
"Terima kasih, Vivian..kamu gak mampir dulu?" tanya Yelena.
Vivian melirik mobil Sean yang terparkir di depan rumah. Membayangkan wajahnya saja sudah membuatnya kesal.
Vivian menghela napas dan memutar bola matanya. Matanya berhenti di sana. Pada sosok pria yang sedang berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
Tatapan memusuhi Sean dia tampakkan kepada Vivian. Seolah mengintrogasi hal apa saja yang mereka lakukan hingga pulang malam.
Vivian memaksakan senyumnya dan menatap Yelena.
"Sepertinya tidak untuk saat ini, lihatlah pria menyebalkan yang berkacak pinggang di sana.."
Yelena menoleh dan menelan saliva nya saat melihat tatapan mengerikan Sean. Dia tersenyum canggung kemudian memutuskan pandangannya dan berbalik pada Vivian.
Dia mengetuk layar ponsel yang ada di tangannya. Sudah hampir jam 10 malam. Yelena mengingat pesan Sean sebelum pergi tadi. 'Jangan pulang terlalu malam!'. Kenapa tidak dari tadi kalimat itu muncul? kenapa baru sekarang? Yelena mengutuk dirinya sendiri karena melupakan kalimat yang begitu penting.
Vivian tersenyum kecil melihat reaksi lucu Yelena.
"Ya udah, aku pulang dulu ya.." pamit Vivian.
"Iya, hati-hati di jalan~"
Yelena menunggu hingga mobil Vivian tak terlihat. Kemudian berbalik dan melajukan langkah beratnya ke arah Sean yang berdiri di depan pintu rumah.
Yelena membawa 3 tas belanja di tangannya. Dia tidak berani mengangkat kepalanya karena takut Sean marah.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Sean.
__ADS_1
Yelena menjingkat kaget, kemudian menengadahkan kepalanya dan menatap Sean. Dia menggeleng pelan.
"Belum?"
"Perempuan gila itu!" gerutu nya.
Mengingat kejadian tadi pagi membuat emosinya menghampiri.
......................
Tadi pagi...
Bruk~
Sean dan Vivian saling bertabrakan di depan pintu. Vivian menatap Sean dengan tajam, kemudian menariknya menjauh dari pintu.
"Anak ini~ lama tidak berjumpa kamu mulai berani dengan ku ya?" ujar Sean sembari membenarkan jasnya yang habis ditarik oleh Vivian.
"Memang apa yang telah ku lakukan?" jawab Sean santai tanpa berdosa.
Sean menatap Vivian penasaran. Vivian memiliki hubungan keluarga dengan Allesa. Pastinya dia tau bagaimana kabarnya saat ini.
Tanpa rasa malu dan bersalah, dia bertanya.
"Apa kau berhubungan dengan Allesa? bagaimana kabarnya? kau pasti tau karena kalian masih satu keluarga.."
Vivian mengerutkan keningnya kesal. Jika bisa dia ingin menampar pria menjengkelkan di hadapannya itu. Sayangnya dia tidak bisa.
__ADS_1
"Aku kasihan dengan Yelena. Sangat sangat kasihan.." ujarnya sembari memandang rendah Sean.
"Apa kau tidak berpikir panjang? kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu tidak memikirkan masa depan Yelena. Dia datang kesini dengan harapan, dengan mimpi di tangannya. Namun 2 kali kau telah menghancurkannya! kamu menghancurkan harapannya, dan juga menghancurkan dirinya!"
"Kamu tidak harus mengurungnya di sisimu! kamu bisa memberikan dia pengobatan untuk mengembalikan ingatannya, dan mendapatkan hatinya saat dia ingat semuanya, saat dia menjadi dirinya sendiri. Bukan kebohongan seperti ini!"
"Lalu bagaimana jika Allesa kembali? apa yang harus aku lakukan?" ujar Sean.
"Aku hanya membutuhkan gadis itu untuk sementara. Agar aku tidak perlu repot-repot saat nanti Allesa kembali.." lanjutnya.
Sakit. Hati Vivian terasa sakit mendengar semua itu. Padahal bukan dirinya yang diperlakukan seperti itu. Tapi sebagai sesama wanita, dia merasakan rasa sakit itu.
Vivian tidak dapat membayangkan betapa hancurnya Yelena nanti. Dia mengusap rambutnya gusar.
"Apa kamu yakin dia akan kembali?" ujar Vivian.
"Aku akan menyumpahi mu! semoga kamu benar-benar jatuh cinta kepada Yelena! dan kamu akan menjadi gila saat kamu kehilangan dia karena kebohongan mu itu!" lanjutnya sambil menunjuk wajah Sean dengan telunjuknya.
Vivian berlalu dari hadapan Sean saat merasa cukup dengan apa yang ingin dia sampaikan. Namun sebuah pikiran terlintas di kepalanya dan membuatnya kembali menghadap Sean.
"Janji harus di tepati. Dan aku menjanjikan satu hal pada Yelena.."
Vivian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan nya dengan kasar. Dia mulai mengangkat kaki kanannya.
"Mau apa kamu?" tanya Sean yang mempunyai firasat buruk.
Yap. Tepat sasaran.
__ADS_1
"Aw~ dasar gadis gila!" pekik Sean.
Sesuai janjinya pada Yelena, dia menendang junior Sean.