Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Maaf, dan Terima Kasih


__ADS_3

"Yelena, tunggu!" panggil Sean saat Hana pergi meninggalkannya.


Dengan perasaan kacaunya Hana berlari ke taman belakang. Dia menenangkan dirinya dengan duduk di bangku taman.


Dia menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di bahu kursi. Malam itu bintang bertebaran di langit sana. Mengingatkannya pada perasaan sepi yang menyelimuti hatinya saat dia tinggal bersama Sean.


plok..plok.. plok~


"Nona keluarga Xu.."


Hana menoleh pada sumber suara yang terdengar mengesalkan itu. Sosok wanita yang sangat dia kenal.


"Ternyata kau masih hidup? susah payah aku membayar orang untuk membunuh mu!"


Hana mengerutkan keningnya meskipun saat ini dia ingin menampar wanita itu, namun dia menahannya.


"Maaf? apa anda bicara dengan saya?" ujar Hana yang membuat Allesa kesal.


"Menurut mu aku bicara dengan pohon!?" bentak Allesa.


"Bisa jadi.." ujar Hana dengan senyum miringnya.


"Dasar wanita sialan!" teriak Allesa yang kemudian mendekati Hana dan mencoba untuk menjambak nya.


Sayangnya dia gagal. Hana menahan tangannya dan memutarnya kebelakang punggungnya. Saat ini Allesa seperti seorang tahanan. Tidak sia-sia Hana belajar bela diri dari Helio.


"Wanita kurang ajar!" Allesa meronta-ronta.


Kesabaran yang sedari tadi Hana tahan, kini dia luapkan. Dengan sebelah tangannya yang lain dia menjambak rambut Allesa dengan keras.


"Beraninya kau bersikap tidak sopan kepadaku!? apa kau ingin ku jadikan makan anjing!?" bentak Hana.


Hana mendorong Allesa dengan kuat hingga tersungkur ke tanah. Tidak puas dengan itu, dia menarik baju Allesa, membuat dia untuk menatapnya. Hana memberikan beberapa tamparan keras di wajahnya.


"Arghh! lepaskan!" teriak Allesa.


Hana mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu, namun dia tidak menemukan satu pengawal pun. Kenapa tidak sejak awal dia menyadari hal itu. Semua karena dia terlalu fokus pada pikiran nya sendiri saat kabur tadi.


"Kenapa? kau mencari pengawal mu?" tanya Allesa dengan tawanya yang terdengar mengesalkan.


"Tenang saja mereka hanya tidur sejenak.." lanjutnya.


Hana mengerutkan keningnya.


'Berarti dia tidak sendiri jika bisa melumpuhkan semua pengawal di sini,' batin Hana.


"Yelena!"


Dia lengah karena menoleh pada suara itu. Allesa mengambil kesempatan untuk mendorong Hana hingga terjatuh. Kemudian mengeluarkan senjata api genggam dari paha nya dan menyodorkannya ke arah Hana.


"Allesa! hentikan!" teriak Sean sambil berlari mendekat ke arah mereka berdua.


"Berhenti! atau aku akan menembak kepalanya!" ancam Allesa pada Sean.


Sean tidak dapat berbuat apapun. Dia hanya berdiri di kejauhan sambil menatap khawatir Hana.


Hana tersenyum tipis, kemudian bangkit dari jatuhnya. Dia menatap Allesa tanpa rasa takut. Kemudian dengan berani dia berjalan mendekat ke arah Allesa.


"Berikan satu alasan untuk mu melakukan semua ini, lalu terserah apa yang selanjutnya ingin kau lakukan!" ujar Hana.


"Jangan bertindak bodoh! aku tidak ingin kehilanganmu sekali lagi!" teriak Sean.

__ADS_1


Hana mengepal tangannya, meremas ujung gaunnya. Persembunyiannya sudah terkuak. Sekalian saja dia mengakui dirinya. Dia berbalik menatap Sean.


"Orang seperti mu merasa kehilangan!?" ujar Hana dengan tawa kecil.


"Kau tidak pantas memiliki orang yang tulus di samping mu! orang yang pantas bersanding denganmu hanya wanita yang seperti dia!" lanjutnya sambil menunjuk Allesa.


"Ya, sama-sama jahat dan tidak memiliki hati! sepasang anjing.. bukankah itu sebutan yang bagus!?"


"Sialan! apa maksudmu? jangan lupa kau tawanan di sini!" ujar Allesa.


Hana berbalik lagi untuk menghadap Allesa.


"Apa kau sidah menemukan alasanmu?" tanya Hana.


"Itu alasannya! karena dia lebih memilihmu dibanding aku!" teriak Allesa.


"Dia selalu membicarakan tentang mu saat bersamaku! membunuhmu saja tidak cukup untuk membuatnya melupakan mu!"


"Lalu sekarang.. ternyata kau masih hidup? dunia ini benar-benar lucu!"


Sean berdiri dengan kepala tertunduk. Dia masih tertegun dengan ucapan Hana tadi. Saat mengangkat kepala sebuah titik merah ada di belakang kepala Hana.


