
"Bibi?" seru Aiden saat membuka pintu.
"Bibi dari mana saja?" lanjut tanyanya.
Aiden menatap beberapa orang yang berdiri di belakang Bibi. Beberapa orang dengan banyak tas belanjaan di tangannya. Sepuluh atau mungkin lebih banyak dari itu. Aiden mengerutkan keningnya.
"Apa itu Bi?" tanyanya.
"Ba-baju Den," jawab Bibi terbata-bata.
"Baju?"
Aiden mengingat kembali apa yang di lihatnya tadi. Mungkin itu sebabnya lemari menjadi kosong, pikirnya.
"Lalu baju yang sebelumnya di kemanakan?"
"Mohon maaf Den, bisa kita bicara di dalam saja? kasihan mereka," ucap Bibi.
Aiden melirik orang-orang itu yang terlihat kewalahan dengan barang bawaan yang begitu banyak. Dia kemudian berpindah tempat dan mempersilahkan orang-orang itu untuk masuk.
Di tatapnya satu per satu orang yang masuk itu. Mereka mengenakan seragam toko, yang tidak lain adalah pegawai toko tempat membeli baju-baju itu. Dia menyeringai.
"Wah, benar-benar gila~ kenapa tidak diangkut dengan mobil box aja?" gumamnya.
"Gini Den.."
Bibi mengambil perhatian Aiden, membuat Aiden menoleh dan memperhatikan Bibi yang akan bicara.
__ADS_1
"Baju yang ada di kamar Non Yelena saya pindah ke gudang belakang.." ujar Bibi.
"Kakak yang suruh?"
Bibi mengangguk ragu.
Aiden hanya tersenyum sinis kemudian berjalan mengikuti orang-orang yang mulai menaiki tangga. Dia mempercepat langkahnya dan berjalan mendahului mereka.
Aiden membuka pintu kamar Yelena.
"Hei kakak ipar, lihat kejutan apa yang di berikan kakak ku!" serunya saat memasuki kamar.
Sedangkan Yelena yang masih berdiri di depan pintu walk-in closet nya itu melonjak kaget. Dengan kakinya yang pincang dia menghampiri Aiden.
Betapa kagetnya dia saat melihat barisan orang-orang di depan pintu sana dengan banyak barang belanjaan di tangan mereka.
"Kejutan dari tunangan mu.." jawab Aiden mengangkat sebelah alisnya.
Yelena menatap Aiden bingung. Kemudian menatap orang-orang itu. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mempersilahkan masuk atau mengambil satu per satu barang-barang yang ada di tangan mereka.
"Apa ini semua milikku?" tanyanya ragu.
"Menurutmu? atau perlu aku telepon Sean?"
Yelena melambaikan ke dua tangannya di depan dada.
"Tidak, tidak perlu." dia tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Si- silahkan masuk.." ucapnya.
Orang-orang itu langsung masuk begitu Yelena memberi izin. Mereka menuju walk-in closet yang di tunjuk oleh Yelena.
Seperti sudah diberi perintah sebelumnya, mereka langsung menata semua pakaian itu kedalam lemari. Yelena mengerutkan keningnya heran. Kemudian menatap ke arah Aiden.
Aiden mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak dapat berbuat apa-apa.
"Kami sudah menatanya sesuai perintah tuan Sean. Semoga Nona suka dengan bajunya. Kami pamit undur diri.." ucap salah satu perwakilan dari mereka.
"Permisi Nona," mereka semua membungkuk memberi hormat.
Yelena memundurkan langkahnya, merasa sungkan dengan penghormatan mereka yang sedikit berlebihan.
"Terima kasih," ucap Yelena.
Dia memasuki walk-in closet nya saat orang-orang itu telah keluar dari kamarnya. Dia melihat satu per satu rak yang mulai terisi penuh dengan baju dan aksesoris lainnya. Mulai dari gaun hingga setelan lainnya.
Yelena mengambil satu baju secara acak dari gantungan. Kemudian menatap deretan gantungan lainnya. Rata-rata dari mereka semua berwarna cerah, seperti merah misalnya.
Dia membawa gaun di tangannya itu menuju cermin. Di tempelkan baju itu ke tubuhnya dan menatap dirinya di depan cermin. Terlihat sangat aneh. Melihat lemari yang dipenuhi dengan warna merah itu membuat kepalanya pusing.
"Apa aku memang menyukai warna merah?" tanyanya pada Aiden.
"Ya, kamu cukup menyukai warna itu.."
BERSAMBUNG...
__ADS_1