Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Kecupan Terimakasih


__ADS_3

Yelena menatap map yang ada di lantai itu. Dia tidak tahu apakah dia berhak marah atau tidak.


"Ambil!" ucapnya.


"Apa?" sahut kedua resepsionis itu.


"Saya bilang, ambil kembali barang saya yang telah anda lempar itu!" kini Yelena menatap kedua orang itu dengan tatapan tajam dan tegas.


Kedua orang yang merasa terancam dan juga malu itu melawan balik.


"Apa kamu gila? lihat perban di kepala mu itu! sepertinya kamu benar-benar orang gila yang tersesat ke sini!" maki nya.


"Saya tidak perduli anda berkata apa. Ambil kembali barang yang anda lempar itu dan minta maaf!" tekan Yelena sekali lagi.


Merasa tidak terima, salah satu wanita itu keluar dari meja resepsionis nya dan menghampiri Yelena. Dia menjambak sebelah rambut Yelena yang terurai.


"Ulangi lagi ucapan mu! minta maaf? hah!"


Tatapan Yelena tetap sama. Tatapan tajam dan tegas. Wanita itu semakin berapi-api. Dia melayangkan sebelah tangannya yang lain hendak menampar Yelena. Namun Yelena menangkap tangan itu dan menahannya dengan kuat. Membuat wanita itu meronta.


Bruk~


Wanita itu mendorong Yelena hingga tersungkur.


"Kamu orang gila! pergi dari sini!" teriaknya kemudian.


"Siapa kamu berani mengatai tunangan saya orang gila!?"


Suara yang dingin namun tegas itu membuat semua orang menunduk.

__ADS_1


"Pak- Pak Sean~"


Ya. Kebetulan dengan Sean yang akan menghadiri rapat, dia menyaksikan semua kegaduhan itu setelah keluar dari lift. Namun dia hanya diam dan melihat dari kejauhan.


Sean menghampiri Yelena dan membopongnya.


"Telah menerima orang-orang seperti kalian bekerja di sini adalah kesalahan perusahaan!"


"Pecat orang-orang yang telah membuat keributan itu!" perintah Sean pada sekretaris nya.


"Mengapa kamu memecat mereka? mereka hanya menjalankan tugas mereka," tutur Yelena.


"Apa tugas seorang resepsionis adalah memaki tamu yang datang?" pungkas Sean.


"Kalian berdua!" ucap Sean menatap kedua resepsionis wanita.


"Minta maaf pada tunangan saya!"


Yelena yang ada di gendongan Sean itu membelalakkan matanya menatap Sean.


"Kamu tidak perlu melakukan hal itu," lirih Yelena.


"Maafkan kami Nona," kedua wanita itu membungkuk.


Belum sempat Yelena membuka mulut untuk menjawabnya, Sean sudah membawanya pergi.


Jantungnya berdegup dengan kencang saat ini. Dia menatap Sean dengan jarak yang sedekat itu. Matanya, mata itu yang tidak pernah menatapnya dengan benar.


"Jika kamu terus menatap ku seperti itu, wajahku akan berlubang," ujar Sean yang membuat Yelena memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kamu bisa menurunkan ku, aku baik-baik saja," ucap Yelena.


Namun Sean tak bergeming. Entah apa yang sedang di lihatnya dalam lift itu. Lift terus berjalan naik, tidak tahu hingga lantai berapa lift itu akan berhenti.


Yelena tersenyum tipis dan memberanikan diri untuk mengecup pipi Sean.


"Terima kasih," ucapnya.


Sean yang syok itu menoleh. Kali ini dia benar-benar menatap mata Yelena. Menatapnya dalam-dalam.


Deg!


Perasaan aneh mulai dirasakan Sean.


"Apa-apaan itu tadi?" tanya Sean dengan dingin.


"Kecupan terima kasih," jawab Yelena dengan senyum ceria di wajahnya.


Matanya belum terlepas dari Yelena. Di tambah lagi dengan senyuman barusan itu. Senyuman itu semakin membuat Sean tidak dapat berkutik. Seakan terperangkap di dalamnya.


'Manis,' batinnya.


Ting!


Suara pintu terbuka menyadarkan dia dari lamunannya.


'Tidak! kamu harus sadar Sean!' ucap Sean dalam hatinya, mengontrol emosi sesaat pada perasaannya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2