Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Malam Kebersamaan


__ADS_3

"Sean?" Yelena mengibaskan tangannya di hadapan Sean.


Sean mulai sadar dari lamunannya setelah mendengar suara Yelena. Dia menatap Yelena.


"Kamu sendiri sudah makan malam?" tanya Yelena.


"Belum.."


"Kok belum?" ujar Yelena sembari menarik lengan Sean untuk masuk ke dalam.


Sean menatap lengannya yang di tarik oleh Yelena itu. Kemudian menatap Yelena. Dia tersenyum tipis.


Yelena meletakkan barang belanjaannya di kursi ruang tamu. Kemudian menyuruh Sean untuk duduk di meja makan.


Yelena berjalan ke arah dapur dan mencuci bersih tangannya. Kemudian mulai mengenakan celemek merahnya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Yelena.


"Mie instan," jawab Sean.


"Apa?" tanya Yelena kaget setelah mendengar jawaban Sean.


"Iya..mie instan," jawab Sean sembari menyangga dagunya di atas meja.


"Tapi mie instan itu tidak sehat Sean. Lagi pula kita juga tidak menyimpan makanan itu di sini.." ujar Yelena.


"Aku baru saja membelinya.."

__ADS_1


"Kamu pasti sudah merencanakannya.." cetus Yelena.


Yelena membuka lemari penyimpanan dan menemukan beraneka macam mie instan di dalamnya. Dia menggeleng tak percaya. Kemudian mengambil dua bungkus mie instan itu.


Beberapa menit kemudian...


Mie instan dengan telur mata sapi telah siap di hadapan Sean.


"Hanya ini? milikmu mana?" tanya Sean.


"Aku tidak lapar.." jawab Yelena.


Sean menghela napas, kemudian menggulung mie nya di garpu. Tidak lupa dia meniup mie yang masih panas itu.


"Aaaa~" ujarnya sembari menyodorkan garpu itu di depan mulut Yelena.


Sean mengangkat sebelah alisnya untuk Yelena menurutinya.


Yelena mulai membuka mulutnya. Garpu itu hampir masuk ke mulut Yelena. Namun Sean menariknya kembali dan memakannya.


"Sean!!" decak Yelena.


Sean tertawa pelan. Yelena terkejut melihat pemandangan langkah di hadapannya itu. Dia tersenyum tipis. Dia berharap waktu berhenti berputar saat ini, agar dia bisa menikmati pemandangan itu sedikit lebih lama.


"Buat sendiri sana! ini milikku.." ujar Sean mengejek Yelena.


Yelena menyangga dagunya di atas meja dan menatap Sean yang melahap mie nya. Sean menelan mie nya dengan sulit karena tatapan Yelena.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Sean sembari menyendok mie nya.


Yelena menggeleng dan tersenyum. Kemudian menuangkan air untuk Sean. Sean menatap Yelena. Entah mengapa dia merasa aneh dengan suasana itu. Terasa seperti pasangan sungguhan.


'Tapi tidak buruk juga..kenapa selama ini aku tidak merasakannya..' batin Sean.


"Aaa~" dia kembali menyodorkan garpu di depan mulut Yelena.


Yelena menatap garpu itu, kemudian memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin dibodohi lagi untuk yang kedua kalinya.


"Ayo aaa!" ujar Sean sembari mengangguk.


Dengan ragu Yelena membuka mulutnya. Kali ini Sean benar-benar menyuapi Yelena. Yelena mengunyah makanannya dengan bangga.


"Lagi~" ujar Yelena sembari membuka mulutnya.


Sean tersenyum tipis..


'Manisnya..' batinnya.


Sean kembali menyuapi Yelena. Dia menatap lega wajah Yelena yang bahagia hanya karena suapan nya.


"Seperti anak kecil saja!" ujar Sean sembari mengusap sudut bibir Yelena yang belepotan.


"Kan yang nyiapin kamu.." ujar Yelena sembari mengunyah makanannya dengan manja seperti anak kecil yang di suapi Ibunya.


"Aisshh~ dasar gadis ini!" gerutu Sean.

__ADS_1


Yelena menyunggingkan senyumnya. Dia benar-benar bahagia. Namun beberapa ruang di hatinya masih menyimpan sedikit kekhawatiran. Kekhawatiran tentang wanita bernama Allesa itu. Juga kalimat yang di ucapkan Sean semalam.


__ADS_2