Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Aku Iri Dengan Mereka


__ADS_3

Drrtt.. drtt~


Aiden yang sedang berbaring di sofa ruang tamu itu menjingkat kaget karena dering ponselnya. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Raut wajahnya berubah kesal saat menatap nama yang muncul di layar ponselnya. 'Kakak'.


Dengan malas Aiden mengangkat teleponnya.


'Segera tinggalkan tempat itu, aku akan segera ke sana!' ucap Sean langsung saat Aiden mulai mengangkat teleponnya.


'Tidak! kakak akan semakin memperburuk keadaan!'


'Aku tidak suka mengulang ucapan ku!'


'Jika kakak macam-macam dengannya, aku yang akan menghadapi kakak!'


'Perlakuan mu padanya itu akan membuat Vivian salah paham loh..jadi cemaskan saja dirimu sendiri, jangan ikut campur urusan ku!'


Ucap terakhir Sean sebelum memutuskan panggilannya.


Aiden melempar ponselnya ke sofa lainnya yang ada di samping sana. Dia memijat kepalanya gusar.


"Sial!" decaknya.


Setelah berpikir panjang, akhirnya dia beranjak dari duduknya. Dia telah memutuskan untuk menuruti ucapan kakaknya. Karena bagaimanapun mereka harus menyelesaikan urusan mereka.

__ADS_1


Dalam langkahnya menuju kamar Yelena, suara tawa yang begitu keras dari atas sana terdengar hingga bawah sana, dimana tempat Aiden berdiri saat ini, yaitu tangga.


Aiden tersenyum tipis. Dia sangat bersyukur keduanya bisa akrab. Juga merasa lega karena akhirnya ada teman wanita yang bisa dia ajak bicara.


"Vivian ku yang sangat baik itu.." gumam Aiden sembari melanjutkan langkahnya.


Klakk~


Dengan hati-hati Aiden membuka pintu kamar Yelena, dan mengintip dari celah yang telah dia buat tanpa harus mengganggu keseruan mereka berdua. Dia tidak pernah melihat Vivian tertawa begitu lepas setelah kejadian 10 tahun yang lalu. Ya, dia seakan telah kehilangan senyumnya setelah kejadian itu.


Dia melirik Yelena. Yelena yang selalu murung dan tersenyum hanya saat perlu, kini tertawa lepas bersama Vivian.


Berat baginya untuk memisahkan kedua wanita itu saat ini. Dia benar-benar sangat senang melihat kedekatan mereka berdua. Mereka berdua seolah sedang saling mengobati lukanya hati.


Suara Yelena mengagetkannya.


Dengan perasaan canggung dan malu dia membuka pintunya lebar sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Kamu menguping ya!!" seru Vivian.


"Nggak!" Aiden mengibaskan tangannya didepan dada.


"Mana ada maling ngaku!" ujar Vivian kesal.

__ADS_1


Sedangkan Yelena hanya terkekeh kecil melihat interaksi kedua orang itu yang menurutnya lucu.


"Aku hanya tidak ingin mengganggu keseruan kalian, karena saat ini waktunya Vivian untuk pulang," ujar Aiden membuat kedua wanita itu menatap ke arah jam dinding.


"Hei! apa-apaan kalian ini!? aishh, kalian membuat ku gila!" ujar Aiden saat melihat raut wajah mereka berdua.


Yelena dan Vivian saling menatap setelah menyadari pukul berapa saat ini. Keduanya tampak kecewa dengan waktu yang berjalan sangat cepat itu, bahkan tak terasa berjalannya.


Mereka berdua saling mengaitkan tangan, seperti anak TK yang tidak ingin berpisah dengan teman sekolahnya.


"Lihat itu! aishh..dia adalah milikku, Yelena.." ujar Aiden yang kemudian menarik tangan Vivian.


Kedua wanita itu tertawa setelah mendengar ucapan Aiden. Ditambah dengan raut wajahnya yang seolah-olah Yelena telah merampas kekasihnya itu membuat mereka semakin tidak bisa menghentikan tawanya.


"Sudahlah, perutku sakit karena terus tertawa. Cepat bawa kekasih mu itu pergi, atau aku akan mengurungnya semalaman disini bersamaku!" ujar Yelena.


"Ahh..jangan membuatku malu," ujar Vivian sembari bergelayut di lengan Aiden.


Jujur Yelena merasa sangat iri dengan kedekatan mereka berdua. Tertawa bersama, bermesraan. Tatapan keduanya pun sama-sama terlihat jika mereka berdua saling mencintai.


Dan tatapan yang selalu Sean berikan pada nya hanyalah tatapan dingin yang tidak memiliki makna apapun dalam setiap sorotannya.


'Aku iri dengan mereka..' batin Yelena.

__ADS_1


__ADS_2