. Kini dia tidak dapat berkutik. Kerutan di keningnya itu membuat kedua alisnya hampir menyatu. Wajahnya sangat memerah.

__ADS_1


"Pftt~ kamu seperti seekor kelinci!"


Kerutan di keningnya bertambah parah. Yelena menggigit bibir bawahnya. Kemudian menghempas tangan Aiden dengan kuat hingga tangannya terlepas dari genggaman Aiden.


Secepat mungkin dia berdiri untuk melarikan diri dari Aiden yang terus menggodanya. Namun naas, dia lupa dengan keadaan kakinya yang membengkak. Dia terjatuh.


"Daras kelinci.. sudah berapa kali kamu jatuh hari in~"


Aiden menghentikan ucapannya saat mengetahui kaki Yelena yang membengkak. Segera dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Yelena di belakang sana.


"Kapan ini terjadi? apa di roof top tadi?" tanya Aiden meninggikan suara.


Yelena menggeleng pelan.


"Ck~"


Setapak demi setapak Aiden menaiki anak tangga. Sedangkan Yelena hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap orang yang membopongnya itu. Dia tidak ingin kakak beradik itu bertengkar lagi. Namun meskipun dia tidak menyebutkan kejadiannya pun Aiden tetap tahu siapa yang telah membuatnya seperti itu.


Aiden menurunkan Yelena di atas ranjang dengan perlahan. Kemudian berjongkok dihadapan Yelena untuk memeriksa kakinya.


"Aku akan memanggil dokter.." ucapnya.


"Tidak usah!"


Yelena menggenggam erat tangan Aiden sambil menggeleng-geleng pelan.

__ADS_1


"Ini tidak terlalu parah, hanya perlu di kompres es saja," ujar Yelena.


"Bagaimana bisa bengkak seperti itu disebut tidak parah!?" Aiden meninggikan suaranya membuat Yelena memejamkan mata kaget.


Aiden mengerutkan keningnya kemudian menghela napas pasrah.


"Maaf kan aku.." dia mengusap kepala Yelena.


"Tolong jangan memanggil dokter yaa..?" mohon Yelena sambil tetap menggenggam tangan Aiden.


Aiden hanya bisa pasrah dan menyerah pada wanita itu. Tanpa berkata dia beranjak dari jongkoknya dan keluar dari kamar. Bukan pergi, tapi menuju dapur untuk mencari es batu.


"Apa kamu punya handuk atau kain lainnya untuk membungkus es ini?" tanya Aiden saat kembali ke kamar.


"Tidak tau, coba kamu cari di lemari," jawab Yelena.


Aiden meletakkan baskom berisi es itu di meja. Kemudian menghampiri walk-in closet berukuran se perempat kamar itu yang ada di ujung sana. Dia dibuat kaget saat memasuki ruangan itu. Kosong. Tidak ada satu helai kain pun di dalam sana. Rahangnya mulai mengeras. Sean benar-benar sudah gila, batinnya.


"Apa tempat ini memang kosong?" tanyanya menatap Yelena yang sedang duduk di sana dengan tajam.


"Kosong?" tanya balik Yelena bingung.


Aiden semakin mengerutkan keningnya.


'Bahkan dia pun tidak tau?' batinnya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar aku akan segera kembali," pamit Aiden sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu sana.


BERSAMBUNG...


__ADS_2