
Yelena menghempaskan tubuh di atas ranjang empuk miliknya. Dia menatap langit-langit kamar yang terang itu. Dia tidak berani mematikan lampu, meskipun ada lampu tidur. Dia membiarkan lampu kamar tetap terang benderang.
Meskipun begitu dia masih tidak bisa memejamkan matanya. Seperti kebanyakan yang orang lain alami. Ingatan kejadian seharian itu pasti teringat kembali di waktu akan tidur. Itulah yang Yelena alami saat ini.
Hari itu terlalu banyak kejadian buruk. Hanya sedikit hal baik yang terjadi hari itu. Saat bersama Aiden.. juga ciuman itu.
Yelena menggelengkan kepalanya mengusir ingatan memalukan yang lagi-lagi membuat pipinya bersemu.
Brak!
Suara itu membuat Yelena kaget dan terduduk dari tidurnya. Kemudian dia bangun dan membuka pintunya membuat celah untuk mengintip.
"Sean pulang?" gumamnya.
Dia menutup pintunya dengan hati-hati tanpa membuat suara, dan kembali ke ranjangnya. Dia menutup dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya.
Cklak~
Pintu terbuka. Sesuai dugaan Yelena, Sean masuk kedalam kamarnya. Ya, semoga saja pura-pura tidurnya itu tidak ketahuan.
Sean duduk di tepi ranjang Yelena. Dia menatap Yelena yang tengah terlelap itu. Ternyata tidak hanya Yelena, saat itu ingatan tentang ciuman tadi muncul dalam ingatannya.. membuatnya mengacak-acak rambutnya dengan gusar.
__ADS_1
Matanya mulai menatap bibir mungil milik Yelena, kemudian membelainya lembut. Sedangkan Yelena yang pura-pura tidur itu mulai panik dan kaget.
Tangan Sean berpindah ke pipi Yelena, membelai wajahnya dengan kelembutan dari tangannya. Kemudian mengecup kening Yelena.
"Maafkan aku.." bisik nya.
Dia takut pada dirinya sendiri. Dia takut dinding pertahanan nya hancur. Dia takut terjatuh. Terjatuh kedalam lubang yang dibuatnya sendiri. Dalam lingkaran dimana ada Yelena didalamnya, dan bukan lagi Allesa.
Dia menatap gadis mungil yang berbaring didepannya. Sebenarnya hanya sekilas dia terlihat mirip dengan Allesa. Bahkan dari ukuran tubuh pun berbeda. Dia lebih pendek dari tinggi Allesa yang proporsi tubuhnya seorang model. Rambutnya lurus, berbeda dengan Allesa yang bergelombang.
Sean mengingat kejadian saat Yelena menabrak orang dan terjatuh tadi.
Sean melirik baskom berisikan kompres yang masih ada di atas meja. Dia mengerutkan keningnya. Kemudian membuka selimut Yelena dan mengecek kakinya.
Kaki yang tampak mungil itu.. meskipun bengkaknya sudah tak seberapa, namun masih terlihat warna kebiru-biruan. Dia mengusap kaki Yelena perlahan.
Tangannya berhenti saat tanpa sadar tangan itu sudah mencapai lutut Yelena.
"Astaga, apakah kamu seorang pria mesum!?" pekiknya yang langsung menarik kembali tangannya.
Dia menutup kembali tubuh Yelena dengan selimut. Bahkan lebih rapat dari tadi.
__ADS_1
Lagi-lagi dia menatap bibir itu. Bibir yang terasa manis dan lembut. Dia sudah mulai kehilangan akal. Segera dia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Yelena.
"Berani-beraninya gadis sepertimu membuatku manda air dingin di tengah malam seperti ini!" gerutunya.
Deg deg~
Yelena membuka matanya saat mendengar suara pintu kembali di tutup. Wajahnya sangat merah, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia menyentuh dadanya, jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya.
"Apa itu tadi?" gumamnya.
Sentuhan di bibirnya masih terasa. Kakinya juga masih terasa geli.
Dia membuka selimutnya dan duduk menekuk lututnya. Tangannya mulai menyentuh kakinya, mengikuti irama saat Sean menyentuhnya tadi.
"Argghh..apa kamu sudah gila, Yelena!?"
"Kamu sangat mesum!!" pekiknya.
Dia menepuk kedua pipinya, menyadarkan dirinya yang juga mulai hilang akal.
BERSAMBUNG...
__ADS_1