
"Kita pamit dulu," ujar Aiden.
"Besok aku akan menemui mu lagi setelah menyapa Bibi Li di perusahaan.." ujar Vivian sembari memeluk Yelena.
Vivian melepaskan pelukannya dan melambaikan tangannya. Yelena yang berdiri di tetas rumah itu tersenyum sambil memperhatikan kepergian mereka berdua.
Hari sudah mulai gelap. Rumah yang tadinya ramai akan suara tawa, kini hanya terdengar suara jangkrik.
Yelena menatap sekeliling rumah yang lampunya telah dinyalakan oleh Aiden. Dia tersenyum tipis mengingat betapa Aiden dan Vivian sangat peduli terhadapnya.
Dia duduk sejenak di teras dan menatap langit berbintang di atas sana. Sama seperti kemarin, malam ini juga tidak ada bulan.
Yelena menekuk lutut dan memeluknya. Hawa dingin mulai menyerangnya, namun dia masih enggan untuk bangkit dari duduknya. Dia menatap halaman rumah. Di sana dia pernah jatuh tersungkur, di bawah derasnya hujan juga genangan air yang seolah menelannya.
Dia menyentuh kepalanya. Akhir-akhir ini kepalanya sering terasa sakit. Namun dia sendiri juga tidak ingin kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya. Sudah cukup yang terakhir kali saat itu.
Yelena menghela napas panjangnya, kemudian beranjak untuk masuk. Saat pintu sudah hampir sepenuhnya menutup, sebuah cahaya menerpa wajahnya lewat celah pintu yang belum sepenuhnya tertutup itu.
"Apa itu Sean?" gumamnya.
Segera dia berlari ke atas menuju kamarnya dan membiarkan pintu yang belum tertutup rapat itu. Dia melompat ke tempat tidurnya dan menutupi dirinya dengan selimut. Kemudian memejamkan matanya.
"Kenapa aku berlari dan pura-pura tidur?" gumam Yelena membuka matanya.
Klakk~
__ADS_1
Suara pintu terbuka itu membuatnya memejamkan matanya kembali.
Sean berjalan masuk kedalam kamar Yelena. Dia menghampiri Yelena yang berbaring di ranjangnya. Diusapnya kening Yelena.
"Kenapa kamu mengerutkan kening saat tidur?"
"Dasar ceroboh! menutup pintu saja tidak benar, bagaimana jika ada orang jahat yang masuk?" ucap Sean.
'Kamu orang jahat itu!' batin Yelena dalam pura-pura tidurnya.
Tangan Sean masih mengusap lembut kening Yelena yang mengerut itu hingga kembali rata. Dia duduk di tepi ranjang Yelena dan menatapnya dengan tatapan merasa bersalah.
Dia kembali mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Yelena. Sean mengerutkan keningnya saat menatap sebuah jejak di leher Yelena. Jejak dari perbuatan brengseknya.
"Maafkan aku, Yelena.." Sean menggenggam tangan Yelena.
Dia ingin sekali melihat bagaimana ekspresi wajah Sean saat ini. Bagaiman saat dia menunjukkan raut wajah bersalahnya. Apa dia menunjukkan emosi itu di wajahnya atau tidak? Yelena ingin tahu.
Jika diingat kembali, Sean selalu meminta maaf secara diam-diam. Ya, dalam keadaan seperti saat ini. Dia tidak pernah mengatakannya secara langsung kepada Yelena. Hal itu membuat hatinya terasa sakit.
Dia tidak ingin menangis. Ibarat seperti mengiris bawang, meskipun tidak ingin menangis, mata kita akan selalu mengeluarkan air mata. Rasa pedih yang memaksa kita untuk mengeluarkan air mata. Sama seperti saat ini, meskipun tidak ingin menangis, rasa pedih di hatinya menuntut dirinya untuk menangis.
Bulir bening keluar dari sudut matanya yang terpejam.
"Kenapa kamu menangis dalam tidur mu? apa kamu mimpi buruk?" tanya Sean mengusap air mata Yelena.
__ADS_1
"Ya, kamu adalah mimpi buruk ku, Sean.." ujar Yelena dengan mata terpejam nya.
Sean tersentak kaget. Dia menarik kembali tangannya yang sedang mengusap air mata Yelena.
"Ka-kamu tidak tidur?" tanya Sean menekan kepanikannya.
"Kenapa kamu selalu seperti ini? apa salahnya meminta maaf secara langsung?" ucap Yelena yang masih tidak membuka matanya, namun air matanya semakin deras menuruni pipinya.
"Buka matamu!" ucap Sean meninggikan suaranya.
"Seperti itukah orang yang merasa bersalah? aku tidak suka saat kamu meninggikan suara mu! kamu tidak pernah memikirkan perasaan ku!" ucap Yelena dengan suara parau nya.
"Aku bilang buka matamu!"
"Aku tidak ingin melihat mu!"
Sean mengerutkan keningnya. Wanita yang selama ini selalu menurut padanya, selalu pasrah dengan hal apapun yang dia lakukan padanya, saat ini sudah berani memberontak.
Dia menggertakkan giginya, rahangnya mulai mengeras. Kedua tangannya juga mulai mengepal untuk menekan emosinya.
"Sebenarnya aku ini apa? apa benar aku ini tunangan mu? kenapa rasanya seperti aku ini hanya barang yang dipungut dari jalanan. Aku bahkan tidak dapat mengingat apapun! apa kamu yakin aku benar tunangan mu!?"
"Cukup!" bentak Sean.
"Jangan membuatku menyakiti mu!"
__ADS_1
"Apa kamu tidak sadar? selama ini kamu sudah cukup menyakitiku, Sean.." lirih Yelena di tengah isak tangisnya.
"Sebaiknya tenangkan dulu dirimu!" ujar Sean yang kemudian pergi meninggalkan Yelena.