
"Mama biasanya ngurus acara beginian kan nyuruh asisten Mama? kenapa sekarang Mama sendiri yang urus?" bisik Aiden.
"Cuma ingin buat Sean kesal saja.." jawab singkat Gloria sembari menyesap kopinya.
Aiden menggeleng-geleng mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu. Seorang Gloria Li yang biasanya hanya terima jadi, sekarang repot-repot menyiapkan segalanya sendiri hanya untuk membuat putranya kesal.
Yelena kembali ke duduknya dengan perasaan tak enak. Dia membalas senyum Gloria dengan senyuman canggung. Merupakan hal baik dia diterima sepenuh hati di keluarga itu, dia juga sangat bersyukur atas hal itu. Tapi sejak kemarin dia merasa ada sebuah perselisihan diantara anak Ibu itu.
...****************...
"Hufftt~ ternyata seribet ini ya menyiapkan acara besar sendiri.." gumam Gloria yang mendapat respon tawa oleh Vivian.
Hari sudah hampir menjelang sore. Ketiga wanita itu terkapar lemas di kursi restoran.
"Apa kamu tidak lelah? kenapa wajahmu masih terlihat berseri?" protes Vivian pada Yelena.
Yelena tertawa ringan, kemudian menyesap lemon tea nya.
"Karena ini untuk hari spesial Sean.." jawab Yelena dengan malu-malu.
Gloria menatapnya miris. Gadis malang itu benar-benar tenggelam kedalam jurang yang digali putranya. Dia benar-benar jatuh.
Gloria memijat kepalanya gusar, tidak tahu apa yang harus di lakukan nya jika tiba-tiba badai datang.
"Tante?" panggil Yelena.
"Hm?" sahut Gloria.
"Tante baik-baik saja?" tanya Yelena khawatir.
"Tidak apa, hanya sedikit lelah saja.."
__ADS_1
"Oh ya Vivian, anggap saja ini hari libur kamu. Tante akan kembali ke perusahaan dulu, kamu ajak Yelena berkeliling, barangkali dia ingin membeli sesuatu.." lanjut Gloria.
"Siap, Ibu Presdir!"
"Tante duluan ya, terima kasih untuk bantuan kalian.."
Gloria berlalu meninggalkan mereka berdua yang belum menghabiskan makanannya.
"Kemana kita habis ini?" tanya Vivian.
"Ke salon," jawab Yelena dengan yakin.
"Salon? ngapain?" tanya Vivian heran.
Yelena bangkit dari kursinya, energinya seakan terisi kembali setelah mengingat ucapan Sean kemarin. Bahwa dia lebih cocok dengan rambut bergelombang.
Vivian merasa apa yang akan di lakukan Yelena bukanlah hal yang baik. Namun dia tidak bisa mendesak Yelena untuk mengatakannya.
...****************...
"Kamu.."
Vivian tidak tahu harus berkata apa. Kacau, benar-benar kacau. Dia mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Kenapa dia tidak menyadarinya dari awal apa tujuan Yelena datang ke salon.
"Kenapa? apakah terlihat aneh? tapi Sean bilang aku cocok dengan rambut bergelombang.." ujar Yelena.
"Bajingan sialan itu!" umpat Vivian.
"Apa memang harus semua ucapan lelaki bejat itu kamu turuti? apakah kamu sebodoh itu sampai tidak dapat membaca maksud seseorang? aku tau kamu kehilangan ingatanmu, tapi hat~"
Vivian menghentikan ucapannya saat menyadari semua mata mulai tertuju pada mereka. Tanpa sengaja dia telah meninggikan suaranya dan berkata kasar pada Yelena karena terlalu larut dalam emosinya.
__ADS_1
Yelena mengerutkan keningnya dan melihat sekelilingnya. Tanpa menanggapi Vivian, dia menyambar tasnya di kursi tunggu lalu meninggalkan Vivian.
"Ye, bukan seperti itu maksud ku.."
Vivian mencoba mengejar langkah Yelena.
"Yelena, tunggu! bukan seperti itu maksud aku!" teriak Vivian di belakang sana.
Yelena mengehentikan langkahnya. Dia memejamkan matanya, suara kendaraan yang berlalu lalang memenuhi isi kepalanya.
"Lalu apa?"
Dia membalikkan badannya saat suara langkah Vivian sudah dekat.
"Ya, aku memang kehilangan ingatan ku. Aku bodoh karena setiap ucapan kalian aku turuti. Itu semua karena aku tidak memiliki acuan! Tidak tau apa yang benar dan salah. Meskipun jika seandainya kalian membohongiku, apakah aku tau itu? tidak! karena aku tidak ingat apa-apa, aku tidak tau apa-apa!"
"Kamu pikir selama ini aku hidup dengan nyaman? aku juga lelah Vivian~" Yelena mulai menitikkan air matanya.
"Keraguan selalu menyelimuti hariku..tapi apa yang bisa ku lakukan?"
Vivian berlari mendekati Yelena dan memeluknya dengan erat. Diapun ikut menangis, dia tahu rasa sakit seperti apa yang dirasakan Yelena saat ini.
"Maafkan aku, Yelena.."
"Satu hal yang harus kamu tau, aku ada di pihakmu. Aku juga tidak ingin kamu terluka. Semuanya akan baik-baik saja.." ujar Vivian.
"Lagi-lagi kalimat itu.. sebenarnya apa yang akan terjadi? aku sudah terlalu banyak mendengar kalimat itu!"
Vivian melepas pelukannya.
"Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Aku harap kamu tidak akan membenciku.." ujar Vivian yang penuh dengan teka-teki.
__ADS_1