
Dalam sekedipan mata Yelena pikir itu adalah kaca dirinya. Wanita itu, sama seperti dia. Rambut bergelombang, gaya berpakaian juga pakaian mereka sangat mirip. Wanita dengan detail yang sama itu mendekat.
Gaun dan blazer nya hampir terlihat sama. Perpaduan warna nya sama, hanya saja modelnya yang berbeda.
Ya, secara semua barang Yelena adalah pemberian dari Sean. Sean memberikan barang yang sesuai dengan selera Allesa, merk yang biasa Allesa pakai. Baju yang mereka berdua kenakan saat ini berasal dari merk yang sama, hanya berbeda seri saja.
Yelena terlihat bingung menatap wanita yang menuju ke arahnya dan Sean itu. Yelena menatap Sean yang terpaku dengan wanita di depan sana dengan aneh. Dia tidak tahu harus menggambarkan pemandangan itu seperti apa. Garis pandangannya sangat fokus dan serius.
Tapi mengapa Sean menatapnya seperti itu? Yelena menggenggam erat ujung gaunnya. Tiba-tiba rasa panik yang tidak dapat dijelaskan itu muncul. Apalagi setelah tatapannya bertemu dengan Fiona yang tersenyum penuh kemenangan itu.
"Sean?" lirih Yelena.
Sean tak menghiraukannya, wanita itu benar-benar telah mencuri perhatian Sean. Tapi siapa wanita itu?
Wanita itu berhenti tak jauh di depan mereka dengan senyumannya. Menatap Yelena sekilas dari atas hingga kebawah, lalu menatap wajahnya. Dia tersenyum tipis lalu memalingkan wajahnya untuk menatap Sean.
"Lama tidak berjumpa.." ujarnya.
__ADS_1
Yelena menurunkan matanya, masih dengan pura-pura tenang. Namun dalam kepalanya semua berputar. Hingga sebuah nama berhenti di benaknya. Allesa.
Yelena mengangkat kepalanya dan menatap wanita yang lebih tinggi darinya itu. Tanpa sengaja tatapannya berhenti di lehernya.
Kalung itu..
Yelena merapatkan blazer nya untuk menutupi barang yang sama mereka kenakan. Kalung itu sangat mirip dengan kalung yang baru saja diberikan oleh Sean.
Yelena dengan sabar menunggu sebuah kalimat keluar dari mulut Sean. Namun pria itu tak bicara, dia hanya menatap wanita di hadapannya itu dengan tenang.
Dadanya semakin sesak saat Sean melepas genggamannya dan maju menuju wanita itu ************ demi selangkah.
"Allesa~"
Keberaniannya semakin menyusut. Kakinya gemetar hebat. Dia tahu kisah Allesa dari apa yang telah diceritakan Vivian. Allesa hanya teman masa kecilnya, dan mendiang Ayahnya menitipkan nya kepada Sean. Itu yang dia tahu. Iya, hanya itu. Sepenggal cerita dari kisah Allesa dan Sean.
Yelena akui wanita itu tampak bersinar. Saat tersenyum matanya berbinar. Sangat cantik. Seperti seorang wanita yang hidup dengan perlindungan baik.
__ADS_1
Yelena menatap kedua orang di hadapannya itu dengan tatapan kosong. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Apa dia hampiri saja dan menyapa? Atau berdiam diri dan melihat?
"Yelena.." seseorang memegang tangan Yelena dari belakang. Itu adalah Aiden.
Yelena tersenyum pahit ke arah Aiden. Fiona yang melihat di sana mengambil kesempatan untuk menghancurkan Yelena. Dia berjalan menghampiri Yelena. Namun Vivian menghentikannya, menarik tangannya untuk menjauh.
"Sudah cukup Fiona!" tekan Vivian.
Fiona menyeringai, lalu menghempas tangan Vivian. Dia tidak menghiraukan ucapan Vivian dan tetap kukuh pada tujuannya. Dia menghampiri Yelena.
"Sudah lihat produk aslinya?" bisik nya sembari meletakkan tangannya di pundak Yelena seperti dua orang yang sudah saling kenal. Nada bicaranya terdengar sangat jahat.
Aiden mendorong pelan tubuh Fiona untuk menjauh. Dia menatapnya tajam. Jika saja yang di hadapannya itu adalah lelaki, pasti dia sudah babak belur di tangan Aiden.
"Hentikan omong kosong mu itu!" tegas Aiden.
Fiona menyeringai, lalu tertawa kecil. Dia bersikap sangat sombong karena merasa dirinya sudah menang besar.
__ADS_1
"Barang tiruan akan selalu menjadi barang tiruan!" ujarnya kemudian berlalu dari hadapan Aiden dan Yelena.