Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Hilang


__ADS_3

Perlahan, dengan lembut namun pasti dan telaten. Aiden mengompres kaki Yelena. Sedangkan Yelena yang ada di atas sana menatap Aiden dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Aku sangat bersyukur.." ucapnya tiba-tiba.


Aiden mendongakkan kepala, namun tangannya tetap bekerja.


"Kenapa?" tanyanya.


Yelena memutar bola matanya dan berpikir sejenak, membuat Aiden semakin penasaran.


"Aku merasa seperti baru saja lahir ke dunia ini, karena aku tidak mengingat apapun. Dan aku bertemu orang baik seperti mu. Mmm.. meskipun sebelumnya kamu mengenalku, tapi diriku tetap merasa asing dengan kamu.."


Yelena berhenti sejenak, kemudian menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Wajah kikuk mulai dia aktifkan.


"Aduh..gimana jelasinnya ya.. kamu paham kan maksud tujuan ucapan ku?"


Aiden tertawa ringan. Matanya kembali fokus pada benda di tangannya.


"Ihh..kok malah ketawa sih!" Yelena memanyunkan bibirnya.


Tidak ada sahutan.

__ADS_1


Yelena menatap rambut hitam berkilau milik Aiden. Juga tangan yang sangat telaten mengompres kakinya. Yelena berangan-angan, andai saat ini yang ada dihadapannya adalah Sean.


Tangannya terulur dan mendarat di atas kepala Aiden. Dia mengusap rambut Aiden pelan, kemudian mengacak-acak nya.


"Ya..apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan membencimu. Aku merasakan ketulusan dalam dirimu. Perhatian yang selama ini kamu berikan, juga perlindungan. Terima kasih.. Aiden,"


Yelena tersenyum lebar saat Aiden menatapnya.


"Andai aku tidak menganggap mu sebagai seorang kakak yang sangat berharga. Mungkin saat ini aku sudah mencium mu."


Yelena menutup mulut dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang lain dia layangkan ke pundak Aiden. Hari ini, entah sudah berapa kali Yelena melayangkan pukulan itu pada Aiden.


"Dasar anak nakal!" pekiknya.


ting tong


Bel rumah berbunyi. Keduanya berhenti tertawa, memastikan jika bel benar-benar berbunyi. Hal itu semakin yakinkan mereka saat bel kembali berbunyi.


"Pintunya tadi kamu kunci?" tanya Yelena.


"Iya, aku cari Bi April gak ada. Ya udah aku kunci aja, soalnya kita di atas.." jawab Aiden.

__ADS_1


"Cepetan buka sana..!"


Yelena mendorong tubuh Aiden sekuat tenaga, namun pemilik tubuh itu tidak bergerak sedikit pun. Aiden kembali tertawa.


"Apa kamu sangat suka aku pukul?" tanya Yelena yang mulai mengangkat tangannya.


Aiden beranjak dari duduknya. Kemudian mengacak-acak rambut Yelena sampai mukanya tertutup penuh oleh rambut panjangnya. Dia pun kembali tertawa.


"Dasar penyihir tukang pukul!" ucapnya yang langsung berlari meninggalkan Yelena.


"Dasar anak nakal!" teriaknya yang membuat Aiden cekikikan di luar sana.


Yelena merapikan kembali rambutnya. Kemudian mengangkat kakinya naik ke atas ranjang. Dia menggerak-gerakan kakinya. Sudah tidak sakit. Dia mencoba berdiri dan berjalan perlahan. Benar-benar sudah sedikit membaik.


Sekilas dari sudut matanya dia melihat pintu walk-in closet nya yang sedikit terbuka. Dia mengingat-ingat kembali ucapan Aiden.


"Kosong?" gumamnya.


Dia mulai melangkahkan kakinya ke sana. Dengan ragu dia menarik gagang pintu. Terbuka. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Benar-benar kosong. Jelas-jelas tadi pagi tempat itu masih berisikan baju. Baju yang dikenakannya saat ini pun dia ambil dari dalam sana.


Yelena mengerutkan keningnya. Rak demi rak dia buka, memastikan jika yang hilang hanya di gantungan saja.. Tidak ada. Satu hanger pun tidak tersisa. Sepatu, tas, juga aksesoris lainnya juga tidak ada. Kosong.

__ADS_1


Dia kembali keluar dengan perasaan tak enak. Mengapa semuanya hilang, pikirnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2