Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Aku Akan Menendang 'ITU-NYA'!


__ADS_3

"Ya, kamu benar..kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya,"


"Maka dari itu, aku akan menendang itu nya saat aku bertemu dengannya! aku akan memberinya pelajaran karena sudah menakuti mu!" ucap Vivian geram sembari *******-***** bantal di tangannya.


"Kamu berani dengannya?" tanya Yelena ditengah tawanya.


"Tentu saja, waktu kecil aku pernah memukul kepalanya saat dia membuat Aiden menangis. Meskipun saat itu aku dan Aiden masih bermusuhan.."


"Waktu kecil?"


"Iya, kami tumbuh bersama.."


Yelena mengangguk-angguk mengerti, kemudian menundukkan kepalanya dan kembali memainkan jarinya. Ternyata masih banyak hal yang belum dia ketahui. Aiden pernah bercerita tentang Vivian, namun dia tidak mengulas tentang masa kecil mereka itu.


'Aku harus segera pulih, ingatan ku harus segera kembali!' batinnya dalam hati.


Vivian meliriknya dengan waspada. Kemudian memalingkan wajahnya dan memukul pelan kepalanya.


'Duhh..kenapa malah ngomongin itu sih?? dasar Vivian bego! kalo nanti dia tanya yang aneh-aneh aku harus jawab apa!?' gerutu Vivian dalam hati.


"Kamu mau makan sesuatu?" tanya Vivian mencairkan suasana.


Yelena mengangkat kepalanya dan menoleh pada Vivian. Jika diingat lagi, seharian penuh kemarin dia belum makan apapun. Dia juga merasa perutnya sedang lapar saat ini.


Diliriknya jam digital yang ada di mejanya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam yang tadi masih menunjukkan pukul 2 siang, kini telah berganti ke pukul 4.

__ADS_1


"Apa kamu nanti menginap di sini?" tanya Yelena.


"Di tanya malah balik nanya.." gerutu Vivian.


Yelena meringis..


"Mungkin nanti aku akan balik ke hotel jam 6 atau setengah 7."


Mendengar jawaban itu membuat Yelena sedikit kecewa. Malam ini dia akan sendirian lagi. Saat dia sendiri, pikirannya akan melayang kemana-mana. Dan dia sangat takut saat hal itu mulai menghantui dirinya.


Beberapa hari ini dia banyak bermimpi buruk. Mimpi yang tak terlihat jelas, hanya samar-samar. Dia melihat seseorang sedang di kerumuni banyak anak kecil yang sedang menangis, seakan tidak mengizinkan orang itu untuk pergi. Tapi dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang itu.


Ditambah lagi dengan Yohan yang tiba-tiba muncul kemarin dan mengatakan jika dia adalah teman masa kecilnya di panti.


"Yelena! kamu kenapa?" tanya Vivian khawatir.


"Tidak, kepalaku hanya sedikit pusing.." jawab Yelena.


Vivian meraih tubuh Yelena, dan dengan perlahan dia membantu Yelena untuk berbaring.


"Mungkin karena kamu lapar. Aku akan segera kembali.."


"Tidak usah repot-rep~"


"Pot~"

__ADS_1


Vivian sudah terlanjur pergi.


Hufftt~


Yelena menghela napas panjang. Dia benar-benar sungkan dengan Vivian. Dia sudah sangat-sangat merepotkan nya. Di sisi lain dia juga merasa lega. Karena akhirnya ada seseorang yang bisa dia ajak mengobrol saat rasa takut dan kekhawatiran mulai menguasai tubuh dan pikirannya.


Dia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Dia berharap saat layar ponsel itu menyala, sebuah nama akan terpampang di sana dalam sebuah notifikasi.


Ternyata tidak..


Dia terlalu berharap tinggi.


Mengingat bagaimana dia mengusir Sean semalam, mungkin bukan salah Sean jika dia tidak menghubunginya. Batin Yelena.


Yelena memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan pikirannya yang mulai kembali kacau.


"Makanan datang!!" seru Vivian.


Vivian masuk kedalam kamar Yelena dengan se kantung makanan di tangannya.


"Aku sedikit kecewa karena ku kira kamu akan memasak sendiri khusus untukku.." ucap Yelena dengan raut wajah sedih yang di buat-buat.


"Aishh~ anak ini terlalu percaya diri. Aku hanya akan memasak untuk Aiden!"


"Ayo cepat makan!" ujarnya kemudian sembari menyodorkan sekotak makanan untuk Yelena.

__ADS_1


__ADS_2