
Ada yang aneh.
Vivian menatap wajah kedua pria rupawan yang baru saja datang itu. Masing-masing dari mereka memiliki bekas memar di wajahnya.
"Apa kalian tadi habis terjungkal bersama?" ujar Vivian.
Dia tidak bodoh. Siapa yang tidak tahu jika itu adalah memar bekas pukul. Dia tahu itu.
"Yelena kemana?" tanya Aiden.
"Ke kamar mandi."
"Jadi, ada apa dengan wajah kalian?" lanjut tanya Vivian.
Yohan menghela napas panjang, kemudian menyesap minuman yang telah Vivian pesan. Lalu menyandarkan tubuhnya di bahu kursi.
"Hei Nona Mulya tapi orangnya tidak Mulya!"
Vivian mengerutkan keningnya, setelah mendengar ucapan teman lamanya itu.
"Serigala kasar ini~ apa katamu!?" pekik Vivian.
__ADS_1
"Kau juga sama! jangan pikir karena kau sudah baik dengan Yelena, bukan berarti kau tidak salah!" ucap Yohan yang membuat Vivian kebingungan.
Vivian menatap Aiden dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Dia teman masa kecil Yelena saat di panti," ucap singkat Aiden cukup menjelaskan semuanya.
"Apa!?"
Vivian menunduk malu setelah mendengar semuanya. Dia benar-benar merasa seperti orang jahat.
"Emm~ ada apa?" ujar Yelena setelah kembali dan melihat raut wajah mereka yang tampak aneh.
"Tidak~" jawab mereka bertiga secara bersamaan.
"Apa kamu mengingat dia?" ujar Aiden memulai aksinya. Yelena menatap Aiden, kemudian menatap Yohan.
Dia tidak lupa, karena sebelumnya dia sudah pernah bertemu dengannya. Pria itu mengaku sebagai teman masa kecilnya, juga menyebut panti sebagai tempat tinggal mereka sebelumnya. Tapi Yelena tak percaya saat itu..
"Dia teman masa kecil kamu, Yohan Audika.." sahut Vivian.
"Jadi waktu itu dia tidak berbohong?" gumam Yelena seraya memandang Yohan yang tertunduk lesu.
__ADS_1
"Tapi ada sedikit kesalahpahaman di antara Yohan dan Sean.."
"Sean menganggap kecelakaan yang terjadi padamu itu karena Yohan. Jadi mereka sedikit berselisih karena hal itu..juga dia tidak senang jika kamu bertemu dengan Yohan. Kamu akan merahasiakan hal ini pada Sean kan?" panjang lebar Aiden.
"Kamu ingin mengingat kembali ingatan mu kan?" ujar Vivian sembari menggenggam tangan Yelena.
Yelena tidak dapat berpikir jernih. Pikirannya bercabang kemana-mana. Dia menatap ketiga orang itu secara bergantian. Kemudian menundukkan kepalanya dengan lemah.
"Hanya Yohan yang dapat membantumu.." sahut Aiden.
"Kamu dapat mengingat kembali ingatan mu, lalu kamu bisa merebut kembali Sean dari teman kecilnya itu! Wanita itu sedang memanfaatkan keadaanmu. Bagaimana jika tiba-tiba dia mengaku sebagai pasangan Sean? Jika ingatan mu tidak kembali dia akan semakin berulah!" Vivian semakin memprovokasinya.
Yelena menengadahkan kepalanya, dia mulai membuat raut wajah serius. Dia rasa apa yamg dikatakan Vivian benar.
Dia melepas genggaman tangan Vivian, kemudian menghela napas panjang. Dia kembali menundukkan kepala sembari memainkan jarinya.
Sebenarnya itu bukan keputusan yang sulit untuk di ambil. Namun entah mengapa hatinya terasa dilema.
"Aku akan memikirkannya.." lirih Yelena.
"Apalagi yang harus dipikirkan?" decak Vivian.
__ADS_1
Dia merasa kesal setelah mendengar jawaban dari Yelena. Dia hanya perlu mengiyakannya, tapi mengapa dia malah memperumit nya? Vivian mengusap rambutnya dengan gusar.
"Aku percaya padamu.. apapun keputusan mu," sahut Yohan yang sejak tadi terdiam.