Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Allesa?


__ADS_3

"Allesa?"


Fiona membelalakkan matanya kaget saat melihat Yelena yang sekilas mirip dengan Allesa. Jika saat itu dia lengah, mungkin dia sudah mengenali Yelena sebagai Allesa.


"Jadi ini? menarik!" Fiona menyeringai.


Dimata Fiona, Yelena terlihat seperti seekor kelinci. Terlihat lembek dan tak berdaya. Apalagi saat melihat apa yang baru saja dia lakukan kepada Sean. Hal itu membuat Fiona semakin ingin menindas nya.


Namun Fiona melupakan satu hal penting. Kalau kelinci juga dapat menggigit saat dirinya merasa terancam.


Di depan sana Yelena masih terlihat gugup. Dia sedang dilema, mendekat atau tidak. Sebenarnya dia sangat tidak nyaman dengan tatapan wanita di samping Sean itu.


Hufftt~


Dia menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar untuk mengumpulkan kepercayaan dirinya.


'Aku adalah tunangannya!'


Tatapan Yelena mulai berubah. Tatapannya menjadi tegas. Dengan berani dia melangkahkan kakinya ke depan sana seolah siap untuk bertempur.


Tentu saja perubahan seketika itu membuat Fiona kaget. Aura yang kuat datang dari diri Yelena, membuat Fiona yang sempat meremehkannya kini membeku di tempat.


"Permisi?"


Hingga suara itu membangunkannya. Dia tak bergeming, hanya menatap Yelena dengan ketidakberdayaan. Sekujur tubuhnya serasa dingin karena tatapan yang diberikan Yelena.


'Ternyata dia berbeda dengan Allesa,' batin Fiona.


"Permisi?" ulang Yelena sekali lagi.

__ADS_1


"Iy-iya.." jawab Fiona tergagap.


'Fiona bodoh! kenapa kamu tergagap? apa yang kamu takuti dari wanita lemah itu?' Fiona mengutuk dirinya dalam hati.


"Saya mau menjemputnya," ujar Yelena sembari melirik ke arah Sean.


"Ah, jadi kau gadis yang membuat Sean jadi seperti ini? kasihan sekali dia, hanya karena gadis kampungan seperti mu dia membuat dirinya jadi seperti ini!" sindir Fiona.


"Saya tidak ada urusan dengan anda," ucap Yelena tegas.


"Apa katamu!? aku adalah teman baik Sean!" Fiona meninggikan suaranya.


Namun Yelena hanya meliriknya dengan dingin, hingga membuat Fiona yang akan angkat bicara lagi kembali menutup mulutnya karena tatapan itu.


"Kamu mau pulang apa tidak!?" ucap Yelena ketus sembari menarik tangan Sean dengan kasar.


"Kau mau pulang apa tidak!?" tanyanya sekali lagi.


"Dia itu sedang mabuk bodoh!" ujar Fiona.


Yelena membuang muka kemudian meninggalkan tempat mereka berkumpul itu. Sean yang melihat Yelena pergi langsung bangkit dari duduknya. Dengan tubuhnya yang terhuyung-huyung dia menyusul di belakang Yelena.


"Apa kau memiliki pikiran yang sama denganku?" tanya Bas pada Fiona.


"Bukankah dia mirip dengan Allesa?" sahut Jeremy.


"Apakah aku terlalu mabuk? atau mataku yang mulai rusak?" sahut Dias.


"Mata kalian semua yang rusak!" ujar Fiona ketus kemudian meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Dia sengaja mengikuti Sean dan Yelena. Di depan bar dia mengedarkan pandangannya mencari kedua orang itu.


Ketemu..


Dia menghampiri Yelena dan menarik tangannya. Yelena yang kaget karena tangannya tiba-tiba ditarik itu sontak menarik kembali tangannya dengan kasar.


"Maaf, aku pikir siapa," ujar Yelena dengan nada menyesal, tapi tidak menghilangkan ekspresi kesal di wajahnya.


"Tak apa.." jawab Fiona.


"Apa kamu bisa menyetir? aku bisa mengantar kalian berdua jika kamu mau. Mobilku ada di sebelah sana.." tawar Fiona dengan maksud tertentu.


Yelena mendengarkan ucapan Fiona sembari repot membantu Sean untuk masuk kedalam mobilnya. Selesai itu dia menghadap Fiona.


"Tidak perlu, terima kasih. Aku tidak bisa meninggalkan mobil Sean di sini,"


"Jika tidak ada hal penting lagi, aku permisi.." ujar Yelena yang kemudian masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban dari Fiona.


Fiona masih berdiri di sana dengan perasaan kesal. Mobil menyala, dan lampu mobil itu menerpa wajah Fiona.


"Aku akan membalas mu lain kali!" decaknya kemudian pergi dari sana.


Tatapan Yelena mengikuti kepergian Fiona yang semakin tak terlihat. Kemudian menghela napas lega. Sebenarnya dia tidak yakin apakah dia bisa mengendarai mobil atau tidak.


Dia melirik Sean yang tak sadarkan diri di sampingnya. Kemudian kembali fokus pada mobilnya. Dia merasa tidak asing dengan pedal- pedal di bawah kakinya. Dengan perlahan dia menginjak pedal yang menurut kata hatinya itu adalah rem. Kemudian dengan percaya diri dia mulai memasukkan persneling nya, dan menginjak gas. Mobil berjalan dengan normal.


"Aku bisa menyetir?" gumamnya sembari mengendalikan kemudinya dan melajukan mobil pergi dari sana.


Ya, Yelena bisa mengendarai mobil. Karena dia dulu sering antar-jemput adik pantinya menggunakan mobil panti asuhan.

__ADS_1


__ADS_2