
Meskipun sudah sering terjadi, tetap saja perlakuan seperti itu membuat Yelena ketakutan. Cengkeramannya sangat kuat hingga membuatnya lengannya terasa sakit. Pasti akan meninggalkan bekas saat Sean melepasnya.
Sean menghempas tubuh Yelena dengan kasar ke dalam mobil. Seperti yang pernah terjadi, dia melajukan mobilnya sekencang mungkin.
Ucapan Yelena sudah tidak ada artinya. Dia memohon Sean untuk menghentikan mobilnya, namun dia tak menghiraukannya dan terus menginjak gas nya dengan keras.
"Arggh!" teriak Yelena histeris berharap Sean akan memperhatikannya.
Namun Sean hanya menoleh nya sekilas tanpa mengurangi kecepatannya. Yelena sangat tidak berdaya.
Sean sangat marah saat ini. Sulit untuk mengontrol emosinya. Itulah alasan mengapa dia tidak membiarkan Yelena pergi keluar selama ini. Dia tidak ingin kejadian tak terduga seperti tadi terjadi.
Karena sesungguhnya dunia ini sangat sempit.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah. Dia menarik Yelena keluar mobil dengan kasar. Dia menyeretnya masuk kedalam rumah.
Dia membuka pintu kamar Yelena dan mendorong Yelena dengan kasar ke atas ranjang. Dia mengunci tubuh Yelena di atas ranjang.
"Bagian mana yang sudah di sentuh olehnya!?" bentak Sean.
Yelena memejamkan matanya.
"Sean hentikan, aku sangat takut.."
Yelena mendorong tubuh Sean. Namun Sean menangkap kedua tangan Yelena dan menguncinya di atas kepalanya dengan satu tangannya.
Yelena meronta, sayangnya kekuatannya yang lemah itu tidak sebanding dengan Sean.
__ADS_1
"Kamu membiarkan dia untuk memelukmu!? apa kamu tidak sadar akan posisimu!? kamu adalah tunangan ku!" bentaknya.
"Tapi dia bilang aku adalah teman masa kecilnya. Mungkin saja dia bisa membantuku mengembalikan ingata~"
"Hmmph~"
Sean membungkam mulut Yelena dengan bibirnya. Dia ********** dengan kasar. Kemudian menggigit lidah Yelena sebagai hukuman karena telah membantahnya.
"Pwahh~" napas Yelena tersengal.
Dia kembali meronta.
"Sean, tolong lepaskan aku!" pintanya.
Sean menatapnya dengan buas. Dia menatap tubuh Yelena yang terbuka, seperti bagian perutnya yang tak tertutup karena baju crop nya. Kemejanya yang terbuka itu juga menampilkan bagian tubuh atasnya dengan jelas. Dadanya terekspos.
Matanya telah dibutakan oleh hawa nafsu. Pikirannya tidak dapat di kontrol, membuat tubuhnya bergerak tanpa kendali. Dia menggigit leher Yelena dan menghisapnya dengan keras. Meninggalkan bekas merah saat dia melepasnya.
"Sean!" panggilnya lemah.
Yelena semakin takut.
Tidak berhenti di sana, Sean meraih baju setengah badan milik Yelena. Dengan kekuatan penuh dia merobeknya. Entah baju itu yang terlalu tipis atau memang kekuatan Sean yang sangat besar. Baju itu terbelah menjadi dua.
"Argh!" teriak Yelena.
"Hentikan Sean! aku sangat takut!" Yelena terus memohon.
__ADS_1
Namun seperti matanya yang telah dibutakan eh hawa nafsu, begitupun juga dengan telinganya. Teriakan Yelena tidak ada artinya.
Hanya balutan bra yang kini masih terpasang di tubuh Yelena, gundukan miliknya terpampang jelas di hadapan Sean. Membuat pria itu menelan saliva nya. Seolah telah tersihir oleh pemandangan itu, Sean tidak dapat melepaskan pandangannya dari sana.
Dia melepas tangannya yang mengunci tangan Yelena. Kini kedua tangannya mulai bersiap untuk menerkam milik Yelena.
Namun...
Plakk~
"Aku bilang hentikan!"
Yelena menampar Sean sekencang mungkin, membuat pria yang kehilangan akalnya itu kembali tersadar dari lingkaran hitam hawa nafsu yang menjeratnya.
Air mata Yelena deras menetes di pipi. Dia memalingkan wajah dan menutup wajahnya dengan lengan. Saat ini dia tidak ingin menatap pria di hadapannya itu.
Sedangkan Sean, dia tercengang melihat perbuatan yang telah dia lakukan pada Yelena. Segera dia meraih selimut dan menutupi tubuh Yelena.
"Ma- maafkan aku Yelena."
Sean mencoba menyentuh tangan Yelena yang menutupi wajahnya.
"Jangan sentuh aku!" teriak Yelena.
"Pergi!"
Tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, Sean pergi dari kamar itu. Dia telah membuat kesalahan yang sangat fatal.
__ADS_1