
"Kakak~"
Yelena langsung membungkam mulutnya. Apa yang terlintas di kepalanya keluar begitu saja dari mulutnya. Padahal dia sudah memikirkan hal itu sebelumnya, bahwa dia tidak akan menyinggung hal sensitif di depan Aiden. Tapi apa daya, otak dan kepalanya tidak sinkron. Menyesal pun percuma, karena Aiden sudah mendengarnya.
"Kakak?"
Ulang Aiden sembari berjalan mendekat dan berdiri di samping Yelena. Dia sedikit menunduk untuk melihat wajah Yelena.
Yelena memalingkan wajahnya..
"Hei..apa kamu sedang menghindari tatapan ku!?" protes Aiden.
Yelena menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Aiden. Kemudian duduk dan menggelantung kan kakinya ke bawah dari atas gedung itu.
Apa dia boleh menghibur Aiden seperti itu, pikirnya. Aiden mulai mengikuti posisinya dan kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Namun Yelena memalingkan wajahnya, membuat Aiden semakin kesal.
Puk~
Dia membekap wajah Yelena. Membuat pemilik wajah itu membelalakkan matanya kaget. Bibirnya yang membentuk mulut ikan itu membuat Aiden tertawa.
"Jangan membuat orang penasaran! lanjutnya ucapan mu.." ujar Aiden.
"Kakak apa? kakak ku? Sean?" lanjutnya.
Yelena menggeleng, kemudian memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian.
"Panggil aku kakak!"
__ADS_1
"Pfftt~ memang kamu lebih tua dariku?" ejek Aiden sembari melepaskan tangannya dari wajah Yelena.
Raut wajahnya mulai berubah. Tawa yang baru saja melintas itu tiba-tiba menghilang. Matanya menatap pemandangan dibawah sana dengan tatapan kosong.
Hening... hanya terdengar suara angin yang berhembus.
"Dari mana dan seberapa banyak yang kamu dengar?" tanya Aiden.
"Dari kamu membuka pintu sampai akhir.." jawabannya dengan jujur.
Aiden menundukkan kepalanya, mencoba mengingat kembali apa yang telah dia ucapkan dalam ruangan Sean tadi.
"Apa hanya itu yang ingin kamu katakan? tidak ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?" tanya Aiden menengadahkan kepalanya dan menatap Yelena.
"Hmm.." seru Yelena.
Aiden menghela napas lega. Karena emosinya tadi, dia hampir lupa apa yang telah dia ucapkan. Syukurlah dia tidak mengulas hal tentang Allesa dan sandiwara ini saat tadi.
Aiden menatap Yelena dengan tatapan mengkoreksi. Dia telah melihat informasi data diri Yelena sebelumnya. Yelena hanya 3 bulan lebih tua dari Aiden. Memanggilnya kakak sebenarnya bukan masalah besar.
Aiden tersenyum tipis.
"Kakak~" serunya dengan senyum ceria.
Seperti terik matahari siang itu, secerah itulah senyum Aiden saat ini. Yelena tercengang, kemudian ikut tersenyum saat melihat mata yang membentuk lengkungan eye smile itu.
'Lucu, seperti anak kecil yang ingin di beri permen,' batin Yelena.
__ADS_1
"Iya, adik besar ku?"
Yelena mengusap pelan rambut halus milik Aiden. Sedangkan sang pemilik rambut itu tersenyum kecut. Andai dia benar-benar memiliki kakak perempuan, pasti itu akan sangat menyenangkan. Pikirnya.
"Tidak! aku tidak ingin memanggil mu kakak! kita kan sepantaran.."
Yelena mengerutkan keningnya mendengar pernyataan itu.
"Baiklah terserah kamu.." Yelena memalingkan wajahnya.
"Kamu aja seperti anak kecil gini, pengen di panggil kakak.. tinggikan badanmu dulu!"
Aiden menempeleng kepala Yelena.
"Aw~" rintih Yelena.
Segera Aiden melepas tempeleng nya. Dia lupa dengan luka yang ada di kepala Yelena.
"Maaf, aku lupa..apa sakit?"
"Bllweek! aku boong!"
Yelena menjulurkan lidahnya dan segera berdiri, kemudian berlari meninggalkan Aiden.
"Dasar~" gerutu Aiden dengan terburu-buru berdiri.
"Hei! si pendek! berhenti di sana!" panggil Aiden.
__ADS_1
Melepas beban sejenak. Rasa kekhawatiran, rasa takut, rasa sedih dan juga kecewa..pada detik itu tergeser oleh canda dan tawa. Dua orang itu tengah berlarian di atas roof top seperti tanpa beban.
BERSAMBUNG...