Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Dia Telah Mati


__ADS_3

"Mau kemana kau?"


"Menemui Pak Sean untuk membahas konser tahunan.."


"Jangan bilang aku belum memperingatkan mu, dia sedang dalam suasana hati yang buruk."


Kabar itu dengan cepat menyebar luas ke seluruh isi perusahaan. Hingg siang ini belum ada yang berani memasuki ruangan Sean, kecuali satu orang. Celine, salah satu manager di perusahaan itu. Perempuan yang tidak sengaja telah memberi tahu keberadaan Sean pada Yelena, saat kejadian di atap.


tok tok~


Jika Celine tidak membuka mulut, dia merasa akan terus di hantui oleh kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan. Apalagi setelah hari itu suasana hati atasannya terlihat sangat buruk. Jika terjadi apa-apa dia akan merasa sangat bersalah.


"Permisi, Pak.."


Sangat kacau. Atasannya yang gila rapi hari itu sangat berantakan. Rambut yang biasanya disisir dengan rapi, kini dibiarkan turun yang hampir menutupi matanya. Dasi yang biasanya terikat dengan rapi, kini juga terlihat seperti asal diikat. Ya, Sean tidak memakai dasi yang sudah di siapkan Yelena.


"Ada apa?" tanya Sean malas.


"Saya mau minta maaf, Pak.."


"Apa kau sudah membuat perusahaan rugi besar? jika bukan itu cepat keluar!" ucapnya datar.


"Bukan perusahaan, Pak. Tapi Bapak," jawab Celine penuh tanggung jawab.


Sean mengangkat kepalanya dan menatap datar Celine. Celine maju lebih dekat ke depan meja Sean, lalu membungkuk 45°.

__ADS_1


"Hari saat anda dan Nona Allesa naik ke rooftop, Nona Yelena datang, dan saya tidak sengaja memberitahu keberadaan anda."


Sean tidak menunjukkan ekspresi apapun, marah pun juga tak akan merubah segalanya. Dia menatap pegawainya yang masih membungkuk itu, kemudian mengusap wajahnya dengan gusar.


"Kau boleh keluar.." ujarnya.


Celine mengangkat kepalanya dan menatap Sean dengan perasaan aneh. Atasannya itu tidak marah sedikit pun.


"Maaf, Pak?"


"Kau lupa aku tidak suka mengulang ucapan ku?" ujar Sean dengan dingin.


"Bapak tidak marah?" ujar Celine keceplosan yang langsung membungkam mulutnya.


Sean tertawa.


"Untuk apa aku marah?"


"Wanita itu telah mati!"


Sean bangkit dari duduknya dan menghampiri Celine yang berdiri di depan sana. Seperti orang yang sedang mabuk. Langkahnya terlihat tak stabil. Juga tawanya yang membuat orang merinding.


"Kau tau? mereka bilang pemakamannya dilaksanakan hari ini.." ucapnya di sela tawa kecilnya yang seperti orang gila.


Celine memundurkan langkahnya karena merasa takut. Sean benar-benar terlihat kacau. Celine sempat berpikir jika atasannya itu sedang dilanda depresi.

__ADS_1


"Saya turut berdukacita, Pak.." ujar Celine.


"Apanya yang berdukacita!? dia belum mati!" bentaknya di depan wajah Celine.


Celine semakin khawatir dengan keadaan Sean. Dia rasa Sean sedang tidak baik-baik saja. Dia terpuruk hingga tak percaya jika Yelena telah mati.


"Nona Yelena akan sedih jika Bapak seperti ini.." gumamnya.


"Cukup! pergi dari sini!"


"Dan juga, benda apa itu? sejak kapan benda itu ada di atas meja sana?" Sean menunjuk sebuah tas kotak yang ada di atas meja untuk tamu.


"Itu..saya rasa itu tas yang di bawa Nona Yelena waktu itu. Sepertinya itu tas bekal.."


"Kau lihat sendiri? bukankah baru kemarin lusa kau melihatnya? dan sekarang dia mati! apa kau percaya?"


Sean mendekat, meraih kedua pundak Celine dan mencengkeramnya.


"Apa kau percaya!?" bentaknya sambil mengguncang tubuh Celine dengan keras.


Celine memejamkan matanya sambil menahan sakit di pundaknya.


"Ti- tidak, Pak.." ucapnya terpaksa agar Sean melepasnya.


Sean melepas cengkeramannya dan berbalik. Dia mengusap wajahnya dengan gusar. Kepalanya tidak dapat berpikir jernih.

__ADS_1


"Kau boleh pergi!"


__ADS_2