
Sudah hampir setengah jam mereka berdiri di antara banyaknya orang dalam barisan antrian itu.
Berulang kali Sean menghela napas panjangnya. Dia bersandar di pagar besi pembatas. Dia merasa heran apa yang Yelena sukai dari tempat seperti ini. Wahana seperti ini saja harus mengantri panjang, melebihi antrian makanan.
Sedikit pun tidak tergambar lelah di wajah Yelena. Dia tetap bersemangat dan ceria seperti baru datang tadi.
'Apa dia tidak lelah?' gerutu Sean dalam hati.
Yelena menatap bianglala yang berputar itu. Gemerlap lampu yang menyorot tampak berbinar di matanya. Sean menatap wajah bahagianya. Di saat seperti itu, ucapan Vivian memasuki pikirannya.
'Yelena menggenggam harapan dan impiannya, lalu kamu menghancurkannya. Masa depannya kebahagiaan nya..'
Sean menggelengkan kepalanya mengusir pikiran yang mengganggu itu. Tapi semakin sulit saat Yelena menatapnya dengan senyum polos di wajahnya.
'Tenangkan dirimu Sean, ini hanya sementara.. semuanya akan segera berakhir saat Allesa kembali!'
Tapi bagaimana jika Allesa tidak kembali? Ini sudah 4 tahun lebih. Apa lagi yang dia harapkan dari Allesa?
"Kenapa Sean?" tanya Yelena membuyarkan lamunannya.
"Tidak, hanya sedikit capek saja.." jawabnya.
"Apa kita pulang saja?" ujar Yelena khawatir sembari menyentuh pundak Sean.
Sean menatap tangan Yelena yang ada di pundaknya, kemudian menatapnya. Perlahan Yelena menarik tangannya saat melihat tatapan dingin Sean.
Dia harus mengontrol emosinya. Dia tidak ingin senyum itu pudar dari wajah gadis itu. Dia tidak ingin. Sean meraih tangan Yelena dan menggenggam nya dengan erat.
__ADS_1
Yelena tampak bingung dibuatnya. Sean adalah orang yang sulit untuk ditebak.
"Habis ini giliran kita.." ujarnya sembari menyiah rambut Yelena.
Yelena mengangguk patuh, kemudian melirik tangannya di bawah sana yang digenggam oleh Sean. Otaknya selalu bekerja keras setiap kali Sean menunjukkan perhatiannya secara tiba-tiba.
Hal itu mengingatkan nya pada kejadian setahun yang lalu, hari saat dia keluar dari rumah sakit dengan memori kepala kosong. Sean marah besar hanya karena sebuah gaun.
Yelena memejamkan matanya, dan membawa pergi pikiran buruk itu bersama helaan napasnya.
"Ayo.." ujar Sean menarik tangan Yelena, membuatnya terkaget dan membuka matanya.
Sean menuntun Yelena untuk masuk kedalam kabin bianglala.
"Pasangan anda benar-benar sangat perhatian.." ujar seorang petugas yang disahuti anggukan kecil dan senyum ramah oleh Yelena.
Petugas menutup pintu kabin setelah Sean masuk. Perlahan bianglala itu mulai berjalan. Yelena tersenyum bahagia menatap Sean, kemudian menatap pemandangan malam di bawah sana.
"Kamu belum pernah naik benda seperti ini sebelumnya?" tanya Sean keceplosan.
Dia memalingkan wajahnya saat Yelena menatapnya.
"Aku?" gumam Yelena sambil berpikir keras.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud.." ujar Sean.
"Aku yakin ingatanmu akan segera kembali.." lanjutnya.
__ADS_1
Yelena memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut. Sean dapat melihat wajah sedih Yelena dari pantulan kaca kabin yang gelap.
"Ye~"
"Sean?"
Panggil mereka bersamaan. Sean merasa lega karena Yelena tidak mendengar panggilannya.
"Apa?" sahut Sean.
"Aku tadi sedikit mendengar ucapan anak-anak muda yang sedang mengantri. Apakah benar jika ada pasangan yang berciuman di puncak tertinggi bianglala, maka mereka akan hidup bahagia selamanya?" tanya Yelena dengan sangat polosnya.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu padaku?" gumam Sean sambil tertawa kecil.
Yelena menutup wajahnya dengan malu.
"A- aku kan hanya bertanya.." ujar Yelena.
Sean meraih pergelangan tangan Yelena untuk berdiri, lalu menariknya hingga terjatuh di pangkuannya.
"Ah~ ini akan jatuh.." teriak Yelena saat kabin bianglala itu bergoyang.
"Aku benar-benar kalah.." lirih Sean sambil mengusap rambutnya. Yelena terlalu lucu, batinnya.
"Apa kamu ingin membuktikannya?" bisik Sean di telinga Yelena, kemudian menatap dalam-dalam bola matanya.
"Tergantung padamu, jika kamu ingin hidup bahagia selamanya bersamaku.." ujar Yelena.
__ADS_1
Sean menarik tengkuk Yelena dan menciumnya.
'Hidup selamanya bersamamu? aku akui waktu yang ku habiskan bersamamu sangatlah menyenangkan, juga nyaman bagiku. Tapi untuk hidup bersama selamanya denganmu, itu mustahil!' batin Sean.