Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Dia Mirip Yelena


__ADS_3

"Iya kakak..aku tidak akan main-main. Aku sedang mencari gaun untuk nanti malam.." ucap Hana dalam panggilan teleponnya.


Wanita paruh baya yang sedari tadi mengikutinya itu sangat penasaran dengan wajahnya. Dia tidak sengaja mendengar suara wanita itu saat melewatinya, kemudian mengikutinya karena rasa penasarannya.


"Aw~"


Dia menjatuhkan dirinya dan membuat wanita muda di depannya itu menoleh.


"Sudah dulu ya, kak..bye," tutupnya.


Hana menghampiri wanita paruh baya yang terjatuh itu. Dia tidak fokus pada wajahnya karena wanita itu menunduk. Tanpa rasa curiga dia menolongnya.


Hana sempat tercengang setelah melihat wajah wanita itu. Ternyata dia adalah Gloria Li. Sedikit rasa kecewa memang ada. Dia tahu putranya melakukan hal buruk, tapi dia membiarkannya dan ikut bersandiwara di dalamnya.


'Meskipun aku dapat merasakannya jika dia memang tulus. Tapi tetap saja aku kecewa..' batin Hana.


"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Hana.


Gloria mengerutkan keningnya. Wanita di depannya itu sangat mirip dengan Yelena. Hanya rambut dan dandanannya yang berbeda. Dia terlihat lebih dewasa.


Tapi jika itu memang Yelena, bagaimana bisa dia tidak mengenalinya. Pikir Gloria.


"Yelena?" ucap Gloria.


Hana mengerutkan keningnya sembari membantu Gloria berdiri.


"Maaf, Nyonya?" tanyanya.

__ADS_1


Gloria masih tercengang dengan reaksi wanita itu. Dia memang bukan Yelena. Gloria tersenyum pahit dan mengusap keningnya dengan gusar.


"Apa anda baik-baik saja? apa kepala anda sakit?" tanya Hana.


"Tidak.." ujar Gloria tersenyum tipis.


"Maaf, saya kira anda seseorang yang saya kenal. Jika saja dia masih hidup, saya ingin meminta maaf karena menyesal tidak dapat melindunginya hingga akhir," lanjut Gloria dengan menyesal.


Hana terdiam. Dia tidak tahu harus menanggapi dengan apa. Mendengar hal itu dari mulut Gloria membuat hatinya teriris. Sangat perih.


"Dia pasti dapat merasakan ketulusan anda. Meskipun dia telah berada di surga, dia pasti dapat mendengar anda.." tutur Hana.


"Terima kasih.." ujar Gloria.


Hana tersenyum tipis.


Gloria mengangguk pelan. Dia menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh. Gloria menghela napas panjangnya, kemudian mengusap dadanya.


"Tapi aku dapat merasakannya.." gumamnya.


...****************...


ting tong~


Bel terus berbunyi, namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam sana. Gloria mencoba membuka pintu itu, namun ternyata terkunci.


Dia mencoba mengetuk pintu itu berulang kali. Tetap saja tidak ada sahutan. Dia mengambil ponsel dari dalam tas nya. Lalu mencoba menghubungi pemilik rumah itu.

__ADS_1


"Buka pintunya, Mama di luar!" ucapnya tegas.


Tanpa menunggu lama lagi, pintu terbuka. Bau tak sedap menyambutnya saat dia memasuki rumah itu. Sampah botol minuman keras dan sampah bekas makanan menumpuk di mana-mana.


Belum lagi penampakan putranya yang sangat mengerikan. Gloria menggelengkan kepalanya. Dia merasa prihatin dengan keadaan putranya.


"Setahun terakhir ini Mama memang terlalu sibuk di luar negeri.." ujarnya.


"Apa kamu sudah kembali ke kantor mu? atau Aiden yang masih mengisi posisi mu?" tanyanya.


Sean hanya diam sambil melipat tangannya di dada dan memalingkan tatapannya. Gloria menghela napas pasrah menghadapi putranya yang dengkal itu.


"Keluarga Li mendapat undangan pesta peresmian perusahaan Keluarga Xu, malam ini. Mama harap kamu akan hadir."


"Tidak!" jawab Sean tanpa pikir panjang.


Gloria maju selangkah ke hadapan putranya, kemudian menyentuh jenggotnya. Lalu beralih ke rambut gondrong nya.


"Sangat berantakan!"


"Rapikan dirimu, lalu datang bersama Mama malam ini!" tegasnya.


"Aku tidak suka mengulangi ucapan ku!" bantah Sean.


"Baiklah. Maka sekali lagi kamu akan menyesal!" ujar Gloria yang yang langsung berbalik pergi.


"Apa maksud Mama!?"

__ADS_1


"Mama juga tidak suka mengulangi ucapan!"


__ADS_2