Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Pagi Yang Kacau


__ADS_3

Yelena membuka mata saat suara burung-burung terdengar di telinganya. Bukan baru bangun, tapi memang tidak tidur. Ya, semalaman dia tidak bisa tidur. Mungkin saat ini matanya sudah seperti panda.


Dia menarik napas panjang dan bangun untuk duduk di atas ranjangnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian melirik jam digital di mejanya. Masih jam 5 lebih 15 menit.


Akhirnya dia memilih untuk bangun dan keluar kamar. Dari atas sana dia menengok ke bawah. Terdengar suara berisik dari bawah sana. Segera dia melangkahkan kakinya menuruni tangga.


Masih beberapa anak tangga di lewati, dia berhenti. Lalu menoleh ke atas menatap pintu kamar Sean. Dia tersenyum tipis, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Bibi?" panggil Yelena yang membuat Bi April melonjak.


"Non bikin kaget aja.." serunya.


Kebiasaannya selalu muncul saat dia membuat kesalahan kecil. Yaitu meringis sambil memasang wajah kikuk dan menggaruk rambutnya yang tak gatal.


Bibi tersenyum melihat kehadiran Yelena dengan senyum cerah di wajahnya. Tanpa sadar Bibi membelai rambut Yelena. Awalnya Yelena merasa kaget, namun kemudian dia tersenyum.


"Ma- maafkan saya Nona, saya telah lancang.." Bibi menarik tangannya kembali saat tersadar.


"Tidak apa Bibi.. anggap saja aku seperti putri Bibi sendiri. Aku juga sudah menganggap Bibi seperti ibu sendiri.." ucap Yelena menyunggingkan senyumnya.


Bi April tersenyum kecut. Semakin hari, semakin berjalannya cerita itu sesuai dengan keinginan Sean, semakin Bibi merasa tak tega membohongi gadis sebaik itu.


"Non.." panggil Bibi.

__ADS_1


"Hmm?" sahut Yelena sambil memilah-milah sayuran.


"Non, apapun yang terjadi nanti..tolong jangan membenci saya ya..?" ujar Bibi membuat Yelena menghentikan kegiatannya.


Yelena menatap Bibi dengan heran. Sebenarnya apa yang telah terjadi? pikirnya. Kemarin Aiden, dan sekarang Bibi. Memang apa yang akan terjadi nanti?


"Kenapa kalian mengucapkannya seperti kalian sedang membohongi ku?" gumam Yelena.


"Ka- kalian?" ulang Bibi.


"Iya, kemarin Aiden juga mengatakan hal yang sama," ucapnya.


Bibi kembali melanjutkan pekerjaannya, namun pikirnya tidak dapat fokus. Bibi mengambil sayuran yang telah dipilah Yelena dan membuangnya ke tempat sampah.


"Bibi?" panggil Yelena.


"Iya Non?" jawab Bibi antusias.


"Sayurannya..."


Bibi sadar akan perbuatannya dan mulai kaget saat melihat sayuran yang telah berada di dalam tempat sampah. Bibi berlutut di lantai sambil meratapi sayuran yang bernasib malang itu.


"Saya akan pergi ke pasar sebentar," ucap Bibi yang langsung bangkit.

__ADS_1


Rasa takut yang tiba-tiba muncul itu mengacaukan Bibi. Pikiran-pikiran buruk menghampiri Bibi. Bibi mulai menjadi panik saat mencari tas belanja nya yang tak kunjung ketemu. Hingga Bibi menjatuhkan baskom berisi air ke lantai.


"Bibi.."


Yelena menyentuh tangan Bibi, namun Bibi menghindarinya dan memundurkan langkah.


Bibi menunduk.


Yelena bingung dibuatnya. Dia menatap dapur yang mulai kacau itu. Air menggenang dimana-mana, sayuran yang juga tercecer. Yelena mengacak-acak rambut belakangnya. Kacau sudah pagi itu.


Yelena memegang kedua pundak Bibi, memberikannya ketenangan. Namun Bibi masih menunduk. Entah apa yang di lihatnya di bawah sana.


"Bibi, tenang dulu ya.." ucap Yelena dengan lembut.


Baru saat itu Bibi berani mengangkat kepalanya. Ketakutan terlukis jelas di wajah Bibi. Yelena semakin bingung, apa yang telah terjadi hingga Bibi bersikap tak seperti biasanya.


"Maafkan saya Non.. maaf," ucap Bibi.


Bibi selalu lupa jika wanita itu berbeda dengan wanita yang sebelumnya. Dia adalah malaikat, bukan iblis yang biasa menamparnya hanya karena melakukan kesalahan kecil sekalipun.


Ya, dia bukan Allesa yang menyeramkan itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2