
Dingin.
Tidak ada yang menolongnya. Tubuhnya yang terasa sakit enggan untuk berdiri. Kekuatan seakan hilang dari tubuhnya.
Kepalanya menunduk, matanya menatap genangan air yang mengurungnya.
Tik tik tik~
Suara rintik hujan menimpa suatu benda. Butiran air hujan berhenti menimpa tubuhnya.
Dia mendongak.
Sebuah payung hitam terkembang di atas kepalanya. Tangan yang terlihat kuat dengan jemari yang panjang terulur ke arahnya.
"Apa kamu ingin menjadi ikan?"
Matanya kembali mengeluarkan butiran bening. Dia kembali menundukkan kepalanya dan terisak.
"Sudah kubilang, air mata wanita adalah kelemahan ku!" ucapnya sambil berjongkok dihadapan Yelena.
"Aiden!" seru Yelena meraih tubuh Aiden dan memeluknya.
Aiden yang kehilangan keseimbangan itu jatuh dari jongkoknya dan kini berlutut. Dia menghela napas pasrah karena bajunya yang basah.
Diulurkan sebelah tangannya membalas pelukan Yelena. Dia mengusap punggung Yelena dengan lembut, memberikan ketenangan untuknya.
Dia menangis sesenggukan dalam pelukan Aiden. Melampiaskan semuanya pada orang itu.
"Ayo kita masuk, kamu akan masuk angin jika terus begini," tutur Aiden.
Yelena melepas pelukannya.
"Tapi..Sean..dia.." ucapannya sesenggukan.
__ADS_1
Tidak menanggapinya, Aiden hanya mengulurkan tangan. Mengangguk lembut saat Yelena menatapnya.
Yelena menerima uluran tangannya. Dia mencoba untuk berdiri, namun sulit. Kakinya yang lemas itu tidak mampu menopang tubuhnya.
Aiden menyodorkan payung ditangannya.
"Meskipun celanaku sudah basah, tapi aku tidak ingin bajuku juga ikut basah. Pegang itu!" ucapnya.
Aiden mengangkat tubuh Yelena. Tubuh lemah tak berdaya itu.
"Demi apa aku harus mengasuh calon kakak ipar ku?" gerutunya.
Huaaa~
Tangis Yelena pecah saat mendengar ucapan Aiden.
"Mengapa kamu mengatakan nya seperti itu~"
"Mengapa kamu sangat menyebalkan!?" tegur nya memukul dada Aiden pelan.
Aiden tersenyum.
"Apanya yang lucu?"
"Apa suasana hatimu sudah mulai membaik?"
Yelena terdiam, juga tidak berani menatap mata Aiden. Dia akui hatinya akan akan tenang, kekhawatiran nya akan hilang..saat ada Aiden di sekelilingnya. Seperti saat ini. Rasa takut yang muncul dalam dirinya mulai sirna.
Aiden membopong Yelena sampai ke kamarnya. Dengan saling bekerja sama Yelena membuka pintu kamar mandi. Aiden meletakkan tubuh Yelena di bathtub.
"Kamu bisa mandi sendiri kan? apa perlu aku panggil Bibi?" tanya Aiden.
"Tidak perlu, aku sudah cukup merepotkan Bibi beberapa hari terakhir ini. Biarkan dia istirahat," tutur Yelena.
__ADS_1
"Ya sudah, aku keluar,"
"Eh tunggu!"
Aiden yang hendak menutup pintu itu menghentikan tangannya.
"Apa? kamu mau aku bantu mandi?" Aiden menyeringai.
"Dasar mesum!" pekik Yelena sembari menutup wajahnya.
"Tolong ambilkan baju," lirihnya kemudian.
Aiden menyeringai.
Tanpa menjawab permintaan Yelena, dia keluar begitu saja.
"Menyebalkan," gerutu Yelena.
Sambil menunggu bathtub nya terisi, dia berdiri menghadap kaca. Dia menatap wajah cantiknya. Disentuhnya kedua pipinya, kemudian naik ke kepalanya. Dia menyentuh perban yang membalut kepalanya itu. Basah.
Ingatan kejadian barusan pun kembali terlintas. Bulir bening pun kembali menetes. Rasa nyeri mulai dirasakan pada dadanya. Dia meremas bajunya. Ingin rasanya dia berteriak, meluapkan semuanya.
"Yelena~ bajumu aku taruh di depan pintu. Aku mau turun cari makanan sama ganti baju. Jangan lama-lama! nanti tubuhmu bisa jadi udon!" teriak Aiden dari balik pintu.
"Dasar cerewet!" jawab Yelena.
Yelena menarik napas panjang-panjang, kemudian menghelanya perlahan. Mengurangi rasa sesak di dadanya daei setiap helaan napasnya.
'Kamu adalah tunangannya, kamu tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak! kamu harus mempercayai nya. Besok kamu harus minta maaf Yelena!'
Dia berkata dalam hatinya..
BERSAMBUNG...
__ADS_1