Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Mimpi Yang Terasa Nyata


__ADS_3

Seorang diri, hanya berteman sepi dan angin malam. Yelena menyandarkan kepalanya di tiang teras rumah. Dia duduk menekuk lutut sambil memandangi halaman rumah yang kosong dan sepi itu.


Kosong, sepi. Seperti hatinya.


Langit berbintang yang seakan sudah lelah mendengar gerutu hatinya. Mereka menghilang. Tidak ada bintang, tidak ada bulan. Tidak ada Sean.


Hembusan angin seolah menertawakan nasibnya. Petir yang tiba-tiba menyambar itu juga seolah mendukung aksi angin yang mengolok-olok Yelena.


Rintik hujan mulai turun. Bukan untuk menghibur, tapi untuk pamer. Menunjukkan bahwa rintik hujan tak sendirian, tak seperti dirinya.


Yelena bangkit dari duduknya. Kamar menjadi tujuan terakhirnya. Dia membiarkan pintu balkon terbuka. Membiarkan angin dingin masuk dan menyerang kepalanya. Agar kepalanya membeku dan tak dapat memikirkan apapun.


Langit-langit kamar itu lagi. Memang hanya benda itu yang tak berubah. Tak bergerak ataupun bersuara dan mengolok-oloknya.


Yelena memejamkan matanya, mungkin tidur adalah cara terbaik untuk menyisihkan pikiran yang terus mengganggunya.


Namun..


Dia salah. Tidak hanya dalam dunia nyata, di dunia tak nyata dalam tidurnya, sesuatu masih bisa mengganggunya. Dalam mimpi.


Gelap. Seperti sebuah ruangan yang tak berujung. Dia berdiri sendiri di dalam sana. Dia ketakutan, dia takut pada gelap.


Dia berteriak, namun tidak ada sahutan sama sekali. Dia terus berteriak dan berlari. Namun semakin dia berlari bukannya menemukan cahaya, dia malah terjatuh kedalam lubang.


Suara tangis muncul. Yelena menoleh melihat sekelilingnya, kemudian menutup kedua telinganya.


"Kakak jangan pergi.."


"Apa kamu harus pergi sekarang, Nak?"


"Kakak akan sering mengunjungi kalian.."

__ADS_1


"Iya Bu, Yelena pamit.."


Suara-suara itu memenuhi lubang tempatnya terjatuh. Sangat berisik dan berdengung seperti dalam bioskop. Yelena terus menutupi telinganya dan menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan suara-suara itu.


"Pergi!" teriaknya.


Brak~


Tubuhnya terasa seperti ditabrak oleh sesuatu yang keras. Dia terlimbung dengan mata terpejam. Namun sedikit rasa sakit pun tidak dia rasakan.


Dia membuka matanya. Kini dia bangun di bawah pohon flamboyan. Dia semakin bingung, baru sesaat tadi di berada di sebuah lubang yang gelap. Dia menyentuh tubuhnya yang dia rasa tadi habis tertabrak sesuatu. Tidak ada luka.


"Kakak jangan pergi ya.."


Suara itu lagi. Namun kali ini berbeda. Ada seseorang. Di sebelah sana banyak sekali anak kecil yang sedang menangis. Juga seorang gadis muda yang tak begitu jelas wajahnya. Yelena bangkit dan melangkahkan kakinya menuju gerombolan orang di sana.


"Permisi.."


Namun tidak ada yang menghiraukannya.


Dia kebingungan, kenapa tubuhnya bisa di tembus. Yelena berbalik menatap gadis yang baru saja menabraknya itu. Dia merasa penasaran, lalu mengikuti nya. Dia terus mengikuti gadis yang pergi bersama koper kecil dan tas duffel nya itu.


"Jalan ini.. sepertinya jalan ini terlihat tidak asing," gumamnya.


Gadis yang diikutinya duduk di halte dan meneguk minumannya. Yelena mendekatinya dan berjongkok di hadapannya. Sudah sedekat itupun wajahnya masih tak terlihat jelas, seperti samar-samar.


Gadis itu bangkit dan berdiri di samping lampu penyeberangan. Yelena kembali mengikutinya yang sudah menyebrang dan berada di separuh jalan.


Brak~


"Ahh~"

__ADS_1


Tubuh Yelena terlimbung. Baru saja di depan matanya dia melihat gadis itu di tabrak. Dia sangat kaget, tubuhnya bergetar hebat. Gadis yang sedari tadi dia ikuti kini terbaring lemas di tengah jalan dengan darah segar yang memenuhi tubuhnya.


Yelena mencoba untuk mendekat dan melihat keadaan gadis itu. Namun langkahnya terhenti.


"Sean?"


"Pria yang keluar dari mobil itu.. yang menabrak gadis itu.."


"Dia.."


"Tidak!!"


Yelena terbangun dengan napas yang tersengal-sengal. Keringat memenuhi tubuh dan wajahnya. Hari sudah pagi. Segera dia bangkit dari tidurnya dan keluar dari kamarnya, berharap Sean sudah pulang.


"Sean!?"


Dia memeluk Sean yang hendak menuruni tangga.


"Kamu tak apa kan?" ucapnya di balik punggung Sean.


Yelena melepas pelukannya, lalu membekap wajah Sean. Dia memeriksa apakah ada luka di kepala atau tubuhnya. Sean menangkap tangan Yelena.


"Kamu kenapa? aku baik-baik saja.." ujar Sean.


"Aku mimpi kamu menabrak seseorang.." jawab Yelena.


Sean tertegun mendengar hal itu. Dia memalingkan wajahnya lalu tersenyum kecut.


'Itu bukan mimpi, itu nyata. Dan seseorang yang ku tabrak adalah dirimu, Yelena..' batin Sean.


"Itu hanya mimpi, semuanya baik-baik saja.." ujar Sean seraya mengecup kening Yelena.

__ADS_1


"Tapi itu terasa sangat nyata.." gumamnya.


Yelena kembali ke kamarnya dengan linglung. Dia bahkan sampai lupa jika dia harus memasak untuk Sean. Mimpi itu sangat menggangu pikirannya. Dia masih penasaran siapa gadis itu. Juga apa maksud dari mimpinya itu.


__ADS_2