
'Halo? kemana kakak membawa Yelena?'
'Bukan urusanmu, dia adalah tanggung jawab ku!'
'Sean!'
Bentak Aiden geram pada sambungan telepon itu.
'Jika kamu tau, kamu mau apa?'
'...'
Aiden terdiam tak menjawab.
'Aku membawanya ke villa,' jawab Sean.
'Kamu sudah gila? setelah tiga tahun tempat itu kosong dan sekarang kamu menempatinya bersama Yelena? di sana banyak barang-barang Allesa! jangan pernah menyesalinya jika dia tau kebenarannya lebih awal!'
'Sudahlah, aku sedang menyetir.'
Putus Sean mematikan sambungan teleponnya.
"Argh!" teriak Sean sambil memukul stang mobilnya.
Wajahnya tampak gusar.
Sean adalah orang yang sangat berhati-hati. Orang yang selalu berpikir kedepannya, bukan esoknya. Namun mengapa dalam hal ini dia sangat gegabah?
Wanita bernama Allesa Grey itu telah membuatnya gila. Sekian lama dia mencoba untuk melupakan orang yang meninggalkan nya tanpa pamit itu. Dia sudah hampir berhasil. Namun wajah Yelena menghancurkan usahanya selama tiga tahun terakhir ini.
"Maka kamu harus menanggung semuanya, Yelena Xu!" gumamnya.
__ADS_1
Mobilnya telah berhenti di depan villa. Tidak langsung turun, dia melamun menatap bangunan itu. Satu per satu kenangan masa lalu nya pun melintasi pikirannya.
Dia menarik napas panjang dan menghembusnya dengan kasar. Menenangkan pikirannya dan mulai bersandiwara dengan otaknya. Untuk menghadapi wanita yang ada di dalam sana.
Jas yang dikenakannya sedikit basah karena menerobos derasnya hujan.
"Sial!" decaknya sembari menepuk-nepuk jasnya.
Dia membuka pintu besar di depannya. Dan masuk dengan harapan Yelena sudah tidur. Dia menghela napas lega saat hal yang dikhawatirkan nya tidak nampak.
Dengan baju basahnya itu dia berjalan ke arah tangga.
Deg!
Dia menghentikan langkahnya. Tubuhnya sedikit gemetar. Penampakan yang ditangkap oleh matanya itu membuat isi kepalanya kosong.
Dia menoleh ke samping. Perlahan dia melangkahkan kaki menghampirinya.
"Allesa! aku merindukanmu!" ucapnya.
Yelena terdiam bingung.
"Sean?"
Suara itu mengembalikan pikirannya. Membuatnya kembali tersadar. Dengan segera dia melepas pelukannya dan membalik tubuh Yelena untuk menghadapnya dengan kasar.
"Aw~ sakit Sean.." rintih Yelena.
"Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?" bentaknya dengan mencengkeram lengan Yelena kasar.
"Aku melihat difoto, kamu sangat bahagia saat aku memakai gaun ini," lirih Yelena.
__ADS_1
"Itu bukan ka~"
Sean menghentikan ucapannya. Rahangnya semakin mengeras menahan emosinya.
"Jangan pernah masuk ke kamar ku! juga jangan pernah memakai gaun itu lagi!" tegasnya.
"Tapi ini ada di lemari ku. Apa ini bukan milikku? lalu milik siapa?"
"Jangan lancang! bukan berarti semua yang ada di dalam sini adalah milikmu!" bentaknya yang membuat Yelena memejamkan matanya.
Bulir bening mulai menuruni pipinya, dan terkumpul di ujung dagunya.
Sean melepas cengkeramannya dengan sedikit menghempasnya. Membuat pinggang Yelena terbentur meja.
Dengan wajah suramnya dia berlalu.
Brak!
Dia menggebrak pintu.
"Sean kamu mau kemana?"
Yelena mencoba mengejar Sean keluar. Hujan deras masih mengguyur. Tanpa memikirkan tubuhnya, Yelena berlari dengan kaki tenangnya di tengah derasnya hujan. Menghampiri Sean yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Sean tunggu! maafkan aku Sean.."
Yelena menarik tangan Sean dan memohon. Namun dengan tak kenal ampun Sean mendorong tubuh Yelena hingga tersungkur.
Mobil itu berlalu dari hadapannya. Pergi.
Rasa sakit di tangannya itu tidak lebih dari rasa sakit di hatinya. Tangisnya semakin pecah. Genangan air hujan yang mencapai mata kaki itu seakan menjerat tubuhnya yang masih tersungkur di tanah.
__ADS_1
Petir yang menyambar kala itu seakan berkata padanya, 'semua adalah salahmu'.
BERSAMBUNG...