Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Pembicaraan Yang Sensitif


__ADS_3

Yelena melirik Vivian yang berbaring di sampingnya. Tatapan mengintimidasi yang saat ini Vivian berikan padanya. Yelena memutus kontak matanya saat melihat tatapan mengerikan itu.


"Anak ini seperti aku akan memakannya saja!" gerutu Vivian.


"Mmm.. kalau tidak salah, kita ini seumuran kan?" tanya Yelena.


"Kenapa?"


"Mm tidak, hanya saja.." Yelena menggantung ucapannya.


"Tidak, lupakan saja," lanjutnya.


"Karena aku memanggilmu bocah dan lain sebagainya?" tebak Vivian sambil menyeringai


"Haishh.. sudahlah, itu tidak penting! sekarang cepat ceritakan padaku apa yang telah terjadi!"


Yelena menekuk lututnya, kemudian merapatkan tubuhnya ke depan untuk memeluk lutut. Sesekali dia menghela napas berat.


Dia mulai memutar otak, dia takut jika hanya dia yang terlalu berlebihan. Bagaiman jika Vivian dan Aiden juga melakukan hal itu? Dia tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengatakannya.


Sekali lagi dia menghela napas panjang sembari memainkan lututnya.


"Argh.. aku benar-benar ingin memukulmu!!"


Vivian mulai geram dan melempar bantal kecil ke punggung Yelena.

__ADS_1


Yelena terkekeh pelan. Kemudian melempar kembali boneka itu kepada Vivian. Vivian tersenyum kecut saat melihat senyum cerah Yelena.


"Entah bagian mananya darimu yang dianggap mirip dengan wanita iblis itu.." lirih Vivian.


"Apa kamu habis mengatakan sesuatu?" tanya Yelena yang samar-samar mendengar suara.


"Tidak..hanya saja senyummu seperti penyembuh,"


"Aishh.. sampai kapan kamu terus mengalihkan topik pembicaraan!?"


Yelena tersipu malu mendengar ucapan Vivian barusan. Senyumnya seperti penyembuh?


Yelena memainkan jarinya. Akhirnya dia sudah menemukan jakan keluar mulai dari mana dia akan membuka cerita yang cukup sensitif itu.


"Mm..jadi.." Yelena terlihat ragu.


"Hal ap~" Vivian menghentikan ucapannya saat dia mulai mengerti ke arah mana ucapan Yelena.


"Apa kamu gila!? tentu saja tidak!"


Vivian tersipu malu, pipinya mulai bersemu merah. Tentu saja, siapa yang tidak ingin melakukan hal itu dengan orang yang dicintainya.


"Wajahmu tampak seperti saos tomat.." Yelena tersenyum kecil.


"Aku tidak berbohong. Hubungan kami masih sebatas ciuman saja!" ucap Vivian yang membuat wajahnya semakin memanas.

__ADS_1


"Apakah Aiden pernah hampir melakukan hal itu padamu?" tanya Yelena yang terus memancing.


"Tentu saja tidak. Dia tidak mungkin merusak ku,"


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? cepat katakan saja pada intinya!" ucap Vivian geram.


Benar. Jika dia mencintainya, dia tidak mungkin ingin merusaknya. Masih belum tentu jika tunangan itu pada akhirnya akan menuju tahap pernikahan. Pikir Yelena.


"Semalam Sean hampir melakukan hal itu jika ku tidak menamparnya tepat waktu.." ucap Yelena dengan berat.


"Apa katamu!?" Vivian meninggikan suaranya dan beranjak dari tidurnya untuk menatap wajah Yelena saat ini.


Matanya mulai berkaca-kaca. Sepertinya air mata itu sudah siap untuk menetes jika dia mengedipkan matanya.


Vivian tidak menyangka Sean berani melakukan hal itu. Bagaimana dia bisa melakukan hal itu dengan wanita yang tidak dikenalnya.


Dia bukan seperti Sean yang Vivian kenal. Sean yang Vivian kenal bukanlah pria yang berpikiran rendah. Melakukan hal seperti itu tentu saja tidak mungkin baginya. Namun yang dikatakan Yelena tidak mungkin bohong.


"Pria sialan itu!" umpat Vivian.


"Apakah itu memang normal? atau aku yang terlalu berlebihan mempermasalahkan hal itu?" tanya Yelena.


"Menurut ku itu sedikit normal karena sudah ada ikatan pertunangan. Namun setiap orang pasti mempunyai pendapatnya masing-masing bukan?"


"Ikatan pertunangan? tapi bagaimana jika akhirnya tidak sampai pada tahap pernikahan?"

__ADS_1


Kalimat itu membuat Vivian tidak dapat berkelit. Memang benar apa yang dia ucapkan. Vivian mengakui hal itu. Dan bagaimana jika Yelena mengetahui semuanya setelah mereka melakukan hubungan badan? Bukankah dia akan benar-benar hancur?


__ADS_2