
"Aku sudah menduganya.." gumam Yelena saat keluar dari ruang Dokter.
Seperti hewan peliharaan yang di tinggal oleh tuannya. Yelena celingukan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Rumah Sakit. Namun sosok yang dicarinya tak terlihat dimana pun.
Dia menghela napas pasrah sambil tersenyum pahit menatap resep obat ditangannya. Dia tidak merasa sakit, tidak ada keluhan pada lukanya. Jadi dia rasa obat itu tidak lagi penting. Dia melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam kantong sakunya.
Kemudian melajukan langkah kakinya menuju lift. Dengan kepalanya yang dibebal, berjalan sendiri dengan penampakan seperti itu terlihat sangat menyedihkan.
Ting~
Pintu lift terbuka saat dia sampai di sana. Bersamaan dengan sepasang pria dan wanita dia masuk kedalam sana. Wanita itu memiliki luka yang sama seperti miliknya. Sebuah luka pada dahinya, namun itu terlihat tidak parah. Sedangkan pria disampingnya terlihat sangat mengkhawatirkan nya.
"Aih~ kenapa kamu memasang wajah seperti itu? sudah ku bilang aku baik-baik saja. Ini hanya luka ringan.." ucap wanita itu pada pasangannya.
Tidak melihat pun akan tetap terlihat, karena mereka berdua ada di depan Yelena.
__ADS_1
Pria itu mengusap rambut pasangannya. Sesekali dia meniup luka kecil itu. Benar, hal itu membuat Yelena merasa iri. Siapa yang tidak ingin diperhatikan seperti itu saat sedang sakit?
Sayangnya hal itu tidak terjadi padanya. Apa gunanya mengantar jika akhirnya ditinggal. Yelena menghela napas berat dan menyandarkan tubuhnya di tubuh lift. Rasanya lift itu berjalan dengan sangat lambat. Dia memejamkan matanya sejenak.
'Aku ingin ingatanku segera pulih dan memperbaiki kesalahan apa yang telah ku buat hingga membuatnya seperti itu..' batinnya.
Dia membuka matanya, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Akhirnya.. Udara segar di luar sana sudah menunggunya, juga sebuah mobil yang tak terlihat asing.
Dia tersenyum miring. Kemudian memalingkan wajah dan membalikkan badan. Saat ini dia sedang tidak ingin melihat wajah pria itu. Dia melajukan langkahnya secepat yang dia bisa.
Air matanya mulai menetes. Entah mengapa air mata itu menetes dengan tiba-tiba. Dia mengisap air matanya dan mulai berlari. Tidak tahu jalan yang dilewati itu benar atau tidak. Dia hanya mengikuti jalan itu, kemanapun jalan itu membawanya itu tidaklah masalah.
Bantulah dia menghitung, sudah berapa kali dia jatuh hari ini? Bahkan di saat seperti ini dia harus jatuh. Takdir sungguh tidak berpihak padanya.
"Maaf Nona, mari saya bantu.." ucap orang yang tidak sengaja menabraknya.
__ADS_1
Yelena hanya diam dan terisak. Pria itu melihat sekelilingnya, orang-orang menatapnya seperti seorang penjahat.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun.." serunya dengan panik dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Tangisnya semakin pecah. Dia tidak ingin bangun. Dia tidak perduli lagi dengan tatapan orang-orang saat itu.
"Seharusnya kamu tidak lari seperti itu.."
Suara yang muncul dari belakang. Dia sangat mengenal suara itu. Tidak, dia tidak ingin melihatnya..juga tidak ingin terlihat olehnya. Dia mencoba untuk bangkit, namun tidak bisa. Pergelangan kakinya keseleo.
"Kamu harus menyerah.."
Sean mengangkat tubuh Yelena.
"Turunkan aku!" berontak nya.
__ADS_1
Yelena meronta-ronta dan memukuli tubuh Sean dengan kepalan kecilnya. Pukulan tak bertenaga itu tidak artinya bagi Sean. Bahkan seorang anak kecil saja bisa melakukannya dengan lebih keras. Tapi wanita dewasa itu tidak.
BERSAMBUNG...