Mata Sean mengikuti arah asal cahaya merah itu. Tenyata sejak awal semua ini telah di rencanakan. Allesa hanya memancingnya agar tetap berdiri di sana.


"Yelena! menyingkir dari sana!" teriak Sean yang langsung berlari ke arah Hana.


Hana yang sedari tadi bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa itu, kini sekujur tubuhnya gemetar hebat.


Traumanya kembali. Melihat Sean yang berteriak dan berlari ke arahnya itu membuatnya mengingat kejadian menyakitkan di tahun itu. Saat Yohan celaka karenanya, dengan hal serupa yang Sean lakukan sekarang.


Sean berhasil mendekap tubuh Hana.


Hana mencoba mendorong Sean, namun..


Dorr~


Hana memejamkan matanya, namun dia tidak merasakan sakit dimanapun. Pejamnya semakin rapat, dia takut jika membuka matanya akan melihat hal yang tidak ingin dilihatnya. Dia menangis dengan mata terpejam nya.


'Ku mohon jangan!' batinnya.


Tangan kiri Sean yang merengkuh pinggang Hana mulai lemas dan terlepas dari sana. Kepalanya yang sudah tak mampu untuk tegak itu juga terjatuh ke pundak Hana.


"Ha~" tangis Hana pecah. Tangisnya semakin keras.


"Jangan menangis, Yelena.." lirih Sean.


"Anggap saja ini sebagai penebusan dosa ku terhadap mu."


"Maafkan aku, Yelena..dan terima kasih untuk segalanya."


"A~"


"Uhukk~" Sean batuk-batuk.


Pundak Hana yang tak tertutup oleh seutas benang pun itu, dia merasakan sesuatu. Sesuatu yang mengalir. Apa itu darah? apa dia batuk darah? batinnya.


"Sean~" panggilnya sambil menahan sesenggukan nya.


Sebelah tangan Hana meraba punggung Sean. Dia mengangkat kembali tangannya saat merasakan sesuatu dari sana. Tangisnya semakin menjadi setelah melihat tangannya yang basah akan darah.


"Sean!" teriaknya.

__ADS_1


"Aku bersyukur karena di saat seperti ini aku masih bisa mendengar mu memanggil namaku.." lirih Sean tak bertenaga.


"Pengawal!" teriak Hana.


"Pengawal!!" teriaknya semakin keras.


Dia semakin frustasi saat tidak ada satupun orang yang datang.


"Aku mencintaimu, Yele~" ucap terakhir Sean yang belum selesai.


Hana masih terdiam, dia juga masih belum menyadari jika Sean sudah tidak bergerak.


"Kau tau? sebesar apapun rasa kecewa dan benci ku, aku tetap tidak dapat melupakan mu. Kau lihat gelang ini, aku masih memakainya.."


"..."


Hening.


"Sean?"


"Sean? kau mendengar ku, kan?"


"Sean!" teriak Hana.


"Hana!?" panggil seseorang dengan khawatir.


"Kakak!" teriak Hana.


Helio segera berlari ke adiknya.


"Kenapa kakak baru datang? bukankah kakak itu hebat? kenapa kakak bisa membiarkan mereka semua masuk dengan mudah!?" teriak Hana.


Helio hanya mematung di tempatnya berdiri saat ini. Pertama, dia merasa bersyukur karena adiknya tidak terluka sama sekali. Kedua, tidak menyangka Sean akan melakukan hal itu untuk adiknya.


"Cepat cari mereka semua kak! cepat! aku ingin mereka semua mati!" ucap Hana dengan histeris.


"Tidak! selamatkan dia dulu saja! cepat kak!" teriak Hana.


"Aku sudah memberantas mereka semua..mereka juga yang telah membunuh orang tua kita," ujarnya sembari mengambil alih tubuh Sean dan membaringkannya di rerumputan taman. Dia terdiam setelah memeriksa kondisi Sean.


"Kenapa kakak diam!?"


"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" teriak Hana.


Helio masih terdiam sambil menatap adik perempuannya itu dengan tatapan tak berdaya. Hana seolah mengerti dengan tatapan kakaknya itu.


Dia menatap Sean, kemudian memukuli dadanya.


"Kau ingin aku melakukan apa setelah mendengar semua kata-kata itu keluar dari mulutmu!?" teriaknya.


"Kau benar-benar tidak bertanggung jawab!"


"Kau ingin membuat ku gila seumur hidupku!? kau ingin balas dendam karena telah membuatmu depresi selama setahun terakhir ini?"


"Hah!? jawab Sean! jawab!"


"Bangun!"


"Arrgghh!"


Itu adalah bukti terakhir Sean. Pengorbanan yang dia berikan, semua karena dia benar-benar mencintai Yelena. Meskipun harus pergi jauh, dia tidak akan menyesal. Karena dia telah menyelesaikan semuanya dan mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dia akan tenang.

__ADS_1


__ADS_2