
Terlalu sibuk membicarakan masa lalu, mereka melupakan seseorang yang ada di balik pintu seberang sana. Gadis yang tengah terlelap itu. Iya, yang mereka ketahui dia sedang terlelap.
Tapi nyatanya...
Seperti mendengarkan audio film action. Suara gebrakan pintu, gebrakan meja, suara bentakan hingga suara pukulan. Semua itu terdengar, dan dia tidak berani membuka matanya. Perasaan tegang sekaligus takut yang sedari tadi Yelena rasakan.
Saat suara-suara itu berhenti, Yelena membuka matanya. Dengan berhati-hati dia bangun dari tempat tidur agar tidak sampai menimbulkan suara. Dengan rasa penasarannya dia membuka pintu. Tidak lebar, hanya membuat sedikit celah untuk mengintip.
"Aww~" rintih nya.
Yelena terjatuh. Terjatuh karena secara bersamaan seseorang dari depan sana menarik pintu dengan kuat. Yelena yang kehilangan keseimbangan itu terlimbung.
Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Tidak siap melihat siapa yang ada didepannya. Dia tetap diam dalam posisinya, tersungkur di lantai dan menunduk.
"Pffftt~"
Yelena mengerutkan keningnya. Dengan kesal dia menengadahkan kepalanya dan menatap sosok pria yang berdiri di hadapannya itu dengan tajam.
"Hahaha~ kamu lucu sekali.."
"Diam!" ucap Yelena dengan kesal.
"Maaf..maaf..sini aku bantu berdiri," ujar Aiden mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Plakk~
Yelena menepis tangan Aiden.
"Gak usah!"
Dengan keras kepala, dan dengan kekuatannya sendiri dia bangun dari jatuhnya. Namun naas heels yang dia kenakan slip. Dia memejamkan matanya, bersiap untuk terjatuh kembali.
".."
'Eh?' batinnya dalam hati.
Aiden menangkapnya sebelum dia terjatuh lagi. Yelena membuka matanya.
Merah dan sedu, tampak jelas di mata Aiden. Jelas sekali jika dia habis menangis. Yelena pikir apa yang didengarnya tadi tidak benar, jika Aiden menangis. Namun setelah melihatnya sendiri, dia percaya.
Yelena terlalu tenggelam dalam pikirannya sehingga membuatnya lupa jika dia dalam posisi yang sedikit canggung.
"Ehemm, maaf.."
Segera Yelena menjauhkan diri dan merapikan bajunya.
"Terima kasih," lanjutnya.
__ADS_1
"Sama-sama," Aiden menyeringai.
Aiden membuang muka, menatap pemandangan luar dari gedung kaca itu. Dia tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Tidak mengatakan apa-apa ataupun pergi dari ruangan kakaknya itu.
Yelena menatapnya. Dia memperhatikan mata yang tampak sembab itu. Dia merasa khawatir, juga merasa penasaran dengan masa lalu apa yang dia miliki.
Dia berpikir, bergulat dengan pikirannya. Apa dia pernah mengetahui cerita itu atau tidak. Dia tidak mengingatnya.
Ucapan ini terus terulang. Jawabannya adalah tidak. Dan dia tidak akan pernah mengingatnya. Karena dia bukanlah bagian dari mereka yang sesungguhnya.
"Jika kamu terus menatap ku seperti itu, wajahku akan berlubang.." ucap Aiden yang kemudian menoleh menatap Yelena.
Yelena membuang wajah.
"Kalian sangat mirip, pemilihan kalimat kalian sama," ucapnya.
Aiden memiringkan kepalanya, menatapnya dengan bingung.
"Sean juga mengatakan hal yang sama saat aku menatapnya diam-diam," jelas Yelena.
Aiden hanya tersenyum tipis.
Bukan mirip. Tapi dia meniru ucapan itu dari Sean. Kalimat itu yang selalu Sean ucapkan saat Aiden menatapnya diam-diam dalam kekaguman. Sayangnya orang yang dia kagumi tidak lagi sama. Tidak, mereka orang yang sama. Lebih tepatnya adalah...orang yang dia kagumi telah berubah.
__ADS_1
Dia tidak bisa menyalahkan kakaknya. Keadaan lah yang telah membuatnya menjadi seperti itu. Manusia tidak akan berubah tanpa sebab. Rasa trauma dan keterpurukan yang telah merubahnya. Sifat dingin dan kakunya itu adalah bentuk kekuatannya.
BERSAMBUNG...