Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Yelena Masih Hidup


__ADS_3

Sean menatap dirinya yang terlihat lebih baik di depan cermin. Rambutnya yang gondrong telah menjadi pendek. Jenggot dan kumis nya juga sudah tak terlihat.


Dia berbalik dan menatap sekeliling kamarnya. Dia baru menyadari jika dia tidak memiliki satupun foto Yelena.


...Ternyata, kita akan tahu seberapa berharga nya orang itu saat dia pergi meninggalkan kita....


Sean tersenyum pahit. Kini menyesal pun tiada artinya. Wanita itu tidak akan kembali. Dan tidak akan pernah mungkin.


Andai ada kesempatan baginya sekali saja. Dia ingin meminta maaf dan mengungkapkan perasaannya yang sedikit terlambat itu. Meskipun terkesan sangat tak tahu diri.


Jika di kehidupan selanjutnya mereka masih di takdir kan untuk bertemu. Dia akan menjadi pria yang baik untuknya. Dia akan melindunginya, dan mengorbankan segalanya sekalipun itu nyawanya sendiri.


Sean menggenggam penjepit dasi di tangannya. Hanya itu kenangan satu-satunya dari Yelena. Dia mengusap ukiran di pin itu. SY.


"Sean!?" panggil Gloria dari bawah sana.


Sean memasangnya, lalu dengan segera dia turun ke bawah. Gloria menatap tubuh putranya yang kurus itu dari bawah sana. Dia menghampiri Sean yang baru saja turun itu, lalu meraih tubuhnya. Dia memeluk Sean.


"Mama?" panggil Sean.


Gloria mengusap air matanya di belakang punggung Sean. Kemudian dengan senyum profesional nya dia melepas pelukannya.


"Ayo~" ujarnya.


...****************...


"Kakak perhatikan kamu tidak pernah melepas gelang itu. Itu hanya seutas tali, saat ini itu terlihat sangat tidak cocok dengan gaun mu.." ujar Helio.


"Apa itu pemberian dari Yohan?" sahut Hayden.


Hana mengusap gelang merah yang melingkar di pergelangan tangannya itu. Entah, dia juga tidak tahu mengapa dia masih tidak bisa melepaskan gelang itu.

__ADS_1


"Penjualnya bilang ini gelang keberuntungan.." jawab Yelena.


"Di zaman modern seperti ini kamu masih percaya dengan hal seperti itu?" ledek Helio.


Helio, dia hanya berbeda 2 tahun dengan Hana. Dan sifat terpendam yang dia miliki adalah sifat kekanakan.


"Oh iya.. bagaimana kabar Yohan?" tanya Hana.


"Aku tadi baru saja meneleponnya. Dia baik-baik saja. Hanya saja saat sedikit kecapekan punggungnya akan sakit. Dokter bilang itu efek dari bekas kecelakaannya." jawab Helio.


"Sudah saatnya kau menghadapinya. Mau sampai kapan kau akan menghindari nya terus?" lanjut Helio.


Saat itu kebetulan Hayden tidak ada di sana. Jika Hayden mendengar itu, dia pasti akan menegur Helio.


"Sebentar lagi, Kak..aku masih malu untuk menghadapnya."


Di bawah sana Hayden menatap kedua adiknya, lalu menyodorkan tangannya. Hana dan Helio saling menatap. Kemudian Helio menggamit tangan Hana dan menuntunnya untuk turun.


Benjamin bangkit dari duduknya dengan tongkat yang ada di tangannya, di bantu oleh asistennya. Dia berjalan kearah ketiga cucunya. Kemudian memeluk Hana dengan hangat.


"Inti dari pesta malam ini bukan hanya peresmian perusahaan. Namun juga menyambut kembalinya cucu saya. Hana Xu," ujar Benjamin yang di sambut meriah oleh tepuk tangan para tamu.


Sedangkan seseorang yang berdiri di sebelah sana sedang tercengang menatap pemandangan di hadapannya.


Tubuhnya gemetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak dapat berpikir jernih.


"Tenangkan dirimu.." bisik Gloria.


"Dia.. dia masih hidup.." gumamnya


"Mama tidak yakin," ujar Gloria.

__ADS_1


Dia terlihat sangat berbeda. Rambut coklat pendek dengan make up yang sedikit tebal. Sean yakin jika itu Yelena, dia dapat merasakannya.


Tubuhnya mulai tak terkontrol. Dia melangkahkan kakinya mendekat.


"Sean!" Gloria mencoba menarik tangan Sean, namun Sean menghempasnya.


Dia berjalan ke arah Hana yang saat ini tengah sendiri. Air matanya mulai tak tertahankan. Perlahan air mata itu mulai tumpah.


"Yelena.." panggilnya saat dia telah berdiri di hadapan Hana.


Hana menoleh dan tercengang. Pria di hadapannya itu. Dirinya yang sangat congkak itu kini menangis. Hana menggenggam erat ujung gaunnya.


"Yelena..ini benar kamu? kamu masih hidup?" Sean semakin mendekat dan menahan kedua pundak Hana.


"Beraninya anda bersikap tidak sopan!?" bentak Hana yang mengundang perhatian para tamu undangan.


"Dan lagi, beraninya anda menyebut nama mendiang Ibu saya dengan tidak sopan seperti itu!?"


Yelena Xu adalah nama Ibunya. Kalung yang di tinggalkan bersama Hana saat di panti asuhan adalah milik Ibunya.


"Tolong jangan membuatku lebih menderita lagi, Yelena. Aku benar-benar minta maaf atas semua yang telah ku perbuat pada mu.." ujar Sean.


Byur~


Hana menyiram Sean dengan minuman yang ada di tangannya, di depan semua orang. Sean benar-benar telah di permalukan.


Benjamin menghentikan Hayden dan Helio yang hendak menghampiri Hana.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya.." ujarnya dengan bijaksana.


"Tapi pria itu telah menyakiti Hana, kakek!" bantah Hayden.

__ADS_1


"Kakek dapat merasakannya dari tatapan Hana. Dia tidak dapat menyembunyikan perasaannya itu selamanya. Percayakan semuanya pada adikmu. Biarkan dia memilih jalannya sendiri," ujar Benjamin dengan bijak.


__ADS_2